POSBELITUNG.CO -- Simak weton tanggal 28 Februari 2026 dalam kalender Jawa.
Kalender Jawa masih digunakan untuk menentukan hari baik atau buruk dalam berbagai kegiatan adat.
Hal ini digunakan hanya sebatas tradisi atau budaya agar tak tergerus oleh zaman.
Baca juga: Kalender Maret 2026, Bulan Paling Banyak Hari Libur, Berikut Daftarnya
Hukum percaya pada weton sebagai penentu nasib, rezeki, atau jodoh adalah haram dan termasuk syirik kecil karena mendahului takdir Allah.
Meski begitu, mempelajarinya untuk melestasikan tradisi atau budaya diperbolehkan dan tidak diyakini sebagai penentu mutlak.
Pada tanggal 28 Februari 2026 merupakan weton Sabtu Legi.
Weton Sabtu Legi terbentuk dari kombinasi hari Sabtu dan pasaran Legi.
Dalam perhitungan neptu Jawa, Sabtu memiliki nilai 9 dan Legi memiliki nilai 5, sehingga total neptu weton Sabtu Legi adalah 14.
Baca juga: Biodata Lindi Fitriyana Calon Istri Virgoun, Artis Sinetron Berstatus Janda, Benarkah Tengah Hamil?
Angka neptu ini termasuk kategori sedang-tinggi, yang mencerminkan keseimbangan antara keteguhan hati, kecerdasan, dan kewibawaan.
Watak pemilik weton Sabtu Legi biasanya dikenal memiliki sifat tegas, berwibawa, dan penuh semangat.
Mereka cenderung memiliki daya tarik alami, disegani oleh lingkungannya, dan sering dianggap sebagai sosok yang mampu memimpin.
Namun, sifat tegas ini kadang membuat mereka terlihat keras kepala atau sulit menerima masukan.
28 Februari diperingati hari apa? Tanggal ini memiliki beberapa momen penting yang diperingati di berbagai belahan dunia.
Ada sejumlah hari internasional yang jatuh pada tanggal ini dengan fokus pada isu kesehatan hingga sains.
Salah satu peringatan 28 Februari adalah Hari Penyakit Langka (Rare Disease Day) yang dirayakan setiap hari terakhir bulan Februari.
Selain itu, ada pula Hari Sains Nasional di India serta Hari Kesadaran Cedera Regangan Berulang Internasional.
Hari Penyakit Langka
Tanggal 28 Februari diperingati sebagai Rare Disease Day atau Hari Penyakit Langka. Peringatan ini dirayakan setiap hari terakhir pada bulan Februari.
Karena Februari memiliki 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat, maka peringatannya bisa jatuh pada 28 atau 29 Februari.
Hari Penyakit Langka diinisiasi oleh European Organisation for Rare Diseases dan pertama kali dirayakan pada 29 Februari 2008.
Tujuan utama peringatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit langka, sekaligus mendorong akses terhadap pengobatan dan perwakilan medis bagi individu dengan penyakit langka serta keluarganya.
Pasalnya, pengobatan untuk banyak penyakit langka dinilai masih kurang memadai. Dukungan sosial bagi pasien dan keluarga juga kerap terbatas.
Hari Penyakit Langka biasanya dirayakan dengan berbagai kegiatan, seperti penggalangan dana, kampanye publik, menulis surat secara massal kepada pemerintah setempat, hingga menggelar acara dan pertemuan edukatif.
Hari Sains Nasional
Selain itu, 28 Februari juga diperingati sebagai National Science Day atau Hari Sains Nasional, khususnya di India.
Hari ini menjadi perayaan istimewa bagi masyarakat India karena memperingati penemuan ilmiah penting oleh fisikawan India, C. V. Raman.
Penemuan tersebut menandai tonggak penting dalam dunia sains dan menunjukkan bagaimana inovasi ilmiah dapat meningkatkan kualitas hidup serta mendorong pembangunan masyarakat.
Dalam perayaannya, berbagai pusat dan lembaga ilmiah di India mengadakan debat, kompetisi ilmiah, kuliah umum, acara televisi, hingga pidato publik untuk menumbuhkan minat terhadap sains, terutama di kalangan generasi muda.
Hari Kesadaran Cedera Regangan Berulang Internasional
Tanggal 28 Februari juga diperingati sebagai International Repetitive Strain Injury Awareness Day atau Hari Kesadaran Cedera Regangan Berulang Internasional.
Peringatan ini diinisiasi oleh Catherine Fenech, sosok yang memperjuangkan keselamatan kerja yang lebih baik di Kanada. Hari ini pertama kali dirayakan pada tahun 2000.
Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat tentang cedera regangan berulang, yaitu jenis cedera yang terjadi ketika suatu organ atau bagian tubuh terluka akibat gerakan konstan dan penggunaan berlebihan.
Cedera ini umum dialami atlet, tetapi juga banyak ditemukan pada pekerja kantoran maupun masyarakat umum, terutama yang melakukan aktivitas berulang dalam waktu lama.
Para profesional perawatan kesehatan dan pengasuh biasanya memanfaatkan momen ini untuk membantu pasien mencegah dan memulihkan cedera tersebut.
Dengan perawatan dan perhatian yang tepat, cedera regangan berulang dapat dipulihkan bahkan dicegah sepenuhnya.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)