TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Ketersediaan buah semangka hasil panen petani lokal di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara dipastikan melimpah dengan total stok mencapai 6 ton pada awal Ramadan 2026
Melimpahnya pasokan buah semangka tersebut dipicu oleh masa panen raya yang bertepatan dengan masuknya bulan puasa. Kondisi ini membuat pedagang tidak perlu mendatangkan pasokan dari luar daerah.
Distribusi buah segar ini dipusatkan di sejumlah titik penjualan, salah satunya di toko buah kawasan Kecamatan Malinau Kota yang menjadi rujukan para pengecer maupun warga sekitar.
Terdapat tiga jenis varian yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar, mulai dari semangka kuning tanpa biji, semangka merah non-biji, hingga jenis lokal kuning berbiji.
Baca juga: Ramadan 2026, Permintaan Buah Semangka di Malinau Naik 50 Persen Dibanding Hari Biasanya
Pedagang Toko Buah Semangka Malinau, Mahuri menjelaskan seluruh stok buah semangka yang ada saat ini merupakan murni hasil keringat petani lokal di wilayah Kabupaten Malinau.
"Alhamdulillah karena momen puasa ini banyak orang jualan pakai buah semangka. Karena semangkakan buah air dibutuhkan orang-orang yang puasa, ini kan buah merakyat, ya sebenarnya buah paling murah ini. Banyak juga dibeli sama penjual takjil dijadikan minuman," ujar Mahuri, Sabtu (28/2/2026).
Tingginya minat masyarakat membuat volume penjualan meningkat drastis hingga 50 persen dibandingkan hari biasanya karena buah ini menjadi bahan utama takjil segar.
Harga yang ditawarkan bervariasi tergantung jenisnya, yakni Rp9.000 per kilogram untuk kuning berbiji, Rp10.000 untuk merah non-biji, dan Rp11.000 untuk jenis kuning tanpa biji.
Pihak pedagang mengaku optimistis stok akan terus terjaga karena memiliki rantai pasokan langsung dari kelompok tani binaan yang rutin melakukan pengiriman barang.
Baca juga: 8 Manfaat Buah Semangka, Atasi Dehidrasi hingga Redakan Nyeri Otot
"Alhamdulillah kalau perkiraan sekitar 50 persen dari hari biasanya. Kalau untuk sehari habisnya tidak tentu, melayani pengecer juga. Barangnya kadang sehari aja saya bisa habis 2 ton karena saya membagi juga ke pedagang lain," katanya.
Keberadaan buah lokal ini dinilai lebih menguntungkan bagi konsumen karena kondisi buah yang masih segar dan baru saja dipetik dari kebun petani di sekitar Kabupaten Malinau.
(*)
Penulis : Mohammad Supri