Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar
Muliadi Gani February 28, 2026 10:54 AM

Oleh: Drs KH Saifuddin Zaini, M.Pd.I

PROHABA.CO - Bulan Ramadhan itu salah satu yang ingin dicapai adalah semakin menguatnya sifat sabar.

Sabar itu adalah kemampuan untuk menahan diri kita.

Jadi kalau tidak bisa menahan diri, itu namanya orang yang tidak sabar.

Tidak bisa menahan diri itu antara lain kesusu, ya belum saatnya tapi ingin segera, itu namanya kesusu.

Menahan diri ini juga antara lain tidak memberi reaksi ngawur, tidak memberi reaksi tanpa perhitungan ketika tiba-tiba ada seseorang yang menghina kita.

Jadi nanti kita harus sabar. Itu di dalam apa? Penderitaan harus sabar.

Di dalam kita berbuat kebaikan sabar.

Dan juga lebih dari itu adalah ketika mendapatkan musibahPasti anda juga pernah merasakan bagaimana sakitnya dihina orang.

Jadi kalau dihina orang itu kita jangan cepat-cepat memberi respon.

Sebab kalau kita ini dihina orang kemudian kita bertahan diam, tidak membalas, itu malaikat datang mengawal kita. Ada hadis yang menyebutkan seperti itu. Ada kitab namanya Attajul Jami.

Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia

Di sini dijelaskan bahwa suatu saat pernah Abu Bakar ini kedatangan seorang laki-laki.

Ana rojulan kana yasubu Aba Bakrin. Ada seorang laki-laki yang menghina Abu Bakar.

Saat Abu Bakar dihina itu Rasulullah sedang ada di situ dengan para sahabat yang lainnya. Nabi, Abu Bakar bertahan diam tidak melawan. 

Dihina lagi, tetap bertahan.

Namanya juga manusia, laki-laki itu menghina yang ke-3 kalinya.

Sudah dihina sampai tiga kali akhirnya berkritik.

Abu Bakar itu yang semula bisa bertahan dari hinaan, membalas.

Apa yang terjadi? Begitu dibalas, maka Rasulullah yang sedang mendampingi Abu Bakar itu beliau pergi.

Abu Bakar penasaran, wahai Rasul apakah engkau marah kepadaku sehingga engkau pergi?

Rasulullah itu memberikan penjelasan, tadi malaikat datang itu tidak percaya dengan omongan orang yang menghinamu wahai Abu Bakar.

Tapi begitu engkau membalas hinaan maka datanglah setan.

Karena setan ada di sini, aku tidak mungkin duduk bersama setan, maka kemudian Rasulullah pun pergi. Jadi ini artinya apa?

Kalau suatu saat kita ini dihina orang maka sudah bertahan, nggak usah memberikan respon.

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Abi Yusuf Ahmad : Berburu Pahala di Bulan yang Penuh Berkah

Orang Jawa bilang, becek ketitik olok ketoro.

Nanti yang memang benar akan muncul, yang memang salah, ya sejarah akan mencatat itu.

Jadi kita jangan reaktif. Apalagi bulan Ramadhan begini, sudah perutnya lapar, dihina orang, ya sudah.

Harus sadar bahwa kalau kita dihina orang itu sifat kesabarannya antaranya adalah tidak merespon.

Kalau tidak merespon maka malaikat datang. Bisa jadi kita ini nanti akan diuji karena memang Allah menghendaki kita itu naik derajatnya.

Saya masih ada lagi satu catatan. Misalnya ya, ini jilid satu.

Di jilid satu ini dijelaskan seseorang itu kalau Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia, posisi tinggi, ibarat tangga mungkin tangga ke-100 itu derajatnya tinggi.

Tapi ternyata amal yang ia miliki itu tidak bisa mengantarkan sampai derajat yang Allah sudah gadang-gadang, yang Allah sudah tentukan.

Puasanya, salatnya, zakatnya nggak cukup untuk bisa sampai ke derajat yang tinggi itu. 

Maka Allah menempuh jalan pintas, yaitu Allah kemudian memberikan ujian kepada orang tersebut.

Diuji melalui jasadnya, fi jasadihi, mungkin sakit berkepanjangan. 

Umurnya sebenarnya masih muda tapi tampilannya sudah seperti orang tua, tenaganya loyo, sudah tidak bisa berbuat banyak.

Itu namanya diuji melalui jasadnya. Al fi malihi, atau melalui hartanya. 

Harta dicari susah payah tahu-tahu kebakaran, ya misalnya, diambil maling misalnya.

Au fi waladihi, atau orang itu ingin derajatnya sampai tinggi, amalnya nggak cukup, diuji fi waladihi, melalui anaknya. Bapaknya tokoh tapi anaknya keluar masuk penjara, berbuat onar, kan banyak begitu.

Bapaknya tokoh tapi anaknya malah perilakunya memalukan. Nabi Nuh kurang apa ya Nabi Nuh.

Tapi orang ini bisa sabar terhadap penderitaan yang ia berikan oleh Allah, maka kesabarannya itulah, maka dia karena bisa berlaku sabar sampailah kepada posisi tinggi yang Allah telah janjikan.

Jadi pemirsa sekalian, kesabaran ini menjadi penting. Bisa jadi memang ujian itu dihamparkan kepada kita agar sifat sabar kita ini kita kuatkan.

Itulah yang akan mengantarkan kita sampai posisi yang mulia.

Renungan ini kita jadikan motivasi. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita sekalian. Amin. (*)

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Drs. Nasri Lisma : Menyucikan Hati, Menjaga Alam, dan Menegakkan Shalat

Baca juga: 7 Amalan Sunah Hari Jumat, Bisa Raih Pahala Baca Al Kahfi hingga Perbanyak Doa 

Baca juga: Cahaya Aceh Bangun School of Quran di Aceh Tamiang

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.