Ramai-ramai Bongkar Tabiat Anwar Satibi, Ayah Bocah yang Disiksa Ibu Tiri hingga Tewas di Sukabumi
Musahadah February 27, 2026 09:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Tabiat Anwar Satibi, ayah bocah 12 tahun yang tewas diduga dianiaya ibu tiri di Sukabumi kembali terungkap. 

Sebelumnya tabiat Anwar Satibi diungkap Lisnawati, mantan istrinya yang juga ibu kandung dari bocah 12 yang tewas tersebut. 

Tabiat Anwar juga dibongkar TR, ibu tiri yang kini menjadi tersangka penganiayaan berujung maut. 

Berikut tabiat Anwar Satibi selengkapnya: 

1. Tak pernah sosialisasi ke warga

Baca juga: Gelagat Janggal Ayah Bocah yang Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi Terkuak dari WA dan Ini

Ketua RW setempat, Rahman (43), memberikan kesaksian mengenai perilaku atau tabiat. Anwar Satibi (38), dan ibu tirinya selama menetap di wilayah tersebut.

Keluarga ini diketahui menempati rumah milik orang tua TS, namun hampir tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar.

Rahman mengungkapkan bahwa selama dua tahun tinggal di wilayahnya, Anwar sama sekali tidak pernah melaporkan data kependudukan kepada pengurus RT maupun RW.

Fakta ini baru diakui Anwar saat dirinya menjalani pemeriksaan oleh kepolisian.

Rahman menceritakan momen emosional saat Anwar tiba-tiba mendatangi dan memeluknya untuk menyampaikan permohonan maaf.

"Sampai kemarin juga waktu di BAP kan terakhir dia (Anwar) juga peluk saya," ujar Rahman.

Anwar meminta maaf kepada Rahman karena selama dua tahun tinggal di sana tak pernah melaporkan domosili.

"Si suaminya itu minta maaf katanya, 'saya sudah dua tahun di sini belum bikin domisili', gitu," kata Rahman menceritakan pengakuan ayah NS.

Menurut Rahman, warga sebenarnya sering mendengar suara pertengkaran hebat dari dalam rumah tersebut.

Namun, posisi keluarga yang sangat tertutup membuat tetangga merasa takut dan ragu untuk melapor atau ikut campur dalam urusan internal mereka.

"Takut. Jadi bingung, kemarin juga saya diwawancarai di sini jadi kurang jelas itu Pak. Soalnya ngasih informasinya nggak lepas gitu. Jadi posisinya kayak gini gitu," tukas Rahman.

2. Sering KDRT 

Lisnawati melaporkan Anwar Satibi ke Polres Sukabumi atas tuduhan menelantarkan anaknya pada Selasa (24/2/2026). 

Lisna juga membongkar tabiat buruk sang mantan selama mereka masih membina rumah tangga.

Ia menyebut bahwa Anwar Satibi adalah sosok yang sangat temperamental dan kerap melakukan kekerasan fisik atau KDRT terhadap dirinya, bahkan saat ia sedang mengandung NS.

"Temperamental, sering dipukul sering jambak. Waktu dalam kandungan juga (dibilang) sudahlah kamu mendingan meninggal juga," ungkap Lisnawati.

Tak sampai di situ, Lisnawati juga membeberkan perilaku Anwar yang diduga kerap berhubungan dengan wanita lain selama mereka masih menikah.

Kecurigaan itu muncul karena Anwar seringkali pulang ke rumah dengan tanda fisik yang mencurigakan di bagian leher.

"Dulu dia memang menikah sama orang lain. Saya tanya kalau pulang ke rumah banyak cupangnya (di leher)," pungkasnya.

3. Temperamen

Setelah ditetapkan tersangka, TR pun mencatut sang suami yang juga ayah korban, Anwar Satibi di kasus ini. 

Dalam pengakuannya di depan penyidik Polres Sukabumi, TR menyebut Anwar Satibi ikut andil dalam kematian NS.  

Anwar Satibi dikatakan sempat tak mau membawa anaknya ke rumah sakit.

Bahkan saat hendak dibawa ke rumah sakit, korban NS sempat dilempar ayahnya ke dalam mobil.

