WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Sebuah rumah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, berubah menjadi saksi bisu tragedi keluarga yang memilukan.
Seorang remaja berinisial A (15) tega mengakhiri hidup kakak kandungnya sendiri, MAR, menggunakan sebuah palu pada Selasa (24/2/2026).
A menghantamkan palu ke kepala kakaknya MAR hingga tak sadarkan diri.
Baca juga: Pelaku Penganiayaan 3 Karyawan SPBU Cipinang Muara Jaktim Pinjam Pelat Palsu untuk Isi Pertalite
Akibatnya nyawa MAR tak tertolong akibat luka berat yang diderita.
Bukan karena dendam kesumat yang berakar lama, apa yang dilakukan A adalah sebuah bentuk pembelaan pada sang ibu, yang salah jalan.
A merasa tak tega melihat sang ibu, NA, terus-menerus ditekan oleh tuntutan uang dari sang kakak di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang goyah.
NA dengan mata sembab dan suara bergetar, menceritakan bahwa keretakan rumah tangga menjadi akar dari perubahan drastis perilaku anak-anaknya.
Pasca-perceraian, sang mantan suami yang memilih menikah lagi seolah menghilang ditelan bumi.
Bahkan memblokir nomor telepon anak-anak kandungnya sendiri selama tujuh bulan terakhir.
Himpitan ekonomi mulai terasa ketika MAR, sang kakak, membutuhkan biaya besar untuk keperluan kuliahnya.
Di sisi lain, sang ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah tanpa dukungan finansial dari mantan suaminya.
"Dia (A) merasa kasihan kepada ibunya, kok uang terus yang ditanya. Kakaknya minta uang terus karena biaya kuliah memang besar. Akhirnya anak saya yang kecil itu gelap mata," tutur NA saat ditemui di kawasan Kelapa Gading, Kamis (26/2/2026) malam.
Duka Ibu: Pesan Penting Soal 'Co-Parenting'
A yang selama ini dikenal sebagai anak yang berperilaku baik, diduga mengalami trauma psikis akibat perceraian orang tuanya.
NA menduga A bertindak impulsif karena tidak sanggup lagi melihat ibunya menderita sendirian menanggung beban hidup.
Dalam balutan duka yang mendalam, NA memberikan pesan menyentuh kepada para orang tua di Indonesia yang sedang menghadapi perceraian.
Baca juga: Keluarga Ayah Tiri Tak Terlibat, Kasus Pembunuhan Alvaro Kiano Resmi Dihentikan
Ia berharap tragedi yang menimpa keluarganya bisa menjadi pelajaran pahit bagi semua pihak.
"Saya ingin mengedukasi mereka yang bercerai. Ada mantan istri, ada mantan suami, tapi tidak ada mantan anak. Kita harus memberikan kasih sayang penuh kepada mereka. Co-parenting itu sangat penting agar psikis anak tidak terganggu," tegasnya.
Kini, MAR telah tiada, sementara A harus berhadapan dengan konsekuensi hukum di usia yang sangat belia.
Sebuah pengingat keras bahwa luka dari perceraian seringkali yang paling dalam dirasakan oleh mereka yang tak berdosa, yakni anak-anak.
Kasus ini juga bisa menjadi pengingat bahwa konflik rumah tangga yang tak terselesaikan bisa berdampak panjang pada kondisi psikologis anak.
Ketika komunikasi terputus dan beban ekonomi menumpuk, luka batin bisa berubah menjadi ledakan emosi yang tak terkendali. (m26)