TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - BMKG menanggapi viralnya awan berbentuk piringan berlapis yang menggantung di atas Gunung Slamet, Kabupaten Pemalang.
Viralnya fenomena alam tersebut salah satunya diunggah dalam akun @pemalang.update pada Kamis (26/2/2026).
Menurut BMKG, piringan awan itu disebut sebagai awan lenticularis atau awan lentikular.
Munculnya awal bukan pertanda musibah.
Awan lenticularis merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di atas puncak gunung.
Baca juga: Awas Banjir Rob Semarang-Demak Besok Sabtu Sore, Ini Jalur Alternatif Hindari Macet
• "Tidak Ada Jejak Rem" Truk Tronton Tabrak 3 Rumah di Pakis Magelang, Sopir Tewas
• Disdik Jateng Soroti Relokasi PPPK dan Kekosongan 162 Jabatan Kepala Sekolah
"Awan lenticularis yang terjadi biasanya akibat adanya angin kencang di lapisan atas atmosfer."
"Awan tersebut bukan berarti akan ada bencana besar. Tetapi memang sedang ada angin kencang di lapisan atas atmosfer, terutama di wilayah atas gunung tepatnya," kata Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, Jumat (27/2/2026).
Ferry melanjutkan, awan lenticularis bisa berdampak besar bagi dunia penerbangan.
Sebab, ketika pesawat melintasi awan tersebut, akan menimbulkan turbulensi yang kuat.
Maka dari itu, pesawat akan sangat menghindari awan tersebut.
Sementara bagi pendaki harus berhati-hati bila melihat awan tersebut di wilayah pegunungan.
"Awan itu sebagai tanda kemungkinan akan ada angin kencang di wilayah pegunungan tersebut," ungkapnya.
Munculnya awan lenticularis biasanya terjadi di saat musim pancaroba.
Namun, Ferry mengungkap, awan ini bisa muncul pula saat puncak musim hujan seperti saat ini.
Penampakan awan lenticularis juga tidak berlangsung lama hanya hitungan antara lima sampai 20 menit.
Setelah itu hilang menjadi awan biasa.
"Waktu terjadinya juga bisa di pagi, siang, maupun sore hari," bebernya.
Pihaknya mengimbau, masyarakat di sekitar pegunungan Slamet agar tidak perlu panik selepas munculnya awan lenticularis karena itu bukan merupakan tanda bencana alam.
"Namun, untuk para pendaki yang sedang mendaki Gunung Slamet tetap waspada karena bisa tiba-tiba angin menguat," terangnya. (*)