Baca juga: Jejak Kejahatan Ibu Tiri di Sukabumi yang Siksa Bocah 12 Tahun hingga Tewas, Ternyata Sejak 2023

TR juga mengungkap kalau suaminya itu merupakan sosok yang temperamen.

Pengacara TR, Moch Buchori mengatakan bahwa kondisi NS sebelum dibawa ke rumah sakit sudah lemas.

Ia menyebut kalau kliennya yang memaksa Anwar Satibi untuk membawa NS ke rumah sakit.

"Kondisi Nizam pada saat itu lemas, memang sakit beliau. Dengan hal seperti itu, kekhawatiran TR takut terjadi sesuatu hal, makanya memaksakan awalnya kepada ayah kandungnya untuk dibawa ke rumah sakit," kata Buchori dikutip dari Youtube Cumicumi, Rabu.

Karena kesal terus-terusan dipaksa ke rumah sakit, menurut TR, Anwar emosi hingga melempar anaknya ke mobil.

"Waktu itu karena ayah kandungnya tidak mau, itu dipaksa. Dan hal itu sempat terjadi, pada saat dibopong, diambil almarhum dari rumah ke mobil, itu terjadi pelemparan pada saat dimasukan ke mobil," tuturnya.

BUchori juga menduga adanya keterlibatan dari Anwar Satibi pada luka yang dialami oleh korban.

"Ada kemungkinan dari ayahnya ada ikut serta, karena mengingat di dalam rumah itu ada ayahnya, ada TR," kata dia.

Bantahan Anwar Satibi

KEKEJAMAN IBU TIRI - Kolase foto Bocah 12 tahun yang dianiaya ibu tirinya di Sukabumi, diambil dari database Tribun Bogor. Terungkap alasan pelaku tega aniaya korban.
KEKEJAMAN IBU TIRI - Kolase foto Bocah 12 tahun yang dianiaya ibu tirinya di Sukabumi, diambil dari database Tribun Bogor. Terungkap alasan pelaku tega aniaya korban. (Kolase Tribun Bogor)

Ditemui terpisah, Anwar Satibi membantah telah menelantarkan anaknya.

Ia menilai langkah mantan istrinya yang melaporkan dirinya di tengah suasana duka sebagai tindakan yang tidak masuk akal.

"Ya kalau menurut saya, mantan istri saya ini sepertinya otaknya enggak sehat ya. Dalam duka seperti ini, kalau dia datang dengan pengacaranya untuk menguak kasus (kematian) ini demi mencari keadilan, saya setuju," kata Anwar saat ditemui di kediaman ayah angkatnya, haji Isep Dadang Sukmana di Kampung Pasirpulus, Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa malam.

Namun, Anwar menolak tuduhan bahwa dirinya telah menelantarkan NS semasa hidup. 

Menurut dia, ia memasukkan anaknya ke pondok pesantren adalah bukti tanggung jawabnya akan pendidikan sang anak.

"Kalau dia menuduh saya menelantarkan anak, enggak mungkin saya masukkan pondok, enggak mungkin saya sekolahkan," ujar Anwar. 

Anwar menjelaskan bahwa awalnya NS diantarkan sendiri oleh ibu kandung dan keluarganya ke yayasan tempat Anwar bekerja di wilayah Solokan Pari.

"Jadi saya enggak tahu, intinya anak saya datangnya ke sini saya tidak mengambilnya dari sana, tapi diantarkan sama dia ke Solokan Pari," ucapnya. 

Seiring berjalannya waktu, Anwar mengenal TR (tersangka), ibu tiri korban. Saat itu, TR menaruh simpati yang besar kepada NS. Perhatian yang diberikan TR kepada NS itulah yang diakui Anwar menjadi salah satu alasannya menikahi TR.

Setelah menikah dengan TR, lanjut Anwar, anaknya dipindahkan sekolah dari Purwasedar ke Cilubang oleh istrinya tersebut.

Ia juga mengakui, selama menjalani rumah tangga dengan TR, kerap terjadi perselisihan yang dipicu persoalan anak.

Karena konflik tersebut, Anwar mengaku sempat meminta saran kepada ayah angkatnya dan akhirnya memutuskan anaknya keluar dari rumah dan disekolahkan di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cibitung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.