Duduk Perkara Israel Serang Iran: Berawal dari Revolusi Tahun 1979 hingga Pecah Perang Terbuka
Putra Dewangga Candra Seta February 28, 2026 08:32 PM

 

SURYA.co.id – Dentuman ledakan mengguncang Teheran saat serangan Israel dilaporkan terjadi, menandai babak baru eskalasi antara Israel dan Iran.

Ketegangan yang lama bergerak di balik layar kini kembali mencuat ke ruang publik.

Insiden ini bukan peristiwa terpisah, melainkan mata rantai terbaru dari konflik panjang yang berakar puluhan tahun dan sarat muatan ideologi, keamanan, serta perebutan pengaruh regional.

Dari Mitra Strategis ke Lawan Ideologis

Relasi Israel–Iran pada awalnya tidak dibangun di atas permusuhan.

Dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com, sejak berdirinya Israel pada 1948 hingga Revolusi Islam 1979, kedua negara justru menjalin kerja sama strategis. 

Kajian Marta Furlan dalam jurnal Israel Affairs mencatat kedekatan tersebut berlangsung di era pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Israel kala itu mengembangkan doktrin “periphery” dengan merangkul negara-negara non-Arab di kawasan, termasuk Iran, guna menyeimbangkan tekanan negara-negara Arab.

PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal.
PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal. (Tangkap layar youtube SURYA.co.id)

Kerja sama mencakup sektor militer, intelijen, energi, hingga teknologi. Iran menjadi pemasok minyak penting bagi Israel.

Pasca Perang Enam Hari 1967, kedua negara bahkan membangun pipa minyak Eilat–Ashkelon untuk memperluas jalur ekspor minyak Iran ke Eropa.

Kolaborasi berlangsung pragmatis dan sebagian besar tertutup demi kepentingan strategis masing-masing.

Baca juga: Detik-detik Iran Balas Serangan Israel dengan Rudal, Sirine Meraung-raung, Amerika Serikat Terlibat

Revolusi Islam dan Putusnya Hubungan

Semua berubah setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan Shah dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Pergantian rezim ini bukan sekadar transisi kekuasaan, melainkan pergeseran ideologi dan kebijakan luar negeri yang mendasar.

Iran memutus seluruh hubungan diplomatik dengan Israel dan menempatkan anti-Zionisme sebagai bagian dari identitas politik negara.

Sejak itu, Israel tidak lagi dilihat sebagai mitra strategis, melainkan lawan ideologis dan politik.

Relasi kedua negara bergerak ke pola permusuhan yang dipengaruhi pertimbangan ideologi, keamanan nasional, dan kompetisi pengaruh di Timur Tengah.

“Shadow War” dan Perang di Balik Layar

Dalam dekade berikutnya, konflik berkembang menjadi apa yang kerap disebut sebagai “shadow war” atau perang bayangan.

Berbagai kajian konflik regional menunjukkan penggunaan aktor non-negara sebagai bagian dari strategi Iran untuk memperluas pengaruh dan menghadapi tekanan Israel serta sekutunya.

Jaringan aliansi ini sering disebut sebagai “Axis of Resistance” dan memainkan peran penting dalam dinamika keamanan kawasan.

Di sisi lain, Israel menjalankan pendekatan yang dalam literatur dikenal sebagai Campaign Between Wars, serangkaian operasi terbatas untuk mencegah penguatan militer Iran, terutama di Suriah dan wilayah sekitarnya.

Konfrontasi terjadi melalui serangan udara, operasi intelijen, sabotase, dan tekanan diplomatik, tanpa selalu berujung perang terbuka skala penuh.

Nuklir Iran dan Rasa Terancam Eksistensial

Isu paling sensitif dalam konflik ini adalah program nuklir Iran. Israel memandang perkembangan tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanannya.

Upaya internasional seperti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sempat diarahkan untuk membatasi pengayaan uranium Iran, namun ketidakpercayaan tetap mengemuka.

Pendekatan Regional Security Complex Theory menjelaskan bagaimana Israel dan Iran saling membingkai satu sama lain sebagai ancaman eksistensial.

Dinamika ini mendorong proses securitization, yakni ketika isu keamanan diposisikan sebagai ancaman mendasar yang dianggap membenarkan tindakan luar biasa.

