Oleh: Makmur Idrus
TRIBUN-TIMUR.COM- Ketika Iran meluncurkan “hujan rudal” sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, dunia tidak lagi menyaksikan ketegangan diplomatik biasa.
Kita sedang melihat fase baru konfrontasi terbuka yang berpotensi mengubah lanskap keamanan global.
Serangan yang oleh Pentagon disebut Operation Epic Fury bukan hanya operasi militer.
Ia adalah pesan strategis. Pesan bahwa Washington dan Tel Aviv siap bertindak langsung untuk menghentikan apa yang mereka anggap sebagai ancaman nuklir Iran.
Namun setiap pesan kekuatan selalu memiliki balasan. Iran menjawab dengan rudal, bukan retorika.
Ledakan yang terdengar di Abu Dhabi, Doha, Bahrain, dan wilayah Teluk lainnya memperlihatkan bahwa konflik ini tidak berhenti di garis peta Iran dan Israel. Jalur energi global, pangkalan militer Amerika, dan pusat-pusat ekonomi regional ikut masuk dalam radius ketegangan.
Baca juga: BREAKING NEWS: Perang Dimulai, Israel Pakai Jet Tempur Serang Iran
Negara-negara Teluk menutup wilayah udara. Sirene berbunyi. Internet diputus di Iran. Ini bukan lagi simbol, ini respons perang.
Di titik ini, yang sedang diuji bukan hanya kekuatan militer, tetapi stabilitas sistem internasional. Timur Tengah adalah simpul energi dunia. Setiap gejolak di sana langsung mengguncang harga minyak, pasar finansial, dan rantai pasok global. Dunia yang sudah tertekan oleh konflik Ukraina kini menghadapi risiko front kedua yang tak kalah panas.
Ada dilema klasik dalam konflik ini. Amerika dan Israel mengklaim bertindak untuk mencegah ancaman nuklir. Iran mengklaim membela kedaulatan dan haknya. Dalam teori keamanan internasional, ini disebut security dilemma—ketika satu pihak merasa meningkatkan keamanan, pihak lain merasa terancam. Spiral aksi dan reaksi pun bergerak cepat.
Yang membuat situasi ini lebih berbahaya adalah kepadatan aktor dan kepentingan. Pangkalan militer Amerika tersebar di kawasan. Kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran berada di beberapa negara. Rusia dan China memiliki kepentingan strategis yang tidak kecil. Ketika banyak pemain berada di satu papan, risiko salah hitung meningkat.
Sejarah menunjukkan bahwa perang besar sering lahir dari keyakinan bahwa eskalasi bisa dikendalikan. Para pemimpin yakin serangan akan terbatas. Bahwa lawan akan berhitung rasional. Bahwa konflik akan berhenti di titik tertentu. Namun perang jarang patuh pada rencana awal.
Situasi hari ini memperlihatkan dunia berada dalam tekanan sistemik tinggi. Eropa Timur belum stabil. Asia Timur penuh rivalitas. Kini Timur Tengah kembali menyala. Ini bukan Perang Dunia, tetapi ia adalah konfigurasi global yang sangat mudah tersulut.
Yang paling mendesak saat ini bukan sekadar menunjukkan kekuatan, melainkan membuka kembali jalur diplomasi sebelum spiral ini melampaui kendali. Rudal bisa diluncurkan dalam hitungan menit. Kepercayaan butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Dunia sedang berdiri di tepi jurang. Belum jatuh, tetapi cukup dekat untuk merasakan panasnya. Pertanyaannya bukan siapa yang lebih kuat.
Pertanyaannya, siapa yang cukup bijak untuk berhenti sebelum api ini menjalar lebih jauh? (*)