TRIBUNPEKANBARU.COM - Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menyebut isu pengunduran diri pengurus DPC PSI Semarang kemungkinan besar dimanfaatkan dan dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu.
Ia menduga situasi itu tak lepas dari langkah PSI yang mulai serius memperkuat basisnya di Jawa Tengah (Jateng).
"Memang jadi sesuatu, karena ketika PSI mencoba menginvasi Jawa Tengah sebagai Kandang Gajah baru, pasti ketika ada riak (internal), akan digoreng-goreng. Tapi bagi internal DPP itu bukan suatu hal yang merisaukan. Karena sebagai partai baru pasti akan terjadi," ujar Ali di Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026) malam.
Ali menyampaikan, mundurnya pengurus dari DPC PSI Semarang adalah hal yang biasa dan wajar.
Sebab, dia mengingatkan, berorganisasi di PSI merupakan hal baru, sehingga pemahaman mengenai berorganisasi masih perlu ditanamkan ke kader-kader.
"Apalagi PSI ini kan salah satu partai yang mencoba memilih tidak melakukan pemilihan secara langsung ketua DPD dan DPW, tapi lebih pada penunjukan dengan seleksi ketat," jelasnya.
"Pada sisi itu, tentu semua kewenangan ada di tingkat DPP, dengan mendengarkan aspirasi atau usulan daripada DPD dan DPW. Peristiwa terjadi di Semarang kemarin hanya persoalan internal. Sebenarnya ketika ada kedewasaan dalam berorganisasi, hal ini tidak perlu terjadi," sambung Ali.
Ali menyebut, pengunduran diri pengurus Semarang terjadi ketika Ketua DPD yang ditunjuk PSI pusat tidak sesuai keinginan mereka.
Walhasil, terjadilah penolakan dan mobilisasi pengembalian atribut PSI.
"Tentunya kan ini tidak membuat organisasi sehat. Partai tidak boleh tunduk pada orang, kader. Partai tidak boleh tunduk pada orang per orang. Sehingga kemudian kami tetap mempertahankan itu dan mendengar aspirasi dan itu hanya terjadi gejolak di oknum yang kebetulan dipercaya jadi Ketua DPC," ucap Ali.
Baca juga: Minta Presiden Prabowo Bertobat, Ketua BEM UGM: Demi Nutrisi Dia Melanggar Konstitusi
Baca juga: Terkait Gugatan Aturan Keluarga Presiden-Wapres Dilarang Nyapres, PSI Menolak Keras
Sementara itu, Ali mengklaim masalah di Semarang ini sudah selesai.
Beberapa dari pengurus yang mundur itu telah kembali ke PSI Semarang.
"Dan sudah selesai secara internal. Beberapa dari mereka sudah kembali, setelah diberi penjelasan dan mereka memahami semua itu. Dan gejolak itu insyaallah sudah tidak lagi menjadi hal," imbuhnya.
Puluhan pengurus di 13 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang kompak mengundurkan diri sebagai pengurus pada Minggu (22/2/2026) malam.
Sejumlah DPC juga mengembalikan aset berupa plang ke kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kota Semarang sebagai bentuk sikap protes.
Mereka mengaku kecewa dengan sikap Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Tengah yang dianggap tak menyerap aspirasi di akar rumput.
"Kami para DPC yang mengundurkan diri (sebagai pengurus) sepakat mulai malam ini menjadi kader PSI biasa," kata Bayu Romawan, Wakil Ketua DPD PSI Kota Semarang.
Dia mengaku suara dari DPC PSI sudah tidak didengarkan oleh DPW PSI. Salah satunya terkait dengan pencopotan Bangkit Mahanantyo sebagai Ketua DPRD PSI Kota Semarang.
"Adanya plt-nya ketua kami Bangkit yang tidak berdasar ya, tidak berdasar dan suara kami kami rasa sudah tidak lagi didengar, maka percuma kalau kami bertahan lagi," ucapnya.
Sebelum memutuskan mundur sebagai pengurus, pihaknya mengaku telah berupaya melakukan dialog dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Tengah.
"Terus ke pihak DPP (pengurus pusat) langsung juga sudah melalui WA, melalui DM Instagram, bahkan ke Kaesang pun juga sudah kita lakukan namun tidak ada tanggapan," lanjutnya.
Menurutnya, DPW PSI Jawa Tengah seharusnya dapat menampung aspirasi akar rumput kemudian dikomunikasikan dengan DPP PSI.
"Tapi kenyataannya apa? Malah DPW enggak bisa menjadikan jembatan, malah DPW pun sendiri bingung," ungkap Bayu.
Selain itu, pergantian ketua tanpa alasan yang jelas juga menjadi alasan kuat mereka untuk mengundurkan diri sebagai pengurus PSI.
"Dan saya rasa itu adalah bentuk daripada arogansi DPP," keluhnya.