LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Semangat kebersamaan terlihat dari para pemuda di wilayah Sekop Darat, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang bergotong-royong membangun gerbang menjelang tradisi likuran.
Pembangunan gerbang tersebut dilakukan sebagai persiapan menyambut malam ke-27 Ramadan, yang menjadi momen penting dalam tradisi masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga.
Nantinya, gerbang akan dihiasi dengan ratusan lampu pelita atau lampu colok yang dinyalakan secara serentak.
Tradisi 7 Likur atau 7 Liko sendiri merupakan warisan budaya turun-temurun yang masih terus dijaga masyarakat.
Pada malam tersebut, setiap kampung biasanya mempercantik lingkungan dengan cahaya pelita yang dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah hingga gerbang kampung.
Selain memperindah suasana malam Ramadan, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga, khususnya kalangan pemuda yang terlibat langsung dalam proses pembuatan dan pemasangan dekorasi.
Melalui kebersamaan itu, masyarakat berharap tradisi 7 Likur tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya Melayu di Kabupaten Lingga.
Tradisi Ramadhan di Kampung Sekop Darat, Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian generasi muda dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah turun-temurun dilakukan masyarakat setiap bulan suci.
Seorang pemuda Sekop Darat, Okta, mengatakan pembangunan gerbang 7 Liko bukan sekadar hiasan menyambut Ramadan, melainkan simbol kebersamaan serta identitas budaya kampung yang harus terus dijaga keberadaannya.
Menurutnya, gerbang yang dibangun secara swadaya oleh para pemuda tersebut nantinya akan dihiasi dengan lampu colok yang menjadi ciri khas perayaan malam 27 Ramadan di daerah tersebut.
Cahaya lampu colok yang menerangi gerbang diyakini mampu menghadirkan suasana hangat dan penuh nostalgia, khususnya bagi masyarakat yang pulang merantau.
“Pembuatan gerbang 7 Liko ini merupakan upaya kami dalam melestarikan warisan budaya. Setiap tahun saat Ramadan, pemuda selalu berinisiatif membangun gerbang agar tradisi ini tetap hidup,” ujar Okta kepada Tribunbatam.id, Sabtu (28/2/2026).
Ia menambahkan, keberadaan gerbang dan lampu colok kerap menjadi momen yang paling dirindukan oleh anak-anak rantau ketika pulang kampung.
Melalui semangat kebersamaan tersebut, para pemuda berharap tradisi 7 Liko tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda di masa mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Kabupaten Lingga. (Tribunbatam.id/Febriyuanda)