Magnet Ramadan di Jantung Kuliner Delanggu
GH News February 28, 2026 05:10 PM
Klaten -

Senja merayap pelan di langit kota kecil Delanggu ketika langkah-langkah kecil mulai memenuhi jalanan bekas pabrik karung goni. Di antara deretan stand yang berjejer rapi, aroma manis kolak, hangatnya wedang jahe, dan renyahnya gorengan bersahutan seperti orkestra sederhana yang mengundang siapa saja untuk berhenti sejenak.

Central Kuliner Delanggu bukan sekadar pasar kuliner tradisional, ia adalah ruang kenangan yang hidup, tempat tradisi Ramadhan bertemu dengan denyut modernitas UMKM lokal.

Ngabuburit di sini terasa seperti nostalgia bersama. Anak-anak berlarian mengejar balon, remaja duduk melingkar sambil bercanda, orang tua menatap senja dengan senyum yang tak lekang oleh waktu.

Setiap langkah membawa cerita, penjual yang menata dagangan dengan telaten, ibu-ibu yang menawar sambil bertukar kabar, pemuda yang sibuk menggoreng pisang hingga berwarna keemasan.

Di bawah bayang-bayang bangunan kolonial peninggalan Belanda, suasana menjadi lebih hangat, seolah masa lalu dan masa kini saling berpegangan tangan, memberi ruang bagi rasa dan sejarah untuk berdialog.

Aneka Takjil yang tersaji di sini bukan sekadar makanan untuk berbuka. Ia adalah pengikat rasa, pengantar nostalgia, dan bukti kreativitas warga Delanggu. Ada kolak pisang yang manisnya pas, es campur dengan potongan buah segar, hingga jajanan tradisional seperti klepon, gempol pleret, sawut serta aneka kuliner lainnya yang lengket di lidah dan hati.

Tak ketinggalan, sentuhan kuliner internasional versi kaki lima menambah warna, dimsum sederhana, takoyaki yang harum, hingga minuman kekinian yang membuat generasi muda tersenyum.

Semua itu hadir tanpa pretensi, murni dari tangan-tangan yang bekerja keras untuk memberi kebahagiaan sederhana di meja berbuka. Langit yang mulai gelap memantulkan lampu-lampu kecil dari setiap stan, menciptakan pemandangan seperti lukisan hidup.

Angin membawa wangi rempah, asap bakaran, dan tawa pengunjung, ia menyusup ke celah-celah kenangan, mengingatkan bahwa Delanggu pernah berjaya sebagai daerah agraris penghasil beras rojolele.

Cerita-cerita tentang masa emas itu mengalir dari mulut ke mulut, menjadi bumbu tak kasat mata yang memperkaya pengalaman ngabuburit. Di sini, setiap suapan terasa seperti menyantap sejarah, hangat, penuh makna, dan menenangkan.

Meski musim hujan sering menyapa dengan gerimis yang tiba-tiba, hal itu tak pernah memadamkan semangat pengunjung. Justru, gerimis menambah romantika suasana, payung-payung berwarna, tawa yang makin dekat, dan aroma makanan yang semakin menggoda ketika uapnya bercampur dengan udara basah. Penjual-penjual kecil tetap bertahan, menata kembali plastik dan wadah, sambil menyapa pelanggan setia yang rela menunggu di bawah rintik.

Ketangguhan mereka adalah cermin dari jiwa komunitas yang tak mudah menyerah, yang menjadikan setiap bulan Ramadan sebagai perayaan kebersamaan. Central Kuliner Delanggu juga menjadi panggung bagi geliat UMKM lokal.

Di balik setiap stan ada cerita perjuangan, modal kecil, kerja keras, doa yang tak henti. Pembeli yang mampir bukan hanya membeli makanan, mereka memberi nafas bagi usaha kecil, menyokong mimpi-mimpi yang tumbuh di sudut-sudut kampung. Keramahan penjual, senyum tulus, dan obrolan ringan membuat transaksi menjadi lebih dari sekadar jual-beli, ia menjadi bentuk solidaritas sosial yang hangat.

Ketika kumandang adzan Maghrib mulai berkumandang, suasana berubah menjadi hening yang penuh harap. Piring-piring kecil berisi takjil berpindah tangan, dan di meja-meja sederhana, keluarga-keluarga kecil berkumpul untuk berbuka.

Ada rasa syukur yang mengalir pelan, seolah setiap gigitan adalah doa yang dijawab. Senja yang tadi menari kini memberi ruang bagi malam yang penuh berkah, dan Central Kuliner Delanggu tetap berdetak sebagai saksi bisu kebersamaan itu.

Puluhan langkah pulang terasa ringan, meski perut kenyang dan kantong sedikit menipis. Hati membawa lebih dari sekadar rasa, ia membawa kenangan, tentang senyum penjual, tentang tawa anak-anak, tentang hangatnya kolak yang menenangkan.

Central Kuliner Delanggu bukan hanya destinasi kuliner, ia adalah rumah kecil bagi siapa pun yang rindu akan keramahan, cita rasa tradisi, dan cerita-cerita yang menempel di dinding waktu.

Di antara gemerlap lampu stan dan bisik angin senja, Central Kuliner Delanggu menutup hari dengan hangat, setiap gigitan takjil adalah sapaan ramah dari sejarah dan kerja keras warga, setiap tawa pengunjung menjadi doa yang menguatkan, dan setiap aroma yang menguar di udara mengundang rindu untuk kembali lagi, karena di sini, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu berbuka, melainkan merayakan kebersamaan yang menempel di hati dan meninggalkan jejak manis yang tak lekang oleh musim.

---

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.