John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang Meninggal Dunia di RSA UGM
M Zulkodri February 27, 2026 11:23 AM

 

BANGKAPOS.COM--Kabar duka datang dari dunia aktivisme dan musik perjuangan Indonesia.

Pencipta lagu legendaris “Darah Juang”, Johnsony Marhasak Lumban Tobing atau yang dikenal sebagai John Tobing, meninggal dunia pada Rabu (25/02/2026) pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM.

Kepergian sosok yang dikenal sebagai maestro lagu perjuangan itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi kalangan aktivis mahasiswa.

Salah satu aktivis Yogyakarta, Baharuddin Kamba, membenarkan kabar tersebut dan mengaku langsung menuju rumah sakit setelah menerima informasi duka.

“Sesama aktivis kita berduka dengan meninggalnya Bang John. Secara fisik dia meninggal, tetapi karyanya dan semangatnya untuk teman-teman aktivis tidak pernah padam,” ujarnya.

Maestro Lagu Perjuangan Reformasi

John Tobing lahir pada 1 Desember 1965 di Binjai, Sumatera Utara.

Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.

Sebagai alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 1986, John dikenal aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa sejak akhir 1980-an.

Di kampus, ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF) sebagai alternatif organisasi senat mahasiswa.

Namanya semakin dikenal luas setelah menciptakan lagu “Darah Juang”, yang kemudian menjadi himne tidak resmi Gerakan Reformasi 1998.

Lagu tersebut kerap menggema dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Lahir dari Kegelisahan Zaman

“Darah Juang” diciptakan sekitar tahun 1991-1992 di sebuah kontrakan di kawasan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta.

Melodi lagu itu lahir dari petikan gitar akustik John di tengah kegelisahan melihat situasi sosial-politik saat itu.

Dalam proses penulisan lirik, John bekerja sama dengan sejumlah rekannya, di antaranya Dadang Juliantara, Web Warouw, dan Andi Munajat.

Liriknya bahkan sempat direvisi bersama aktivis lain, termasuk Budiman Sudjatmiko.

Lagu tersebut menggambarkan ironi negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya masih jauh dari keadilan dan kesejahteraan.

Hingga kini, “Darah Juang” tetap menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyemangat solidaritas gerakan mahasiswa.

Warisan Semangat Perjuangan

Selain aktif dalam gerakan mahasiswa, John juga terlibat dalam solidaritas untuk korban Waduk Kedung Ombo (1989–1991), peristiwa Kusumanegara Berdarah, hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) di mana ia pernah menjabat sebagai wakil ketua.

Bagi banyak aktivis, John Tobing bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol keteguhan dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Kini, sang pencipta telah berpulang. Namun nada dan lirik “Darah Juang” diyakini akan terus hidup, dinyanyikan lintas generasi sebagai pengingat bahwa semangat perjuangan tak pernah benar-benar mati.
 
Kompas.com/Bangkapos.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.