Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Ungkap Tiga Teror Terbaru yang Diterima Sang Ibu
M Syofri Kurniawan February 27, 2026 08:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Teror tak henti-hentinya mengganggu kehidupan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, dan ibunya. 

Teror yang terus-menerus datang itu nampaknya membuat Tiyo tak lagi gentar.

Baginya, itu bagian dari risiko yang harus dihadapi saat lantang bersuara mengkritik penguasa.

Baca juga: Ibu Ketua BEM UGM di Kudus pun Jadi Target Serangan Pesan Ancaman

Dengan wajah tenang, di hadapan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto, Tiyo menjelaskan seluruh rangkaian teror yang diterimanya, diterima ibunya, dan kawan-kawannya di kampus.

Tiyo tak lagi menganggap teror yang didapat. Dia acuh dengan semua itu.

Teror demi teror yang diterimanya datang setelah dia bersuara lantang mengkritik pemerintah di bawah kendali Presiden Prabowo Subianto.

Terbaru, teror diterima oleh ibunya. Ini bukan yang pertama kali.

“Ada tiga teror terbaru yang diterima ibu semalam,” kata Tiyo memulai perbincangan dengan Ibnu Taufik Juwariyanto di teras Omah Dongeng Marwah di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Kamis (26/2/2026) sore.

Teror pertama yang masuk ke ponsel ibu Tiyo dari nomor yang tidak dikenal mengatakan kalau ada ormas di Yogyakarta yang hendak melaporkan Tiyo ke Polda DI Yogyakarta karena Tiyo dituduh menggelapkan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).

Teror kedua yang masuk ke posel ibunya mengatakan kalau terdapat dosen UGM yang kecewa atas perilaku Tiyo yang diduga menggelapkan dana KIPK.

Bagi Tiyo, tudingan tersebut tidak dianggap. Sejak awal, teror yang datang salah satunya memang menggoreng tuduhan tidak berdasar tersebut.

“Kemudian teror yang ketiga yang diterima ibu mengatakan kalau pihak kepolisian siap mengusut tuntas kasus Tiyo,” kata Tiyo.

Ibu Tiyo semula takut atas berbagai teror yang diterimanya.

Ibunya khawatir akan nasib anak laki-lakinya.

Namun, perlahan-lahan Tiyo menjelaskan kepada ibunya bahwa semua kabar miring yang diterima ibunya merupakan teror untuk melemahkan Tiyo dan membungkam kritiknya.

Belakangan, kata Tiyo, sang ibu bisa memahami penjelasannya.

“Sekarang ibu sudah aman. Saya beri penjelasan sebelumnya,” kata Tiyo.

Teror rupanya tidak hanya menimpa Tiyo dan keluarganya.

Kurang lebih 30 sampai 40 orang pengurus BEM UGM juga mendapatkan teror serupa sebelumnya.

Namun, mereka paham bahwa semua itu merupakan dampak dari sikap politik BEM UGM yang memilih berseberangan dengan pemerintah.

Semua itu dilakukan bukan untuk mendistorsi program pemerintah di bawah kendali Prabowo Subianto. Di antaranya, program MBG singkatan dari Makan Bergizi Gratis yang oleh Tiyo kemudian disebut sebagai Maling Berkedok Gizi.

Soal sebutan yang terakhir itu, Tiyo sudah menjelaskan di banyak tempat.

Misalnya, karena ketidakberpihakan rezim terhadap pendidikan malah memilih menjalankan MBG yang pada praktiknya jauh panggang dari api.

Dari seluruh rangkaian kritik yang dia lontarkan bukan karena dia benci kepada negeri ini.

Semua itu dilakukan karena dia ingin negeri ini berjalan ke arah yang lebih baik.

Kritik demi kritik yang selama ini dilontarkan oleh Tiyo maupun aktivis dan akademisi atas pelaksanaan MBG dianalogikan sebagai obat.

Dia menyayangkan kalau sampai rezim menutup telinga atas seluruh kritik yang disampaikan berbasis data dan fakta di lapangan.

“Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat. Termasuk para aktivis, akademisi yang mengkritisi MBG karena ingin memberi obat bagi republik ini,” kata Tiyo. (goz)

Baca juga: Sosok Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM Diteror Isu LGBT: Saya Memang Tidak Punya Pacar, Tapi. . .

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.