TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah haru dua saudara di Dusun Soloh, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.
Mereka bernama Nurrahmah (46) dan Nurayyah (60).
Nurrahmah hidup bersama dengan saudara kandungnya, Nurayyah sejak dirinya mengalami kelumpuhan lima tahun lalu.
Hal itu disebabkan karena Nurrahmah mengalami stroke.
Baca juga: Punya 500 Pohon Durian, Kades Paimin Ikhlas Rawat ODGJ Selama 16 Tahun, Ungkap Suka Dukanya
Tubuhnya lumpuh sejak anak kandungnya, Kholifatun Nadiah masih di bangku sekolah dasar (SD).
Sejak itu, Nurrahmah tidak lagi punya pendapatan, apalagi biaya hidup dan pendidikan anaknya.
Keterbatasan ekonomi dialaminya hingga kini, hingga anaknya sudah berusia 16 tahun.
Beban hidup semakin berat sejak suaminya, Puran meninggalkannya dalam kondisi sakit.
Seolah tidak ada harapan hidup, terutama masa depan anaknya.
Semenjak itu, ia memilih tinggal dengan saudaranya, Nurayyah (60) yang juga hidup sebatang kara.
"Saya lumpuh, suami pergi, untung ada saudara saya yang merawat selama lima tahun," kata Nurrahmah, melansir dari Kompas.com.
Bertahun-tahun ia hanya bisa berbaring di kasur.
Saat ke kamar mandi harus dibopong oleh saudaranya, Nurayyah.
Tak pernah mengeluh, Nurayyah rela merawatnya tanpa mengenal waktu.
Tidak hanya itu, Nurrahman juga menggantungkan biaya hidup dan pendidikan anaknya kepada saudaranya.
"Alhamdulillah saudara saya tidak pernah mengeluh. Dia tidak hanya merawat saya, tapi juga mengurus anak saya sejak usia SD hingga sekolah di MAN 1 Pamekasan," katanya.
Wajahnya mendadak memerah, air matanya bercucuran sambil bercerita. Sesekali ia mengusap air matanya.
Nurrahmah hanya bisa pasrah dan menggantungkan hidupnya kepada saudara kandungnya.
Ia hanya bisa berharap anak kandungnya bisa sukses kelak.
Diceritakan, anak kandungnya, Kholifatun Nadiah, harus merasakan keterbatasan ekonomi sejak kecil.
Saat ini, ia hanya bergantung kepada Nurayyah yang hidup dari bertani.
"Kasih sayang saudara saya luar biasa. Ia tidak hanya menanggung beban hidup kami saja. Tapi juga waktu dan tenaga dikorbankan," ucapnya.
Nurrahmah mengatakan, tidak bisa dibayangkan jika tidak ada saudara kandungnya.
Ia lumpuh, sementara anaknya butuh hidup dan sekolah.
Ia mengaku selalu berdoa agar anaknya sukses sehingga bisa membalas semua kebaikan Nuryyah yang tanpa batas.
Nurayyah sendiri mengaku rela dan ikhlas merawat adik kandungnya.
Baca juga: Meski Tangan dan Kakinya Tak Lengkap, Dede Ikhlas Rawat Ayah Lumpuh, Tiap Hari Jual Tasbih dan Buku
Di sisa hidupnya, ia sudah niatkan untuk merawat adik kandung dan mengurus keponakannya.
"Suami saya sudah meninggal lama, anak pun tidak ada. Kini tinggal saudara kandung yang harus saya rawat," katanya.
Dia mengatakan, sejak setahun terakhir, adik kandungnya sudah mulai bisa duduk.
Sebelumnya, selama bertahun-tahun hanya bisa berbaring di kasur.
Lelah itu pasti, tapi baginya saudara wajib dirawat
Siang dan malam ia rela menyuapi Nurrahmah.
Termasuk membopongnya ke kamar mandi.
"Sejak kecil kami sudah biasa bersama. Makan bersama dan tidur bersama. Sekarang ia sakit. Saya harus merawatnya," ucapnya.
Ia pun berharap, keponakannya sukses kelak agar bisa membanggakan ibu kandungnya, Nurrahmah.
Baca juga: Istri Pertama Ikhlas Rawat Anak Istri Kedua yang Difabel, Pilu Ditinggal Pergi, Mama Gak Tega
Dikatakan, selama ini Nurrahmah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga ia harus banting tulang bertani demi adik kandung dan keponakan untuk bertahan hidup.
"Selama ini kami tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. Saya membiayai hidup di sini dari hasil bertani," ucapnya.
Ia berjanji akan merawat saudaranya sampai kapan pun. Menurutnya, kasih sayang kepada saudara tidak pernah memudar sedikitpun.
Terbaru, Nurrahmah akhirnya diusulkan menerima bantuan sosial (Bansos), Kamis (26/2/2026).
Nurrahmah selama ini mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan menyekolahkan anaknya, Kholifatun Nadiah (16), harus bergantung kepada saudara kandungnya.
Ketua Tim Kabupaten Program Keluarga Harapan (Katimkab PKH) Pamekasan, Lukman Hakim mengaku sudah mendatangi rumah Nurrahmah dan mengusulkan untuk menerima bantuan.
"Sudah diproses pengajuan PBID sekarang. Semoga masuk desil 1-5," katanya.
Lukman Hakim mengatakan, setelah dicek, Nurrahmah tidak terdata sebagai penerima bansos. karena masih masuk desil 6-10.
Kini, data Nurrahmah diusulkan bisa masuk desil 1-5. Pendamping PKH sudah melakukan pengecekan ke rumah Nurrahmah.
Menurutnya, sebagai langkah konkret pemerintah daerah untuk mendukung bantuan tepat sasaran, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) no 4 tantang DTSEN, Nurrahmah langsung didatangi untuk dikroscek kondisi dan keberadaannya.
"Setelah ada laporan, langsung kami tindaklanjuti. Pendamping sudah melakukan assessment," ucapnya.
Meski begitu, kata Lukman Hakim, tetap menunggu persetujuan pemerintah pusat. Sebab ada mekanisme khusus dan tahapan pada proses pemutakhiran data.
"Kami berharap segera disetujui dan bisa menerima bantuan," imbuhnya.
Nurrahmah mengaku senang setelah diajukan untuk menerima bantuan. Diakuinya, selama ini sejak mengalami lumpuh hanya bisa pasrah.
"Saya sangat senang dan semoga benar-benar bisa menerima bantuan," harapnya.