Kondisi Asli Menu MBG di HST Kalsel yang Tuai Reaksi Keras Warga, Roti Menghitam dan Telur Bau Busuk
Edi Nugroho February 27, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kejanggalan menu Makan Bergizi Gratis (MBG)  di HST Kalsel yang tuai reaksi keras warga, roti mengitam dan telur bau.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah kian menjadi sorotan tajam dari masyarakat umum. 

Setelah sebelumnya viral menu berupa roti, susu, dan pisang mentah, kini muncul temuan yang lebih memprihatinkan yakni roti yang sudah menghitam, telur diduga busuk, hingga paket makanan tanpa minuman.

Keluhan tersebut disampaikan sejumlah orang tua dan pelajar yang kemudian membagikan kondisi makanan melalui media sosial. 

Baca juga: Dishub Kalsel Ingin Aktifkan AKDP Gantikan L300, Akan Terintegrasi Trans Banjarbakula

Baca juga: Lebih 1.000 Kendaraan Dinas di Pemkab Banjar Tunggak Pajak, Samsat Minta SKPD Segera Merespons 

Unggahan itu langsung menuai reaksi keras dari masyarakat yang mempertanyakan kualitas serta pengawasan dari pengelola Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG).

Korwil SPPG HST, Sadillah saat diwawancara awak media.
Korwil SPPG HST, Sadillah saat diwawancara awak media. (Banjarmasin Post/Stanislaus Sene)

“Anak kami dapat roti yang sudah menghitam, telurnya bau. Bahkan ada yang tidak dapat minuman sama sekali. Ini kan untuk anak sekolah,” ujar salah satu orang tua siswa (Tak ingin disebutkan namanya).

Tak hanya soal menu, temuan tersebut semakin memperkuat sorotan terhadap 11 unit SPPG yang telah beroperasi dan tersebar di sejumlah kecamatan di HST. 

Publik menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sebagai kasus kecil atau insidental, melainkan indikasi lemahnya kontrol mutu dan pengawasan distribusi makanan.

Dengan adanya roti menghitam dan telur yang diduga busuk, masyarakat mempertanyakan standar kelayakan konsumsi serta prosedur pengecekan sebelum makanan dibagikan kepada siswa. 

Terlebih, program ini disebut memiliki anggaran hingga Rp15.000 per porsi, sehingga muncul pertanyaan tentang kesesuaian antara biaya dan kualitas yang diterima.

Sikap tersebut semakin memicu desakan publik agar ada klarifikasi resmi serta langkah konkret perbaikan.

Sejumlah warga meminta adanya inspeksi ke dapur-dapur SPPG guna memastikan standar higienitas dan keamanan pangan benar-benar diterapkan. 

Mereka khawatir, jika tidak segera ditangani, persoalan ini dapat berdampak pada kesehatan anak-anak sekolah.

Masyarakat menilai bahwa program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi generasi muda tidak boleh tercoreng oleh lemahnya pengawasan dan manajemen. 

"Evaluasi menyeluruh, transparansi anggaran serta pertanggungjawaban pengelola dinilai wajib guna memulihkan kepercayaan publik terhadap program pemerintah pusat ini," ucap warga lain di Barabai. 

SPPG HST Buka Suara

Setelah menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah menuai keluhan dan viral di media sosial, pihak pengelola akhirnya angkat bicara.

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG HST, Sadillah, saat dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id, kamis, (26/02/2026) menyatakan pihaknya telah menerima berbagai informasi dan masukan dari masyarakat terkait kualitas makanan yang dibagikan kepada pelajar.

“Siap monitor. Terima kasih informasinya. Nanti ada penyampaian setelah kami rakor. Terima kasih,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp. 

Pernyataan tersebut menjadi respons awal setelah sebelumnya pihak pengelola wilayah belum memberikan keterangan atas keluhan yang berkembang, mulai dari roti menghitam, telur diduga busuk, hingga paket makanan tanpa minuman.

Sa’dillah memastikan pihaknya akan melakukan monitoring serta menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk membahas persoalan yang mencuat. Namun hingga kini belum dijelaskan secara rinci langkah teknis evaluasi yang akan dilakukan terhadap 11 unit SPPG yang beroperasi di HST.

Masyarakat berharap rakor tersebut menghasilkan langkah konkret, terutama dalam hal pengawasan kualitas bahan makanan, standar kelayakan konsumsi, serta transparansi pengelolaan anggaran. 

Publik juga menantikan penyampaian resmi hasil evaluasi sebagai bentuk tanggung jawab kepada orang tua dan pelajar penerima manfaat program.

Polemik ini menjadi perhatian luas karena program MBG menyasar kebutuhan gizi anak sekolah, sehingga kualitas dan keamanan pangan dinilai tidak boleh diabaikan.

Minta Maaf

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Sadillah akhirnya buka suara menyusul viralnya keluhan masyarakat terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak layak konsumsi.

Permohonan maaf disampaikan secara terbuka kepada masyarakat atas adanya makanan yang ditemukan dalam kondisi kurang baik.

Pihak SPPG mengakui terdapat keteledoran dalam proses distribusi dan pengawasan di lapangan.

“Saya secara pribadi dan atas nama perwakilan SPPG di Kabupaten Hulu Sungai Tengah meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat. Kami menyadari ada menu yang menurut sebagian belum memenuhi standar,” ujarnya, Kamis, (26/02/2026).

Sadillah menjelaskan, temuan seperti roti menghitam dan telur yang rusak disebut sebagai kesalahan teknis yang terjadi saat produksi maupun distribusi. Laporan kejadian tersebut telah disampaikan secara berjenjang ke pemerintah pusat untuk evaluasi dan penentuan sanksi.

“Sudah ada feedback. Kita tinggal menunggu beberapa hari ke depan terkait sanksi atas keteledoran ini,” tegasnya.

Selain menyampaikan klarifikasi, pihak SPPG juga membeberkan struktur anggaran MBG yang selama ini menjadi sorotan publik. 

Dari total Rp15.000 per porsi makan besar, tidak seluruhnya digunakan untuk bahan baku.
Rinciannya, Rp3.000 dialokasikan untuk operasional dapur seperti listrik, air dan distribusi, Rp2.000 untuk biaya sewa mitra, sehingga tersisa Rp10.000 untuk bahan baku makanan.

Sementara untuk porsi kecil (kelas 3 SD ke bawah), total anggaran Rp13.000 dengan pembagian Rp3.000 operasional, Rp2.000 sewa mitra, dan Rp8.000 bahan baku.

Menanggapi isu dugaan markup, Ia juga menegaskan akan ada tindakan disiplin tegas jika ditemukan pelanggaran berdasarkan bukti yang sah.

“Kalau ditemukan bukti valid, tentu ada tahapan sanksi mulai dari peringatan hingga penghentian sementara operasional,” katanya.

Untuk memperketat pengawasan, SPPG HST juga telah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah guna melakukan pendampingan terhadap program strategis nasional tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi agar program ini sama-sama dikawal dan dievaluasi,” ungkapnya.

Sebagai langkah perbaikan teknis, pihaknya kini mewajibkan penggunaan kemasan lebih aman seperti kotak dan tas distribusi khusus agar makanan, terutama telur, tidak rusak selama pengantaran ke sekolah.

Korwil memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia pun meminta masyarakat dan pihak sekolah terus memberikan masukan demi perbaikan kualitas layanan MBG di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

“Kami terbuka terhadap kritik. Ini menjadi bahan evaluasi agar pelayanan ke depan lebih baik dan sesuai standar,” pungkasnya. 

Wabup HST Minta Jangan Pakai Telur

Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), H Gusti Rosyadi Elmi, meminta agar menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan tidak menggunakan telur sebagai lauk utama. Kamis, (26/02/2026). 

