Trump Frustrasi dengan Iran, Ancam Ambil Opsi Militer jika Teheran Tak Hentikan Pengayaan Uranium
Febri Prasetyo February 28, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengaku frustrasi dan kecewa terhadap jalannya negosiasi nuklir antara utusan AS dan Iran yang berlangsung di Kota Jenewa, Swiss, pada Kamis kemarin, (26/2/2026).

“Saya tidak senang dengan kenyataan bahwa mereka tidak mau memberi kita apa yang harus kita miliki. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” ujar Trump dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan itu disampaikan Trump sehari setelah putaran terbaru perundingan tidak menghasilkan kesepakatan konkret mengenai pembatasan program nuklir Teheran.

Trump menilai Iran tidak menunjukkan itikad yang cukup untuk memenuhi tuntutan utama Washington.

Dalam pandangannya, pemerintah Iran belum bersedia memberikan keputusan yang dianggap penting oleh AS, terutama terkait penghentian total pengayaan uranium.

Iran bahkan tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan.

Namun, bagi Trump, pembatasan sebagian atau pengurangan kadar pengayaan tidak cukup untuk menjamin keamanan kawasan maupun kepentingan AS.

Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan Iran melakukan pengayaan uranium sama sekali, bahkan untuk tujuan sipil.

"Saya mengatakan tidak ada pengayaan. Bukan 20 persen, 30 persen, mereka selalu menginginkan 20 persen, 30 persen, mereka menginginkannya untuk tujuan sipil, Anda tahu, untuk tujuan sipil. Saya pikir itu tidak beradab," ucapnya kepada wartawan.

Kebuntuan tersebut membuat Trump mengaku tidak puas dengan cara Iran menangani pembicaraan. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat menginginkan kesepakatan yang “berarti”, bukan sekadar kompromi politik.

AS Ancaman Kerahkan Armada Militer

Dalam beberapa pernyataannya, Trump bahkan mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila jalur diplomasi gagal menghasilkan hasil sesuai harapan.

Ia menyebut risiko konflik selalu ada dalam situasi seperti ini, namun menegaskan bahwa Amerika tidak akan ragu bertindak jika diperlukan.

Baca juga: Trump Tak Senang Lihat Negosiasi Nuklir Iran yang Alot, Beri Waktu Tambahan Sebelum Opsi Perang

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa enam pesawat tanker pengisi bahan bakar milik militer AS telah tiba di Israel.

Pesawat tanker tersebut memiliki peran strategis dalam operasi militer jarak jauh karena memungkinkan jet tempur melakukan pengisian bahan bakar di udara, sehingga memperluas jangkauan serangan.

Menurut laporan media Israel yang mengutip analis penerbangan anonim, lima pesawat tanker KC-46 lepas landas dari Bandara Internasional Portsmouth di New Hampshire, sementara satu lainnya berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Seymour Johnson di North Carolina.

Kedatangan armada ini langsung memicu spekulasi bahwa Washington sedang mempersiapkan skenario militer jika ketegangan dengan Iran meningkat drastis.

Tak hanya itu, kapal induk terbesar AS dilaporkan meninggalkan Yunani dan bergerak menuju wilayah yang lebih dekat dengan Iran.

Pergerakan kapal induk kerap dianggap sebagai indikator utama peningkatan kesiapan tempur karena memungkinkan AS untuk melancarkan operasi militer terpadu dalam waktu relatif singkat apabila konflik pecah.

Langkah-langkah tersebut diperkuat dengan kebijakan pengamanan diplomatik. Dimana pemerintah AS mengizinkan staf kedutaan yang tidak esensial beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Israel.

Keputusan evakuasi parsial ini biasanya diambil ketika ancaman keamanan dinilai signifikan dan berpotensi memburuk dalam waktu dekat. Kebijakan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa Washington tengah mengantisipasi kemungkinan eskalasi.

Meski demikian, Trump berusaha menunjukkan sikap berhati-hati saat ditanya mengenai potensi perang besar di Timur Tengah. Ia mengakui bahwa setiap konflik membawa risiko, namun tidak secara tegas menyatakan bahwa serangan akan terjadi.

“Saya kira Anda selalu bisa mengatakan selalu ada risiko. Ketika ada perang, ada risiko dalam segala hal, baik maupun buruk,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah serangan AS dapat menjatuhkan rezim Iran, Trump tidak memberikan jawaban pasti. “Tidak ada yang tahu. Mungkin akan terjadi dan mungkin tidak akan terjadi,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan posisi Washington yang berada di antara tekanan diplomatik dan kesiapan militer.

Dengan pengerahan armada strategis dan langkah pengamanan diplomatik yang semakin intensif, ketegangan antara AS dan Iran kini memasuki fase yang lebih sensitif, dengan risiko eskalasi regional yang kian nyata.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.