Pernah merasa ingin makan camilan manis saat sedang stres, sedih, atau marah? Atau tiba-tiba lapar padahal baru saja makan? Bisa jadi itu bukan lapar fisik, melainkan emotional eating atau lapar emosional.
Melansir dari Healthline (25/2), emotional eating adalah kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan asupan untuk energi.
Banyak orang tanpa sadar menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi stres, rasa bosan, kesepian, bahkan kelelahan.
Biasanya, lapar fisik datang secara bertahap dan bisa ditunda. Namun berbeda dengan lapar emosional dimana hal ini cenderung muncul tiba-tiba, terasa mendesak, dan sering kali menginginkan jenis makanan tertentu. Makanan yang diinginkan biasanya tinggi gula, lemak, atau karbohidrat, seperti cokelat, gorengan, atau makanan cepat saji.
Kenapa ini bisa terjadi?
Saat stress tubuh melepaskan hormon yang meningkatkan nafsu makan. Foto: Getty Images/Doucefleur
|
Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang bisa meningkatkan nafsu makan. Selain itu, makanan manis dan berlemak dapat merangsang pelepasan hormon bahagia, seperti dopamin, sehingga memberi rasa nyaman sementara. Masalahnya, efek ini tidak bertahan lama.
Emotional eating juga bisa menjadi kebiasaan jangka panjang jika tidak disadari. Misalnya, setiap kali merasa lelah setelah bekerja, seseorang selalu menghadiahi diri dengan makanan tertentu. Lama-kelamaan, otak akan mengaitkan emosi tersebut dengan kebutuhan makan, meskipun sebenarnya tubuh tidak lapar.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengatasi emotional eating ini. Foto: shutterstock
|
Langkah pertama adalah belajar membedakan lapar fisik dan lapar emosional. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar lapar, atau hanya sedang stres. Jika baru saja makan tetapi ingin ngemil karena suasana hati sedang buruk, kemungkinan itu adalah respons emosional.
Healthline juga menyarankan untuk mencari cara lain dalam mengelola emosi. Alih-alih langsung makan, kamu bisa mencoba berjalan santai, menelepon teman, mendengarkan musik, atau melakukan teknik pernapasan untuk menenangkan diri. Menulis jurnal juga bisa membantu mengenali pola makan yang dipicu emosi.
Selain itu, pastikan kebutuhan dasar tubuh terpenuhi. Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, atau diet terlalu ketat justru bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap emotional eating.
Intinya, emotional eating sebenarnya hal yang cukup umum dan manusiawi. Jika terjadi terus-menerus dan sulit dikendalikan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Mengenali pemicunya sejak awal adalah langkah penting agar hubungan kita dengan makanan tetap sehat dan seimbang.









