Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti membagikan salah satu kunci kesuksesan hidup di dunia, yakni kesabaran yang memiliki hubungan erat dengan bulan Ramadhan.
"Puasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesabaran dan sabar itu adalah ciri orang bertakwa sekaligus jadi kunci sukses untuk kita meraih keberhasilan dalam kehidupan kita," kata Mendikdasmen Mu'ti dalam siaran daring Jendela Ramadan: Puasa dan Kesabaran di Jakarta Pusat pada Jumat.
Ia menyoroti kondisi masyarakat masa kini yang ingin serba instan sehingga membuat seseorang menempuh jalan pintas yang bertentangan dengan agama, hukum, dan sifat-sifat kemanusiaan.
Ketika berpuasa, kata dia, manusia diperintahkan untuk menahan diri, seperti menahan diri dari godaan lapar dan baru dapat makan saat berbuka puasa.
"Ada makanan, semuanya makanan itu halalan thayyiban, kita juga memperolehnya dengan cara yang halal. Tapi karena belum waktunya kita berbuka, maka kita tidak makan. Ini butuh kesabaran," imbuhnya.
Menurut dia, saat seseorang tidak bisa menahan diri, kata sukses mungkin bisa jauh dari jangkauan.
Pada akhirnya, lanjutnya, manusia bahkan bisa bermasalah dalam kehidupannya.
Kesabaran, kata Mu'ti, mengajari manusia soal tidak semua hal bisa diraih dengan mudah dan cepat.
“Ada proses panjang dan waktu lama yang perlu ditempuh,” ujarnya.
Ia pun membandingkannya dengan pertandingan sepak bola. Ketika seorang pemain tidak sabar, Mu'ti mengatakan pemain tersebut akan kehilangan kontrol lantaran panik akan kalah.
"Kemudian justru hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tapi, dengan kesabaran dia yakin bahwa masih ada waktu, masih ada kesempatan. Walaupun mungkin waktu dan kesempatan itu terbatas," ujarnya.
Lebih lanjut, Mu'ti juga menyebut sabar dapat melatih individu menjadi sosok yang konsisten, bahkan persisten.
Konsisten, kata dia, berarti sadar melaksanakan sesuatu secara terus-menerus walaupun mungkin hasil baiknya membutuhkan waktu lama.
Sedangkan persisten, lanjutnya, berarti konsisten yang telah dilakukan sebelumnya senantiasa berpijak pada kebenaran.
Mu'ti pun mengambil ungkapan dalam bahasa Jawa yang berbunyi "ojo gege mongso".
"Artinya apa? Kalau sesuatu memang belum waktunya ya sudah sabar saja, karena semua berproses. Kesabaran itu (berhubungan) dengan proses kita menjadi lebih baik," tegasnya.







