TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Nama Dhiya Salsabila mendadak menjadi perbincangan di Provinsi Jambi. Perempuan yang akrab disapa Caca itu resmi terpilih sebagai finalis Putri Indonesia 2026, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Jambi di ajang kecantikan paling prestisius di Tanah Air.
Di balik selempang finalis yang kini disandangnya, tersimpan perjalanan panjang. Mimpi itu telah tumbuh sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat Caca kecil rutin menyaksikan ajang Putri Indonesia di layar televisi, terpukau oleh para perempuan yang tampil anggun, cerdas, dan percaya diri.
Namun, jalan menuju panggung nasional tidak dimulai dari Jambi. Saat melanjutkan pendidikan di Jakarta, Caca justru menempa diri lewat ajang Abang None Jakarta Barat. Dari sana, ia belajar tentang public speaking, kepemimpinan, hingga makna menjadi representasi daerah, bekal penting yang kelak membawanya melangkah lebih jauh.
Keputusan mengikuti seleksi Putri Indonesia 2026 diambil setelah proses panjang mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun mental. Diet ketat, latihan catwalk, penguatan wawasan, hingga pematangan advokasi dijalani dengan disiplin, demi satu tujuan: tampil bukan sekadar cantik, tetapi juga berdaya dan berdampak.
Kini, sebagai finalis Putri Indonesia 2026, Caca membawa nama Jambi ke tingkat nasional. Dengan latar belakang budaya Kerinci dan kepedulian terhadap isu sosial Suku Anak Dalam, ia tidak hanya membawa harapan untuk meraih prestasi, tetapi juga tekad untuk menghadirkan perubahan nyata bagi daerah yang diwakilinya.
Berikut wawancara Dhiya Salsabila, Finalis Putri Indonesia 2026 Perwakilan Jambi, bersama Host Tribun Jambi, M Ferry Fadly dan Tommy Kurniawan:
Tribun Jambi: Caca, selamat ya. Kamu satu-satunya finalis Putri Indonesia 2026 dari Jambi. Perasaan pertama kali lolos itu bagaimana?
Dhiya Salsabila: Terima kasih. Pastinya campur aduk, mas. Senang, terharu, dan bangga karena bisa mewakili Provinsi Jambi. Saya juga berterima kasih kepada Yayasan Putri Indonesia dan PT Mustika Ratu yang sudah memberi saya kepercayaan sebagai finalis tahun ini.
Tribun Jambi: Banyak yang penasaran, sejak kecil memang sudah bercita-cita jadi Putri Indonesia?
Dhiya Salsabila: Kalau dibilang dididik dari kecil sih tidak. Tapi dari kelas 4 SD saya sudah suka nonton Putri Indonesia di TV. Awalnya yang menarik itu ya kakak-kakaknya cantik, pakai gaun indah, mahkotanya bagus. Dari situ muncul mimpi, “suatu hari pengen kayak mereka”.
Tribun Jambi: Orang tua mendukung?
Dhiya Salsabila: Alhamdulillah, ayah saya sangat mendukung. Beliau selalu bilang, “Nanti kalau sudah besar, kamu coba ya.” Itu yang bikin saya berani bermimpi.
Tribun Jambi: Tapi kamu justru tidak memulai pageant di Jambi?
Dhiya Salsabila: Iya, saya kuliah di Jakarta. Awalnya saya ikut Abang None Jakarta Barat tahun 2020. Dari situ saya mulai benar-benar belajar public speaking, kepribadian, dan tanggung jawab sebagai duta.
Tribun Jambi: Itu pengalaman pertama terjun ke dunia pageant?
Dhiya Salsabila: Iya, dan jujur kaku banget. Ngomong masih belepotan. Tapi di karantina kami banyak belajar dari senior, banyak tugas, jadi mau tidak mau belajar sendiri. Dari situ mental saya terbentuk.
Tribun Jambi: Lalu kenapa baru 2026 ikut Putri Indonesia?
Dhiya Salsabila: Sebenarnya Putri Indonesia memang jadi tujuan setelah Abang None. Tapi waktu itu saya fokus kuliah, skripsi, dan bekerja. Baru tahun ini saya merasa siap secara mental dan fisik.
Tribun Jambi: Persiapannya berat?
Dhiya Salsabila: Cukup berat. Saya mulai dari diet, olahraga, sampai ke dokter gizi. Berat badan turun sekitar 8-9 kilogram. Selain itu latihan catwalk dan public speaking, karena Putri Indonesia bukan hanya soal penampilan.
Tribun Jambi: Seleksinya langsung di Jakarta?
Dhiya Salsabila: Iya, nasional di Jakarta. Hari pertama pengukuran dan interview singkat. Hari kedua deep interview dengan juri, termasuk membahas advokasi dan talent.
Tribun Jambi: Kamu membawa advokasi apa?
Dhiya Salsabila: Saya mengangkat isu Suku Anak Dalam. Saya sudah beberapa kali turun langsung, berkolaborasi dengan WARSI. Ternyata mereka sangat terbuka dan ingin belajar. Banyak stigma negatif di luar yang tidak benar.
Tribun Jambi: Sebagai orang Kerinci, budaya apa yang ingin kamu bawa?
Dhiya Salsabila: Saya ingin membawa budaya Kerinci, tapi tetap mewakili Provinsi Jambi secara keseluruhan. Budaya kita sangat kaya dan itu kekuatan besar di Putri Indonesia.
Tribun Jambi: Sekarang kegiatannya apa saja?
Dhiya Salsabila: Audiensi dengan dinas terkait, kegiatan sosial, dan media. Ke depan ada karantina Putri Indonesia sekitar April, itu masa penilaian utama.
Tribun Jambi: Harapan terbesar Caca?
Dhiya Salsabila: Selain memberikan yang terbaik untuk Jambi, saya ingin benar-benar menjalankan advokasi. Saya ingin punya dampak nyata, terutama untuk perempuan dan anak-anak di Jambi. Soal hasil, saya serahkan pada Tuhan.
Tribun Jambi: Terakhir, satu pesan untuk anak muda Jambi?
Dhiya Salsabila: Jangan takut mencoba. Konsisten dengan proses, maksimalkan potensi diri, dan biarkan Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. (Tribunjambi.com/Asto)
Baca juga: Kisah Lutfhi Anak Muda Jambi Berjuang Lawan Kanker hingga Jadi Kasubag Termuda di Indonesia
Baca juga: Kisah Farhan Ngeteng dari Jambi ke Raja Ampat Papua Berhari-hari, Tidak Naik Pesawat