Kisah Pilu Penyintas Disabilitas Mental di Panti Sosial: Dirantai Hingga Diberi Makanan Busuk
Muhammad Zulfikar February 27, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kesaksian perih disampaikan Bejo kala menceritakan pengalamannya selama tinggal di panti sosial. 

Bejo merupakan penyintas disabilitas mental yang diduga mengalami pengurungan di Panti Walisiri, Kebumen, Jawa Tengah.

Baca juga: Mensos Gus Ipul Terima Laporan Penyandang Disabilitas Mental Dikurung Tak Manusiawi di Panti Sosial

Kisah pilu Bejo terungkap saat audiensi audiensi Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Jumat (27/2/2026). 

Bejo mengaku dirantai selama lima bulan selama berada di Panti. Rantai sepanjang kurang lebih setengah meter membuat Bejo tak bisa bergerak bebas.

Baca juga: Penyandang Disabilitas di Cilincing Jakut Terima Bantuan Kewirausahaan

"Selama 5 bulan dirantai nggak?"tanya Ketua PJS Yeni Rosa Damayanti.

"Dirantai," jawab Bejo.

Bejo mengaku makan, tidur, dan buang air di tempat yang sama, akibat dirantai.

Dirinya hanya mendapatkan mandi sebulan sekali. Bahkan, saat dianggap kambuh, ia dirantai di ruang terbuka.

"Kalau hujan di situ, panasan di situ… satu minggu lebih," ujarnya.

Soal makanan, Bejo mengaku sering kelaparan. Menu yang diberikan pun sederhana, seperti singkong, nasi, kangkung, tempe, atau mie.

"Dua kali. Siang nggak makan. Cuma pagi sama malam," katanya. 

Kesaksian serupa juga diungkapkan Tuti Dirinya mengatakan perempuan yang dirantai juga makan, tidur, dan buang air di tempat yang sama. 

Saat menstruasi, para penyandang disabilitas mental tidak diberi pembalut.

"Di lantai, di baju. Belepotan," ucapnya.

Baca juga: Kemensos Salurkan Bantuan Atensi Kewirausahaan ke Penyandang Disabilitas di Cilincing

Menurut pengakuan mereka, penghuni panti juga tidak diizinkan menjalankan ibadah. 

"Solat nggak boleh," kata Tuti. 

Kisah lainnya, datang dari Hibat, yang pernah tinggal di Panti Bani Syifa, Serang, Banten, selama dua tahun lebih. 

Dirinya mengaku tak mengetahui hari, bulan, bahkan tahun selama berada di dalam panti.

"'What year is this?' dia tanya saya," cerita Yeni.

Yeni mengungkapkan pertemuannya dengan Hibat terjadi pada tahun 2022. 

Hibat terkejut mengetahui waktu telah berlalu begitu lama.

Hibat yang berlatar belakang mahasiswa hubungan internasional bahkan sempat berbisik dalam bahasa Inggris kepada Yeni.

"Please help me get out of here," kata Yeni menirukan Hibat. 

Kepada Yeni, Hibat juga mengaku kondisi kesehatannya memburuk selama di panti. 

Sebelum masuk panti, Hibat mengalami glaukoma namun masih bisa melihat. Selama di dalam panti, ia mengaku hanya diberi tetesan air jahe untuk matanya. 

Baca juga: Kemensos Salurkan Bantuan Atensi Kewirausahaan ke Penyandang Disabilitas di Cilincing

"Cuma ditetesin air jahe. Sakit banget," katanya.

Selain hal tersebut, Hibat juga mendapatkan makanan tak layak selama di panti sosial. 

Dirinya menyebut beras yang hampir busuk tetap dimasak. Lauk yang diberikan pun kerap dalam kondisi tak layak.

"Kalau pagi itu nasi sama sambel doang tapi berasnya itu mau busuk tetep dimasak Bu. Jadi itu kayak kering-kering gimana gitu dan baunya nggak enak gitu. Nah kalau siang kadang tempe kadang telor, nah yang paling sering ati ayam tapi ati ayamnya juga udah mau busuk, jadi kayak sisa-sisa gitu," ungkapnya. 

Menanggapi kesaksian tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan akan mendalami laporan dan melakukan verifikasi. Ia menegaskan pentingnya pengawasan terhadap Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.