TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Azwar Rubowo (42) tampak sedang duduk di lapak jualannya di sebelah barat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (26/2/2026).
Di depannya, aneka kue seperti brownies dan bolen dijualnya kepada masyarakat yang melintas di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto.
Sesekali ada warga yang berhenti untuk membeli.
Azwar sudah tujuh tahun menggeluti usaha brownies dan bolen khas Bandung.
"Sudah lama, ini di dekat alun-alun hampir tiga tahun. Tapi yang di rumah di Desa Teluk Purwokerto, sudah hampir tujuh tahun," katanya kepada tribunbanyumas.com.
Azwar mengatakan, aneka kue yang dijualnya mulai dari bolen Bandung, brownies fudgy, brownies potong, dan soft cookies.
Harga brownies ada yang Rp 15 ribu, Rp 35 ribu, dan Rp 45 ribu.
Baca juga: Raihan Sudah Berencana Membunuh Farra Sejak November 2025, Terealisasi saat Korban Ujian Skripsi
Sedangkan untuk bolen harganya Rp 35 ribu dan soft cookie Rp 5.000.
"Untuk brownies potong ini teksturnya lebih lembut dari brownies fudgy dan soft cookies," ungkapnya.
Azwar mengatakan, penjualan brownies dan bolen buatannya di bulan Ramadan, belum ada peningkatan yang signifikan.
Tetapi tidak ada penurunan alias stabil.
Biasanya stok yang dibawa ke lapak di depan Lapas Narkotika Kelas IIB Purwokerto sebanyak 10 boks dan selalu habis.
"Saat ini rata-rata penjualan masih stabil, sekira 10 sampai 15 boks per hari. Sedangkan di rumah sekira 7 sampai 10 boks" ujarnya.
Azwar mengatakan, peningkatan pembeli dan pemesanan biasanya H-2 Hari Raya Idulfitri.
Dia pun meningkat produksi hingga 20 sampai 30 boks per hari.
"H-2 sampai lebaran biasanya meningkat drastis. Bisa tiga kali lipat dari hari biasa," ungkapnya.
Azwar bercerita, sebelum memulai usaha mandiri, dulunya dia bekerja di PT Trafindo Prima Perkasa yang merupakan rekanan PT Pertamina.
Dia menjabat sebagai supervisor di bagian pengadaan unit trafo, PM offline dan assesment.
Kemudian risegn untuk membangun usaha mandiri.
"Usaha ini ide istri, kebetulan ibu juga sudah lama usaha roti keliling. Alhamdulillah sejak merintis hingga sekarang berjalan lancar," katanya.
Azwar mengatakan, dia tidak mendapatkan kesulitan yang berat saat memulai usahanya karena memang ada resep khusus keluarga.
Hanya saja, banyak pembeli menginginkan kualitas rasa dengan harga yang murah.
Tetapi dia tetap memilih berjualan dengan bahan-bahan yang bagus.
"Prinsip saya lebih baik menaikan harga dari pada menurunkan kualitas bahan," ungkapnya.
Azwar mengatakan, saat awal berjualan, dia menjajakan produknya dengan mengecer di pinggir jalan.
Dia menjual browniesnya per potong Rp 10 ribu agar dikenal banyak orang terlebih dahulu.
Saat ini, langganannya sudah banyak hingga di area eks karesidenan Banyumas.
"Alhamdulillah, produk kami juga sudah memiliki sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan label halal," ungkapnya. (fba)