TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suara parau Sri Krishna Encik seketika memecah keheningan ruang persemayaman Rumah Duka RS Bethesda, Kota Yogyakarta, pada Jumat (27/2/26) sore.
Tepat di halaman rumah duka, di hadapan peti mati, petikan gitar serta koor rendah lagu Darah Juang mengalun, membawa ingatan ratusan pelayat melintasi zaman.
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Berdiri tegak di saf depan, Web Warouw, sahabat karib mendiang John Tobing, tak kuasa membendung air matanya, saat bait krusial Darah Juang tersebut menggelora.
Meski tubuhnya bergetar hebat, tangannya tetap konsisten mengepal ke udara, sembari merapal lirik demi lirik, di tengah sedu sedan sepanjang lagu berkumandang.
Baginya, Darah Juang bukan sekadar rima perjuangan mahasiswa era 90-an, melainkan sebuah "tagihan" yang ditinggalkan John sebelum mengembuskan napas terakhir.
Dalam agenda bertajuk "Merayakan John Tobing" ini, para sahabat lintas generasi berkumpul, menziarahi kembali rute hidup lelaki yang sampai akhir hayatnya masih gelisah memikirkan nasib rakyat.
Web pun berkisah, dalam rangkaian komunikasi-komunikasi terakhirnya, John sering kali melontarkan pertanyaan retoris yang menampar realita.
Meski kondisi fisiknya melemah digerogoti sakit dan harus bolak-balik rumah sakit, ia melihat betul, api di mata John tak pernah padam saat bicara soal perubahan sosial.
"Kau dengar lirik Darah Juang? Ini kan belum selesai. Kita masih begini-begini aja. Mana anak-anak bisa sekolah dengan mudah? Orang berobat juga masih susah. Orang miskin makin bertambah. Mana yang kita perjuangkan," kisah Web, menirukan ucapan sahabat lamanya itu.
Ia mengungkapkan, John merasa miris memandangi dan merasakan realita terkini, yang secara gamblang menyajikan ketidakadilan di berbagai sektor kehidupan rakyat
Impian tentang kemudahan akses pendidikan dan kesehatan yang diperjuangkan sejak era Orde Baru, dirasanya masih menjadi barang mewah bagi kaum marginal dewasa ini.
Web menyatakan, semangat John yang tetap berkobar di tengah raga yang semakin rapuh itulah yang membuatnya mampu bertahan hingga titik darah penghabisan.
Menurutnya John tidak pergi membawa jawaban, namun pergi meninggalkan pertanyaan besar bagi mereka yang masih melanjutkan hidup di negeri ini.
"Sembilan belas tahun kita bisa tekuk Soeharto. Kita bisa bikin Orde Baru terbirit-birit. Tapi, sekarang, apa bedanya? Bahkan lebih susah. Susah, seneng, atau enggak, itu omongan John terakhir. Saya ada wawancaranya, tapi bukan untuk dipublikasi," tandasnya.
Sementara, Dadang Juliantara, sahabat yang turut membidani lahirnya lirik Darah Juang menyebut bahwa jiwa John akan terus hidup dalam setiap bait lagu fenomenal ini.
Ia pun mengenang bagaimana Darah Juang lahir dari endapan pengalaman John melihat ragam bentuk penindasan yang dialami langsung, maupun terjadi di depan matanya.
"Lagu yang semua dilandasi pengalaman John. Pengalamannya melihat penindasan, melihat kawan-kawan di Jalan Kusumanegara dipopor senjata, dan diinjak-injak," ucapnya.
"Darah Juang adalah kesaksian John terhadap realita. Ada amarah di dalamnya, tapi juga cita-cita, harapan dan tentu saja kerinduan pada keadaan yang lebih baik," tambah Dadang.
Kini, sosok yang lembut namun tajam itu telah menyelesaikan rutenya di dunia, dan diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir di TPU Madurejo, Prambanan, Sabtu (28/2/26).
Namun, seperti yang dikatakan Web Warouw di hadapan para pelayat, "Kenangan tentang John kita simpan di hati. Tapi yang terpenting adalah tagihannya kepada kita semua melalui Darah Juang: Sudah selesaikah apa yang kita perjuangkan selama ini?"
Sore itu, Darah Juang bukan lagi sekadar lagu nostalgia, melainkan sebagai pengingat nan pedih, bahwa perjuangan John Tobing, sejatinya memang belum usai.