TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Masjid Muhammad Cheng Ho di Kabupaten Purbalingga pada awalnya diprakarsai pembangunannya oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Purbalingga.
Pemrakarsanya bernama Thio Hwa Kong atau Herry Susetyo, seorang mualaf keturunan Tionghoa setempat.
Tetapi, di balik kemegahan bangunan berarsitektur China yang kini berdiri kokoh tersebut, terdapat peran besar seorang muslim dermawan dari Kota Pekalongan.
Baca juga: Sejarah Masjid Cheng Ho Purbalingga, Bukti Nyata Impian Mualaf
Ia adalah almarhum H. Achmad Zaky Arslan Djunaid.
Lalu, siapakah sosok dermawan penyambung mimpi tersebut?
Ketua Takmir Masjid Cheng Ho Purbalingga, Untung Supardjo (83) mengatakan, kedatangan H. Achmad Zaky Arslan Djunaid untuk membantu pembangunan Masjid Muhammad Cheng Ho murni merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT.
Masjid yang mulai diletakkan batu pertamanya pada tahun 2005 itu sempat mandek atau mangkrak di tahun 2007 karena ketiadaan anggaran dari panitia.
Tetapi berkat bantuan finansial yang kuat, proyek ini dilanjutkan kembali pada tahun 2010 dan dinyatakan selesai sepenuhnya pada tahun 2011.
"PITI Purbalingga tidak ada kemampuan untuk bisa melanjutkan, akhirnya mandek di tengah jalan. Untung saja ada Pak Zaky," ujarnya penuh syukur kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (26/2/2026).
Untung menceritakan, H. Achmad Zaky Arslan Djunaid merupakan sosok pengusaha yang sangat sukses namun rendah hati.
Di Kota Pekalongan, ia dikenal luas sebagai tokoh kunci sekaligus pemilik Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) Jasa serta Rumah Sakit (RS) HA Zaky Djunaid.
Bahkan, dedikasi dan jiwa kepemimpinannya mengalir deras kepada anak-anaknya yang sukses mendapat kepercayaan masyarakat untuk menjadi kepala daerah.
"Anak dari Pak Zaky juga merupakan Wali Kota Pekalongan," ungkap Untung.
Sebagai informasi, putra beliau yakni almarhum H. Achmad Alf Arslan Djunaid pernah menjabat sebagai Wali Kota Pekalongan periode 2016-2021. Kemudian, tongkat estafet kepemimpinan tersebut dilanjutkan oleh putranya yang lain, H.A. Afzan Arslan Djunaid selama dua periode, yakni pada 2021-2024 dan 2024-2029.
Menurut penuturan Untung, setelah mendapat bantuan pendanaan penuh, proses pembangunan masjid yang sempat terbengkalai itu akhirnya bisa diselesaikan hanya dalam kurun waktu 10 hingga 12 bulan saja.
Ia memperkirakan, nominal bantuan yang dikeluarkan secara pribadi oleh Pak Zaky kala itu mencapai angka sekitar Rp 4 miliar.
"Jadi pembangunan bergerak cepat. Setelah itu peresmian mengundang 5.000 orang, itu juga ditanggung semua oleh Pak Zaky," jelasnya mengenang kedermawanan sang tokoh. (fba)