TRIBUN-BALI.COM - Ribuan umat agama lain di Buleleng melakukan sudiwadani atau resmi memeluk agama Hindu dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut diungkapkan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng, I Gde Made Metera, Kamis (26/2).
Metera mengatakan, selama lima tahun terakhir tercatat lebih dari 2.000 umat yang melakukan sudiwadani di Buleleng. Pada tahun 2025 saja jumlahnya mencapai lebih dari 400 orang.
Kendati demikian, mereka yang telah resmi menjadi umat Hindu dinilai masih membutuhkan pendalaman ajaran agama. Baik itu tentang tattwa, susila, maupun pelaksanaan upacara yadnya.
"Ini menjadi tanggung jawab kami untuk memberikan pembinaan berkelanjutan bagi umat," ucapnya ditemui usai acara Loka Sabha IX PHDI Buleleng yang digelar di Kampus Unipas Singaraja.
Baca juga: WARGA Tangkas Berharap Dibangun Jembatan, Akses Jalan Kerap Diterjang Air Bah
Baca juga: PUKAU Penonton Negeri Sakura, Penampilan Jegog Jembrana di Jepang Setelah 10 Tahun Puasa
Metera yang kembali terpilih sebagai Ketua PHDI Buleleng periode 2026-2031. Dalam kepengurusan periode ini, Metera didampingi I Nyoman Suardika sebagai Sekretaris dan I Made Lestariana sebagai Bendahara.
Pada masa kepemimpinan di periode ketiga ini, Metera menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan program kerja lima tahun sebelumnya, sekaligus menambahkan dua program prioritas yang dinilai mendesak, yakni pembinaan darmika dan pembinaan generasi muda.
Program pembinaan darmika akan difokuskan pada penguatan pemahaman ajaran Hindu serta pelatihan dasar pelaksanaan upacara keagamaan agar umat mampu menjalankan kewajiban agamanya secara mandiri.
Selain itu, PHDI Buleleng juga akan memperkuat pembinaan generasi muda, khususnya dalam upaya mencegah perkawinan usia dini yang masih ditemukan di lapangan. Metera mengungkapkan, sejumlah kasus pernikahan dini terjadi karena faktor pergaulan bebas hingga kehamilan di luar nikah yang akhirnya memerlukan dispensasi pengadilan.
"Ranah regulasi memang di pemerintah daerah, tetapi dari sisi agama kami berkewajiban memberikan pemahaman dan pembinaan moral kepada generasi muda agar memahami ajaran agama dengan benar," tegasnya.
PHDI Buleleng berencana bersinergi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, serta forum lintas agama dalam pelaksanaan program tersebut. Pembinaan pranikah dinilai penting tidak hanya untuk mencegah perkawinan dini, tetapi juga sebagai langkah preventif terhadap risiko stunting akibat kehamilan pada usia yang belum matang.
Sementara itu, Ketua PHDI Provinsi Bali I Nyoman Kenak menekankan agar kepengurusan PHDI Buleleng ke depan tidak bersikap pasif. Ia mengingatkan pengurus untuk aktif turun ke lapangan membina umat hingga ke pelosok.
"Pengurus jangan hanya duduk di kantor. Harus jemput bola, kerja keras, menjadi pengayom umat. Taat pada dharmaning negara dan dharmaning agama," tegasnya.
Kenak juga mengingatkan agar pengurus tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dapat memecah belah umat. Menurutnya, pimpinan PHDI harus menjadi penyejuk dan pemersatu seluruh umat Hindu di Buleleng. (mer)
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyebut Loka Sabha PHDI sebagai forum strategis dalam memperkuat pembinaan umat di tengah tantangan era digital dan derasnya arus informasi media sosial.
"Banyak umat yang telah melaksanakan sudiwadani, tetapi pembinaan lanjutan harus diperkuat. Jangan sampai setelah resmi menjadi umat Hindu, mereka belum memahami dasar tattwa, susila, dan upacara," ujarnya.
Bupati berharap kepengurusan PHDI Buleleng periode 2026-2031 dapat benar-benar ngayah dan mengabdi untuk membimbing umat agar taat menjalankan dharma agama dan dharma negara. (mer)