TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Sebuah bangunan bergaya arsitektur China berdiri megah di Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari KM 8, tepatnya di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
Sekilas, bangunan tersebut sangat mirip seperti kelenteng yang menjadi tempat ibadah bagi warga keturunan Tionghoa.
Bangunan tersebut didominasi oleh warna merah terang dan dipenuhi dengan berbagai ornamen serta lampion khas Tionghoa. Namun rupanya, bangunan megah tersebut adalah sebuah tempat ibadah umat Islam yang diberi nama Masjid Muhammad Cheng Ho.
Baca juga: Ngabuburit Produktif di Masjid Soedirman Purwokerto:Sajikan Kajian Tematik dan 450 Porsi Buka Gratis
Bagian atap bangunan yang menyerupai pagoda dibentuk memiliki tiga lapis sebagai bentuk akulturasi yang indah dengan budaya Jawa.
Jendela yang menyerupai jaring sarang laba-laba yang sering menjadi simbol keberuntungan orang Tionghoa, sebenarnya merupakan ukiran kaligrafi Arab. Kemudian, di papan nama Masjid Muhammad Cheng Ho juga disematkan tulisan menggunakan aksara Hanzi.
Diketahui, masjid berdesain unik dan sarat makna tersebut saat ini sudah genap berusia 15 tahun.
"Masjid ini bagus dan unik. Memiliki arsitektur bergaya China," kata Dwi Widodo (39), seorang warga pelintas yang mampir menunaikan salat Zuhur kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (26/2/2026).
Dwi mengatakan, ia sudah beberapa kali sengaja mampir untuk menunaikan ibadah di Masjid Muhammad Cheng Ho. Menurutnya, selain bentuknya yang unik, suasana di bagian dalam masjid juga terasa sangat adem.
"Di sini nyaman, kemudian juga bersih. Membuat jadi betah berlama-lama," ungkapnya memuji.
Ketua Takmir Masjid, Untung Supardjo (83) bercerita, prakarsa pertama berdirinya Masjid Muhammad Cheng Ho ini datang dari seorang warga keturunan Tionghoa yang memutuskan menjadi mualaf.
Pria tersebut adalah warga asli Purbalingga bernama Herry Susetyo, atau yang memiliki nama lahir Thio Hwa Kong.
Pada tahun 2003, Herry menjadi mualaf sekaligus didapuk sebagai Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Purbalingga.
"Akhir 2003 dia datang ke sini, menyampaikan keinginan lamanya, setelah masuk Islam mau ngapain, masa tidak membawa misi," kata Untung yang juga merupakan salah satu perintis Masjid Muhammad Cheng Ho.
Untung mengatakan, suatu malam, Herry bermimpi mendapatkan petuah dari seorang sesepuh China yang hidup di era penjajahan Belanda, bernama KH Tan Chi Min. Dalam mimpinya, Herry mendapatkan amanat agar membangun masjid dengan corak khas China.
"Saat itu dia tidak punya kemampuan, tapi dia datang ke saya. Akhirnya saat itu dibuat perencanaan pembangunan masjid," ungkapnya.
Untung melanjutkan, pembangunan resmi dimulai saat momen peletakan batu pertama pada 20 Maret 2005 silam.
Momen tersebut bertepatan dengan tanggal 20 Safar 1426 Hijriah dan 38 hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2556. Tetapi kemudian, laju pembangunan sempat terhenti akibat kurangnya ketersediaan anggaran pada tahun 2007.
"Tahun 2010 dilanjutkan lagi, atas jasa seorang muslim dermawan dari Pekalongan," ujarnya mengenang masa sulit tersebut.
Menurut Untung, muslim dermawan yang ikhlas membantu kelanjutan pembangunan itu bernama H. Achmad Zaky Arslan. Pengusaha asal Pekalongan tersebut sering bolak-balik melintasi jalur Purbalingga karena urusan bisnisnya.
Suatu ketika, ia berhenti di depan proyek masjid dan bertanya kepada warga gedung tersebut akan dibangun apa, sekitar tahun 2009.
"Dua kali pertemuan langsung deal untuk melanjutkan pembangunan. Alhamdulillah, kurang lebih setahun masjid jadi dan diresmikan tahun 2011," jelasnya bersyukur.
Untung mengatakan, daftar calon nama saat masjid tersebut hampir jadi sebenarnya sangat banyak.
Bahkan, sempat muncul usulan untuk memasukkan unsur nama sang donatur asal Pekalongan tersebut. Tetapi atas saran bijak dari H. Achmad Zaky Arslan, nama masjid tetap difokuskan pada tokoh muslim keturunan Tionghoa.
"Akhirnya kami mengambil tokoh legendaris keturunan Tionghoa yang juga seorang pelaut, yakni Laksamana Cheng Ho," katanya.
Untung menambahkan, saat ini Masjid Muhammad Cheng Ho telah menjelma menjadi tempat ibadah yang ramai dikunjungi masyarakat luas dari berbagai daerah. Segala kegiatan keagamaan di dalam masjid pun berjalan dengan sangat makmur.
Saat memasuki bulan suci Ramadan, terdapat berbagai kegiatan syiar, mulai dari pengajian, tadarus Al-Qur'an, hingga pembagian takjil gratis bagi para musafir.
"Kami juga menggandeng organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk turut mengisi kegiatan ceramah dan pengajian," ungkapnya memungkasi. (fba)