Dari sudut pandang Iran, kedekatan Israel dengan Amerika Serikat serta normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab dipersepsikan sebagai tekanan langsung terhadap posisi strategis Teheran.

Sejarah hubungan Israel–Iran menunjukkan perubahan ekstrem dari kolaborasi strategis menjadi rivalitas ideologis dan keamanan yang kompleks.

Ledakan terbaru di Teheran menegaskan bahwa konflik lama ini belum menemukan jalan keluar.

Selama akar persoalan (ideologi, keamanan, dan pengaruh regional) tetap membara, setiap dentuman berpotensi membuka kembali luka lama yang belum sembuh.

Perang Terbuka

Dunia menahan napas sore ini. Langit Israel yang selama ini dijaga oleh sistem pertahanan udara paling canggih di dunia, mendadak berubah menjadi medan tempur terbuka.

Militer Israel mendeteksi peluncuran rudal balistik dari Iran, memicu sirene peringatan dini yang meraung-raung dari Tel Aviv hingga Yerusalem.

Jutaan warga dipaksa bergegas menuju bunker perlindungan.

Ini bukan lagi sekadar perang bayangan, ini adalah konfrontasi langsung yang membawa dunia ke ambang ketidakpastian global.

Militer Israel mengonfirmasi ancaman tersebut dalam pernyataan resminya.

“Beberapa saat lalu, sirene berbunyi di beberapa wilayah seluruh negeri menyusul identifikasi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Negara Israel,” kata militer Israel, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Pemerintah juga mengirimkan peringatan langsung ke ponsel warga, meminta mereka segera mencari perlindungan.

Selama puluhan tahun, Iran dan Israel terlibat dalam shadow war melalui kelompok proksi di kawasan.

Namun, serangan Sabtu ini menandai perubahan dramatis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Serangan dilakukan secara langsung dari wilayah Iran, bukan melalui perantara seperti Hizbullah atau Houthi.

Media pemerintah Iran, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, menyatakan bahwa Teheran bersiap memberikan respons keras.

“Stasiun televisi Pemerntah Iran mengatakan bahwa Teheran bersiap membalas dendam kepada Israel dan memberikan respons kuat.”

Laporan awal menyebutkan gelombang peluncuran rudal dalam jumlah besar, dirancang untuk menguji dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Israel.

Pernyataan ini menegaskan bahwa garis merah yang selama ini dijaga rapuh oleh diplomasi kini telah dilanggar.

Militer Israel menyatakan Angkatan Udara telah dikerahkan penuh untuk menghadapi ancaman.

“Angkatan Udara beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman jika diperlukan,” ujar pihak militer.

Namun, Israel juga mengakui adanya celah dalam sistem pertahanan berlapisnya.

“Pertahanan tidak sepenuhnya tertutup, dan oleh karena itu sangat penting bagi masyarakat terus mematuhi pedoman Komando Pertahanan Dalam Negeri. Masyarakat diminta tetap mengikuti instruksi Komando Pertahanan Dalam Negeri.”

Di saat bersamaan, Israel dilaporkan sebelumnya telah melancarkan serangan ke dalam wilayah Iran, menutup wilayah udaranya, dan menetapkan status darurat nasional.

Al Jazeera melaporkan sejumlah ledakan mengguncang Teheran dan beberapa lokasi strategis lain.

Target yang diserang mencakup Kementerian Intelijen, Kementerian Pertahanan, Organisasi Energi Atom Iran, hingga kompleks militer Parchin.

Stasiun televisi Israel, KAN, menyebut operasi tersebut menargetkan situs-situs strategis.

“Target rezim dan situs militer sedang diserang termasuk rudal balistik,” kata seorang pejabat.

Mengapa eskalasi ini membuat para pengamat mulai menyebut risiko Perang Dunia III?

Pertama, aliansi militer. Jika Israel terdesak, keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah payung

NATO berpotensi menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka.

Kedua, krisis energi global. Timur Tengah adalah jalur vital minyak dunia; gangguan di kawasan atau penutupan Selat Hormuz dapat mengguncang ekonomi global hanya dalam hitungan hari.

Ketiga, ancaman senjata non-konvensional, termasuk nuklir dan kimia, yang selama ini menjadi bayang-bayang paling menakutkan dari konflik Iran–Israel.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.