TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Kawasan Pasar Takjil Savana di GOR Lembupeteng Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kerap dilanda hujan deras sebelum magrib hingga selepas magrib.
Meski demikian pusat kuliner yang disebut Sentra Aneka Variasi Takjil Nusantara (Savana) ini tidak terpengaruh dengan cuaca.
Penyebabnya, meski cuaca buruk masyarakat tetap antusias datang mencari makanan untuk berbuka puasa.
“Meski hujan banyak yang datang pakai payung, pakai jas hujan. Kami para pedagang asyik melihatnya,” ujar Koordinator Savana, Haris Mukti Ansori.
Lanjutnya, secara umum para pedagang makanan di Savana sangat puas dengan penjualan tahun ini.
Semakin hari kunjungan ke Pusat Kuliner Ramadan Savana juga semakin meningkat, karena cerita dari mulut ke mulut pengunjung, juga promosi para pedagang.
Apalagi lokasi di GOR Lembupeteng lebih kondusif dibanding Savana lama, di Anjungan Kali Ngrowo Jalan WR Supratman.
“Para pedagang sendiri juga banyak yang main media sosial. Semakin hari malah semakin ramai,” ucap Haris.
Baca juga: Seniman di Blitar Gelar Pameran Kaligrarfi untuk Meriahkan Momen Ramadan
Pengunjung paling banyak mencari makanan ringan untuk buka puasa, sebelum makan berat.
Aneka jajanan selalu habis lebih dulu dibanding jenis minuman maupun lauk-pauk dan makanan berat.
Pedagang juga merasa nyaman karena terjamin keamanannya, dan tidak perlu bongkar pasang tenda.
“Kalau di lokasi lama kan bongkar pasang tenda, karena lokasinya di jalan raya. Di sini durasi waktunya juga lebih lama,” tutur Haris.
Di lokasi lama, pedagang memang dibatasi waktu saat membuka tenda dan membongkar tenda.
Mereka tidak bisa membuka tenda terlalu siang karena akan mengganggu lalu lintas.
Mereka juga tidak bisa terlalu malam membongkar tenda karena jalan harus difungsikan sepenuhnya.
Sementara di GOR Lembupeteng, para pedagang bisa berjualan lebih cepat, dan tutup lebih malam sampai dagangan habis.
“Kalau dari sisi omset, lokasi lama lebih menarik karena jumlah pedagangnya sedikit. Kalau di sini pedagangnya kan banyak,” papar Haris.
Haris menyebut, Savana memberikan penghasilan yang lebih baik dibanding mereka harus berjualan sendiri-sendiri selama puasa.
Haris Juga memuji kekompakan para pedagang karena tidak ada persaingan meski barang dagangannya sama.
Bahkan ada yang memilih berganti dagangan karena di sebelahnya jenis jualannya sama.
“Ada yang dari pada jualannya sama, memilih ganti makanan yang dijual. Jadi benar-benar kompak,” pungkasnya.
Savana berisi sekitar 350 pedagang, didominasi pedagang makanan dan minuman di Car Free Day (CFD), ditambah pedagang dari luar CFD.
Tujuannya untuk memberikan wadah para pelaku usaha kuliner agar tetap bisa berjualan selama bulan puasa.
Lokalisasi pedagang ini juga untuk mencegah mereka berjualan di tepi jalan, sehingga mengganggu lalu lintas.
Untuk bergabung di Savana ini pedagang dikenakan iuran Rp 200.000 atau Rp 300.000 untuk 1 bulan, tergantung besar kecilnya jualan.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik