AS Tekan Iran di Jenewa: Tiga Situs Nuklir Diminta Dibongkar, Uranium Dipulangkan ke Amerika
Ansari Hasyim February 27, 2026 01:03 AM

SERAMBINEWS.COM - Putaran terbaru negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, Kamis lalu, berlangsung dalam suasana tegang. 

Harian ternama AS, The Wall Street Journal, melaporkan bahwa Washington datang dengan daftar tuntutan keras yang dinilai bakal sulit diterima Teheran.

Utusan Presiden AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, disebut membawa pesan tegas: Iran harus membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya—Fordow, Natanz, dan Isfahan—serta mengirim seluruh sisa stok uranium yang telah diperkaya ke Amerika Serikat.

Tiga Situs Nuklir Jadi Sorotan

1. Fordow

Fasilitas bawah tanah yang berada dekat Kota Qom ini dikenal sangat terlindungi dan menjadi salah satu pusat pengayaan uranium Iran.

2. Natanz

Natanz merupakan fasilitas pengayaan terbesar Iran dan beberapa kali dilaporkan mengalami sabotase maupun serangan siber.

3. Isfahan

Situs ini berperan dalam konversi uranium sebelum diproses lebih lanjut di fasilitas pengayaan.

Tekanan Politik Internal AS
Menurut laporan tersebut, tuntutan keras ini tidak lepas dari tekanan kelompok “elang” di pemerintahan AS dan Partai Republik di Kongres. Mereka ingin memastikan tak ada kesepakatan yang dianggap “lunak” seperti perjanjian era Barack Obama.

Perjanjian lama itu dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang kemudian ditarik secara sepihak oleh Donald Trump pada masa jabatan pertamanya, disertai pemberlakuan kembali sanksi berat terhadap Iran.

Kini, Washington disebut ingin memastikan setiap kesepakatan baru tidak memiliki batas waktu yang berakhir secara bertahap seperti JCPOA.

Ancaman Militer di Balik Meja Perundingan

Sehari sebelum negosiasi, Presiden Trump dalam pidato kenegaraannya kembali menuding Iran terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menjangkau AS—tuduhan yang dibantah keras oleh Teheran.

Trump bahkan mengancam opsi militer jika kesepakatan gagal dicapai, termasuk pengerahan dua kapal induk, jet tempur canggih, kapal perusak, dan sistem pertahanan rudal di sekitar kawasan Iran.

Sebaliknya, Iran memperingatkan bahwa serangan apa pun—meski terbatas—akan dianggap sebagai pemicu respons besar-besaran.

Iran Tawarkan Kompromi

Di tengah ketegangan, Iran tetap menegaskan haknya memperkaya uranium. Namun Teheran disebut menawarkan beberapa opsi kompromi, seperti:

Menurunkan tingkat pengayaan dari 60 persen menjadi 1,5 % .

Menangguhkan pengayaan selama beberapa tahun.
Membentuk konsorsium Arab-Iran berbasis di Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa saat ini Iran tidak melakukan pengayaan uranium, dan dua situs utamanya telah rusak parah akibat serangan Israel dan Amerika dalam perang 12 hari pada Juni lalu.

 
“Pengayaan Nol” dan Tekanan Partai Republik

Washington tetap bersikeras pada prinsip “zero enrichment” atau pengayaan nol. Meski demikian, tim negosiasi AS disebut mungkin membuka peluang terbatas bagi Iran untuk mengaktifkan kembali reaktor riset di Teheran dengan tingkat pengayaan sangat rendah untuk kebutuhan medis.

Namun wacana ini langsung menuai penolakan keras dari kalangan Republik. Senator Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, bahkan menyatakan:

“Jika ada pemikiran membiarkan Iran sedikit memperkaya uranium demi menyelamatkan muka, biarkan itu masuk neraka.”
 
Sanksi dan Ekonomi Iran

AS disebut hanya menawarkan pelonggaran sanksi secara terbatas. Ini menjadi titik gesekan baru karena Iran menginginkan keringanan luas untuk menopang ekonominya yang goyah—yang sebelumnya memicu gelombang protes besar.

Washington ingin memastikan Iran patuh dalam jangka panjang sebelum mempertimbangkan perluasan keringanan sanksi.

 Fokus Nuklir, Rudal Jadi “Masalah Besar”

Meski AS ingin membahas program rudal dan dukungan Iran terhadap sekutu regionalnya, pembicaraan di Jenewa saat ini difokuskan pada isu nuklir.

Rubio menegaskan bahwa Iran “jelas berusaha memiliki rudal balistik antarbenua”, dan penolakan Teheran untuk membahas isu tersebut disebut sebagai “masalah yang sangat besar”.

Negosiasi di Ujung Tanduk

Dengan tuntutan keras Washington, tekanan politik domestik AS, serta sikap defensif Teheran, perundingan Jenewa kini berada di persimpangan kritis: diplomasi atau eskalasi militer.

Dunia menanti apakah ini akan menjadi awal kompromi baru, atau justru babak baru ketegangan di Timur Tengah?(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.