Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sinca Ari Pangistu
TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Amblesnya Jembatan Sentong yang menghubungkan Bondowoso-Jember berdampak signifikan terhadap dua layanan darurat untuk masyarakat Bondowoso, yakni tim Pemadam Kebakaran (Damkar) dan ambulans.
Sebagaimana diketahui, pasien dari Bondowoso sering kali dirujuk ke Jember untuk penanganan medis yang lebih berat.
Selain itu, pasien di sejumlah Puskesmas wilayah selatan Bondowoso juga kerap dirujuk ke RSUD dr. Koesnadi atau RS Bhayangkara di wilayah perkotaan dengan melintasi Jembatan Sentong.
Masalah lainnya, Markas Komando (Mako) Damkar berada sangat dekat dengan lokasi kejadian, yakni sekitar 200 meter di sisi selatan jembatan.
Baca juga: Jalur Alternatif Bondowoso-Jember Rusak dan Licin, Warga Desak Perbaikan Sebelum April 2026
Kabid Damkar Satpol PP Bondowoso, Vara Tedi, menyatakan pihaknya telah memindahkan sejumlah armada dan peralatan ke kantor Pemkab Bondowoso yang berlokasi dekat Alun-alun Ki Bagus Asra.
Langkah ini diambil guna memastikan layanan tetap cepat, terutama saat terjadi kebakaran atau kondisi darurat lainnya.
“Tujuannya agar penanganan lebih cepat. Standar waktu penanganan efektif adalah 10-15 menit. Jika lebih dari itu, api dinilai akan sulit dikendalikan,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Beberapa unit yang telah dipindahkan meliputi mobil Rescue, Sentro, dan Water Supply.
“Kendaraan kami besar-besar. Kalau harus memutar lewat jalur alternatif, waktu tempuhnya akan jauh lebih lama,” jelasnya.
Baca juga: Jembatan Sentong Bondowoso Ambles, Wagub Jatim Emil Dardak Pastikan Segera Dibangun Ulang
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, dr. Moch. Jasin, mengatakan untuk sementara ambulans tetap mengikuti jalur alternatif sesuai arahan Dinas Perhubungan (Dishub).
“Berbahaya jika dipaksakan melintas, kondisi jembatannya memang tidak memungkinkan,” katanya.
Ia menambahkan akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Dishub Bondowoso agar kendaraan prioritas seperti ambulans mendapatkan kemudahan saat melewati jalur alternatif.
"Kami akan koordinasikan lagi, apakah ada jalur lain yang lebih memungkinkan untuk dilewati,” imbuhnya.
Untuk ambulans dari arah selatan, seperti Maesan dan Grujugan, diarahkan melewati Pemandian Tasnan dan tembus di Jalan Raya Tamanan.
“Jalur itu relatif lebih lancar. Kalau lewat Nangkaan medannya lebih berat,” terangnya.
Baca juga: Jaga Stok Ramadan, Bulog Bondowoso Siapkan 40 Ribu Ton Beras dan Operasi Pasar di Tiap Kecamatan
Sementara itu, pangkalan angkutan umum jurusan Bondowoso-Arjasa juga terdampak karena lokasinya tepat berada di sisi selatan Jembatan Sentong.
Muhammad Safi'i, salah satu sopir angkutan umum, mengaku sedang merencanakan pemindahan pangkalan ke area pertigaan Kelurahan Nangkaan.
Meski belum diputuskan, wacana ini tengah dimusyawarahkan oleh komunitas sopir.
Para sopir merasa terbebani dengan biaya BBM yang membengkak jika harus memutar terlalu jauh.
“Memutarnya jauh, lewat SMP 5 itu,” ujarnya.
Safi'i menyebut saat ini tersisa sekitar 30 armada angkutan Bondowoso-Arjasa.
Setiap harinya, satu armada rata-rata hanya mengangkut 5-6 penumpang.
Kondisi penumpang yang sepi ditambah pengeluaran BBM yang membengkak membuat para sopir ingin segera pindah lokasi pangkalan demi menjaga pendapatan utama mereka.
“Kami masih akan bermusyawarah dengan warga di Nangkaan,” pungkasnya.