Laporan Wartawan Serambi Indonesia Aulia Prasetya | Sabang
SERAMBINEWS.COM, SABANG - Rencana pengoperasian kapal induk Giuseppe Garibaldi oleh TNI Angkatan Laut membuka babak baru transformasi kekuatan maritim Indonesia.
Namun di balik ambisi menuju kekuatan blue water navy, muncul pekerjaan rumah besar yakni kesiapan infrastruktur pangkalan dan dukungan logistik untuk kapal berbobot sekitar 13 ribu ton tersebut.
Pengoperasian kapal induk tidak hanya soal alutsista, tetapi juga menyangkut kesiapan dermaga, kedalaman laut yang memadai, suplai logistik, hingga dukungan bagi ratusan personel.
Kapal ini diperkirakan membawa lebih dari 500 kru inti, belum termasuk kru penerbangan dan sistem aviasi. Artinya, setiap kali bersandar, dibutuhkan dukungan logistik berskala besar dan berkelanjutan.
TNI AL sendiri mulai memetakan sejumlah pangkalan militer dan menjajaki koordinasi dengan pelabuhan sipil guna memastikan kapal tetap mendapat dukungan optimal, termasuk saat berada di luar pangkalan utama.
Melihat peluang itu, DPRK Sabang menawarkan Pelabuhan CT milik BPKS sebagai opsi dermaga sandar rutin.
Baca juga: Fakta Farradhila Ayu Mahasiswi UIN Suska Riau Dibacok Saat Ujian Skripsi, Pelaku Emosi Cinta Ditolak
Wakil Ketua DPRK Sabang, H Albina Arrahman, menyebut Sabang memiliki keunggulan geografis dan teknis yang relevan untuk mendukung operasional kapal induk.
“Teluk Sabang memiliki kedalaman laut yang aman untuk kapal besar.
Ditambah lagi posisi Sabang berada di pintu gerbang barat Indonesia dan di jalur strategis Selat Malaka menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Ia menilai kehadiran kapal induk tidak hanya berdampak pada aspek pertahanan, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian daerah.
Dengan jumlah personel lebih dari 500 orang, kebutuhan logistik, bahan bakar, perawatan, hingga akomodasi akan menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan bagi Sabang.
“Setiap sandar rutin akan membutuhkan suplai besar. UMKM, penyedia jasa, hingga sektor perhotelan dan logistik tentu akan terdampak positif,” tambahnya.
Baca juga: Sinyal Perang Menguat, AS Tarik Kapal Perang dari Bahrain
H Albina menilai, jika Sabang dipilih sebagai titik sandar rutin, maka perlu disiapkan langkah strategis sejak dini, mulai dari peningkatan fasilitas pelabuhan, konektivitas distribusi logistik, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Secara nasional, akuisisi kapal induk ini menjadi sinyal transformasi TNI AL menuju kekuatan laut yang mampu beroperasi lintas samudra.
Kepala Staf Angkatan Laut, Muhammad Ali sebelumnya menargetkan kapal tersebut sudah masuk jajaran armada tempur sebelum HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026.
Prosesnya berjalan paralel dengan negosiasi hibah pemerintah Indonesia dan Italia.
Meski berstatus hibah G2G, Kementerian Pertahanan tetap menyiapkan anggaran untuk retrofit atau penyesuaian sistem agar sesuai dengan kebutuhan operasi TNI AL.
Albina memiliki latar belakang akademik di bidang arsitektur dan penataan kota.
Baca juga: Rusia Luncurkan 420 Drone dan 39 Rudal ke Ukraina, Infrastruktur Energi Lumpuh, Puluhan Terluka
Ia merupakan alumnus Universitas Syiah Kuala dengan keilmuan arsitektur, pernah menjabat sebagai Presidium Nasional Mahasiswa Arsitektur Indonesia pada 2006, serta menyelesaikan pendidikan Magister (S2) di bidang manajemen perkotaan.
Ia juga pernah menjadi Ketua Umum IPPEMAS periode 2004 - 2006.
Dengan latar belakang tersebut, Albina menilai kesiapan infrastruktur pelabuhan harus dilihat tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dalam konteks perencanaan tata ruang dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan.
Ia mengajak Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat untuk bersama - sama mendorong Sabang menjadi bagian strategis dalam peta pertahanan maritim nasional.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Jika Sabang siap secara infrastruktur dan tata kelola, maka kita harus berani menawarkan diri.
Ini bukan hanya soal kapal perang, tapi masa depan ekonomi dan posisi strategis Sabang dalam sistem pertahanan nasional,” tutupnya. (*)