Ia menegaskan, khusus selama bulan puasa, telur ditiadakan dari seluruh menu MBG dan diganti dengan variasi lauk lainnya agar tidak hanya telur yang disajikan setiap hari. Menu diminta lebih beragam dengan tetap memperhatikan nilai gizi bagi para penerima manfaat.

Wabup juga mengingatkan, apabila tetap memaksakan penggunaan telur, maka operasional SPPG bisa saja diliburkan sementara.

“Telur ini salah satu penyumbang inflasi. Jadi selama puasa jangan pakai telur dulu di menu MBG,” tegasnya.

Selain itu, Wabup meminta seluruh SPPG agar berbelanja bahan baku di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kestabilan pasokan sekaligus mendukung perputaran ekonomi masyarakat lokal.

“Kita ingin program ini tetap berjalan baik dan juga memberi dampak bagi masyarakat daerah sendiri,” ujarnya.

Ia pun meminta pengelola SPPG untuk lebih kreatif dalam menyusun menu alternatif yang tetap memenuhi standar gizi. Variasi lauk seperti ikan, ayam, tahu, tempe, maupun sumber protein lainnya dapat menjadi pilihan selama bulan puasa.

Wabup berharap kebijakan ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus memastikan program MBG tetap berjalan lancar, tepat sasaran, dan bermanfaat bagi para penerima. 

Tips Aman Konsumsi MBG:

Konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang aman menjadi sorotan penting, terutama dengan adanya laporan kasus keracunan makanan. 

Berdasarkan panduan dari BPOM, pakar mikrobiologi pangan, dan standar operasional dapur (SPPG) yang dikutip Kompas, berikut adalah tips aman konsumsi MBG : 

Cek Kondisi Kemasan dan Aroma (Fisik)
        
Pastikan Segel Utuh: Periksa apakah kemasan makanan (box/box) masih tertutup rapat dan tersegel.
        
Cium Aroma: Sebelum dimakan, cium aroma makanan. Jika tercium bau asam, tengik, atau tidak sedap (tidak seperti aroma makanan segar), segera jangan dimakan.
        
Periksa Tekstur: Waspada jika sayuran berlendir atau lauk pauk terasa berlendir/tidak segar.
    
Perhatikan Waktu Konsumsi (Maksimal 2 Jam)
        
Makanan yang disediakan dalam program MBG disarankan untuk segera disantap, idealnya maksimal 2 jam setelah dimasak.
       
Jangan menunda makan jika makanan sudah didistribusikan ke meja atau kelas.
   
 Higiene Sebelum Makan (Cuci Tangan)
       
 Pastikan anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum membuka dan memakan makanan MBG untuk menghindari kontaminasi bakteri dari tangan.
   
 Simpan dengan Benar Jika Tidak Langsung Dimakan
        
Jika makanan tidak langsung disantap (misalnya untuk makan malam), segera simpan di dalam lemari es (kulkas) atau chiller, bukan didiamkan di suhu ruang.
       
 Pastikan makanan dipanaskan kembali hingga suhu >100 derajat Celcius sebelum dikonsumsi ulang.
    
Periksa Tanda-Tanda Keracunan
       
 Segera hentikan konsumsi jika terasa mual, pusing, sakit perut, atau muntah setelah menyantap makanan tersebut.
       
 Pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang dengan minum air putih atau oralit sedikit demi sedikit.
  
Laporkan Jika Temukan Kejanggalan
       
 Jika menemukan makanan dengan kualitas buruk (misalnya lauk mentah, sayur busuk), laporkan segera kepada guru atau pengawas sekolah untuk ditindaklanjuti oleh pihak dapur umum. 

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini juga memperketat prosedur keamanan pangan dengan memastikan standar higienis dan sanitasi di setiap Dapur/SPPG.
 (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene/kompas.com). 

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.