TRIBUNTRENDS.COM - PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan bahwa rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih merupakan inisiatif murni perusahaan. Keputusan tersebut diambil setelah Agrinas melakukan serangkaian pertemuan dengan pabrikan otomotif di dalam negeri yang berujung pada kesimpulan bahwa produsen lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pengadaan melalui skema bulk selling.
Bulk selling sendiri merupakan metode penjualan produk dalam jumlah besar sekaligus, biasanya langsung dari produsen atau distributor kepada pembeli yang membutuhkan volume besar, dengan harapan mendapatkan harga yang lebih ekonomis.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa seluruh produsen mobil yang selama ini beroperasi di Indonesia telah diajak berdiskusi. Namun, hasil pembahasan menunjukkan adanya keterbatasan dari sisi produksi maupun skema penjualan massal.
"(Impor) Ini inisiatif karena melihat ketidakmampuan produksi daripada semua produsen yang kami undurkan semua yang tadi saya tampilkan disini semua adalah produsen yang selama ini menjual mobil di Indonesia," kata Joao dalam konferensi pers di Yodya Tower, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Baca juga: DPR Kritik Rencana PT Agrinas Impor Pikap India: Ditunda Dulu, Presiden Masih di Luar Negeri
Ia menegaskan, keputusan impor tersebut tidak didasari oleh arahan pihak mana pun. Menurutnya, langkah itu diambil semata-mata karena produsen dalam negeri tidak sanggup memenuhi kebutuhan Agrinas sesuai dengan waktu dan skema yang dibutuhkan.
"Terkait arahan khusus tidak ada, tapi dari hasil negosiasi ketidakmampuan teman-teman untuk mensuplai Agrinas sehingga memaksa kami untuk melakukan impor," ucapnya.
"Jadi kalau teman-teman ada yang mau menjual secara bulk dan mampu mensuplai Agrinas sesuai dengan waktu yang diberikan kepada kami, kami tidak akan mungkin melakukan impor," sambung Joao.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa persoalan utama terletak pada skema pembelian dalam jumlah besar atau glondongan yang diharapkan dapat memberikan harga lebih efisien. Agrinas, kata dia, membutuhkan pengadaan khusus untuk program Kopdes Merah Putih, berbeda dengan pola pembelian rutin di pasar reguler yang selama ini dijalankan pabrikan otomotif.
"Harusnya kita diberikan harga yang lebih ekonomis, lebih efektif dan rasional, memenuhi anggaran yang sudah kami siapkan," ucapnya.
Selain alasan kemampuan pasokan, Joao menyebut kebijakan impor ini juga berdampak pada efisiensi anggaran negara. Dari pengadaan sarana dan prasarana tersebut, Agrinas mengklaim mampu melakukan penghematan anggaran dalam jumlah signifikan.
"Dengan pengadaan sarana-prasarana ini Agrinas Pangan bisa melakukan efisiensi sebesar Rp 46,5 triliun. Kami hanya berikan angka totalnya karena ini angka total detailnya nanti akan kami berikan kepada Kementerian Keuangan," tuturnya.
Sebagai informasi, Agrinas saat ini tengah mengimpor total 105.000 unit kendaraan dari India untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Rinciannya meliputi 35.000 unit mobil pikap 4x4 dari Mahindra & Mahindra, serta 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.
(TribunTrends.com/Tribunnews.com/Fersianus)