TRIBUNNEWS.COM – Rencana pemerintah mengimpor impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih melalui PT Agrinas Pangan Nusantara memicu kontroversi.
Pihak yang kontra menilai rencana itu bisa mengganggu ekosistem atau industri otomotif tanah air. Di sisi lain, pihak yang pro mengklaim industri tanah air belum bisa memenuhi target produksi. Di samping itu, pikap dari India diklaim lebih murah daripada pikap sejenis di dalam negeri.
Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik sekaligus pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melihat rencana ini dari sejumlah sisi. Di satu sisi, impor tersebut memang berisiko mengganggu industri otomotif.
“Secara teori dan praksis, ini memang dikhawatirkan justru akan mengganggu semangat untuk melakukan industrialisasi, termasuk juga industri di bidang otomotif akan terganggu secara siginfikan,” ujar Adi dalam di kanal YouTube miliknya, Jumat, (27/2/2026).
Di sisi lain, menurut Adi, banyak juga yang “memperbolehkan” impor itu jika memang ditujukan sebagai semacam shock therapy atau terapi kejut.
“Anggap saja itu semacam shock therapy untuk suntikan kepada Kadin (Kamar Dagang dan Industri), kepada industri otomotif, dan seterusnya supaya memproduksi dan membuat mobil yang kurang lebih serupa dan bahkan lebih bagus dan harganya terjangkau seperti yang dilakukan oleh India,” kata dia menjelaskan.
Adi meyakini Indonesia pasti juga bisa memproduksi pikap yang seperti buatan India. Oleh karena itu, impor pikap semestinya dimaknai sebagai shock therapy atau suntikan atau stimulus agar bangsa Indonesia berkembang pesat.
“Supaya bangsa ini sadar bahwa salah satu cara untuk menjadi negara besar adalah di bidang industrialisasi dan inovasi,” ujar dia.
Staf pengajar di UIN Jakarta itu membayangkan setelah muncul polemik impor pikap itu, pemerintah menginstruksikan pabrikan di tanah air, misalnya PT Pindad, untuk memproduksi pikap serupa dengan kualitas lebih bagus dan harga lebih terjangkau.
Kemudian, jika pemerintah kemudian memerintahkan instansi pemerintah untuk menggunakan pikap seperti itu, Adi merasa polemik impor pikap dari India akan selesai.
Dia menilai suntikan atau shock therapy memang penting bagi negara berkembang seperti Indonesia supaya bangkit dan menelurkan inovasi.
Baca juga: Ketua DPD RI Sayangkan Keputusan PT Agrinas Impor Pikap dari India untuk Kopdes Merah Putih
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menanggapi polemik impor pikap 4x4 dan truk ringan untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih.
Misubishi mengaku siap memproduksi pikap 4x4 secara lokal di Indonesia jika permintaan pasar di dalam negeri besar.
"Sebenarnya, saat ini truk pikap kami (Triton) masih diimpor dari Thailand, sementara L300 sudah diproduksi di MMKI (PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia)," kata Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Atsushi Kurita dalam konferensi pers di kantornya, Jumat, 28 Februari 2026.
"Saya yakin saat ini Agrinas bersama pemerintah sedang melakukan diskusi. Kami siap untuk mengikuti keputusan yang diambil oleh pemerintah," ungkap Kurita.
Atsushi Kurita menegaskan pihaknya siap mengikuti keputusan pemerintah, termasuk jika diminta memproduksi kendaraan secara lokal dalam jumlah besar.
Model pikap 4x4 yang dipasarkan Mitsubishi di Indonesia, yakni Triton, saat ini masih didatangkan utuh dari Thailand.
Sementara itu, model legendaris Mitsubishi L300 sudah lama diproduksi di dalam negeri melalui fasilitas perakitan Mitsubishi di Indonesia.
Pernyataan Kurita membuka peluang bahwa produksi lokal, termasuk kemungkinan pengembangan varian 4x4, bukan sesuatu yang mustahil, sepanjang ada kepastian volume dan arahan resmi dari pemerintah.
"Kami memiliki kapasitas yang cukup untuk memproduksi L300 atau produk lainnya. Jika kami menerima instruksi dari pemerintah atau Agrinas, kami siap mengikuti instruksi tersebut," ujarnya.
"Itu tergantung pada besarnya volume pesanan. Jika kami menerima permintaan atau pertanyaan, kami siap mengikuti instruksi pemerintah," ungkap Kurita.
Baca juga: Kadin: Jangan Biarkan Ekosistem Otomotif Lokal Hanya Jadi Penonton, Batalkan Impor Pikap India
Dengan volume yang disebut mencapai 105.000 unit, skala pemesanan tersebut dinilai cukup signifikan untuk dipertimbangkan dalam strategi produksi lokal.
(Tribunnews/Febri/Lita Febriani)