Almarhum Ustaz Jazir Jogokariyan Dianugerahi Penghargaan Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid
Joko Widiyarso February 27, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Almarhum Ustaz Muhammad Jazir ASP mendapatkan penghargaan sebagai Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY.

Semasa hidupnya, Ustaz Jazir menjadi Takmir Masjid Jogokariyan mampu menghidupkan ekonomi syariah di masjid.

Melalui kepemimpinannya di Masjid Jogokariyan, Ustaz Jazir menghadirkan model pengelolaan masjid yang melampaui batas fungsi ritual. 

Masjid tidak lagi hanya menjadi tempat shalat, tetapi menjadi pusat peradaban, pusat pemberdayaan, dan pusat ekonomi umat. Latar belakang itulah yang menggerakkan MES DIY memberikan penghargaan kepada almarhum. 

Prinsip keuangan transparan dan amanah

Ketua Umum MES DIY, Edy Suandi Hamid mengatakan salah satu warisan monumental almarhum Ustaz Jahir adalah keberanian menerapkan prinsip manajemen keuangan yang transparan dan amanah. 

Laporan keuangan masjid diumumkan secara terbuka kepada jamaah. 

Praktis kepercayaan jamaah tumbuh dan partisipasi meningkat. Kepercayaan itulah yang melahir kekuatan ekonomi umat.

“Beliau bahkan memperkenalkan prinsip yang sangat visioner yaitu saldo infak masjid nol rupiah. Artinya dana umat tidak boleh mengendap tanpa manfaat. Dana harus bergerak, berputar, dan memberdayakan umat. Dana infaq harus kembali kepada jamaah dalam bentuk program nyata yang dibutuhkah umat,” katanya, Jumat (27/2/2026).

“Dari prinsip ini lahir berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, seperti ATM beras untuk warga kurang mampu, bazar dan pasar Ramadan yang menggerakkan UMKM jamaah, usaha katering komunitas, angkringan jamaah, hingga pengembangan wakaf progresif,” sambungnya.

Jadi inspirasi banyak masjid

Gagasan wakaf inovatif dan produktif tersebut menjadi inspirasi bagi banyak masjid dan penggerak ekonomi syariah. 

Edy mengungkapkan upaya yang dilakukan Ustaz Jazir bertujuan agar masjid memiliki aset produktif dan badan usaha milik masjid. Bahkan memikirkan kesejahteraan para pengabdi masjid hingga masa pensiun mereka.

“Ini adalah pemikiran yang sangat strategis dan sangat relevan dengan agenda besar ekonomi syariah nasional dalam rangka pengarusutamaan ekonomi syariah dalam kebijakan ekonomi nasional melalui optimalisasi dana sosial Islam,” terangnya.

Penghargaan yang diberikan bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan atas dedikasi, integritas, dan keberanian almarhum dalam menghadirkan model ekonomi syariah yang membumi. 

“Penghargaan ini juga amanah bagi kita semua, untuk melanjutkan jejak beliau. Warisan beliau menuntut kita untuk bergerak. Saya mengajak seluruh pengurus masjid, akademisi, pelaku industri halal, lembaga keuangan syariah, pemerintah daerah, dan penggiat ekonomi syariah untuk menjadikan model ekonomi masjid sebagai arus utama dalam pengembangan ekonomi syariah di Yogyakarta,” ujarnya.

Keluarga ucapkan terima kasih

Pada kesempatan itu, hadir pula putri kedua dan putra bungsu almarhum Ustaz Jazir, yakni Difla Yustisia Qur’ani dan Haidar Muhammad Tilmitsani.

Mewakili keluarga, putra bungsu almarhum Ustaz Jazir, Haidar Muhammad Tilmitsani menyampaikan rasa terima kasih karena yang dilakukan ayahnya di Masjid Jogokariyan mendapatkan apresiasi. 

Haidar mengenang pernyataan ayahnya yang menganggap masjid dan kampung Jogokariyan adalah laboratorium peradaban dan kebangsaan.

Inisiatif-inisiatif yang dilakukan merupakan percobaan dari konsep-konsep dari Islam bisa berdampak.

“Masjid selalu menyegerakan menyalurkan saldo supaya tidak mandek, kemudian masjid memastikan masyarakat bisa makan melalui ATM beras, masyarakat bisa sekolah melalui bantuan SPP, dan masjid juga membangun ekonomi melalui pemberdayaan UMKM dengan pendidikan, pembinaan, bantuan modal dengan membuatkan pasar,” tuturnya.

Ia juga merasa bersyukur karena Jogokariyan sebagai laboratorium bisa menggema di Indonesia bahkan dunia, serta menjadi contoh berbagai tempat.

“Sebagai laboratorium pada umumnya, kami tidak bisa memberikan produk yang finish, pasti masih banyak celah yang harus diperbaiki. Kami berharap peran ekonom, akademisi, praktisi di bidangnya untuk menyempurnakan gagasan-gagasan itu menjadi hal yang lebih sempurna, yang kecil letak kesalahannya,” ungkapnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.