Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa 140 warga, terdiri dari anak-anak dan orang dewasa di Kecamatan Simpang Mamplam dan Pandrah, Bireuen, sejak Kamis hingga Jumat (26–27 Februari 2026), terus ditangani secara intensif.
Sebagian pasien sudah diperbolehkan pulang, sementara lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah puskesmas dan rumah sakit.
Untuk memastikan penyebab keracunan, sampel makanan yang dikonsumsi warga hingga muntah-muntah, pusing, dan diare telah diambil dan dikirim ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh.
Kepala UPTD Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani, SKM menjelaskan, bahwa sampel yang dikirim meliputi bakso, minuman jelly, susu kotak, kue bolu, dan kurma.
Sedangkan jeruk tidak diikutsertakan karena dianggap tidak relevan.
“Sampel diambil dari beberapa lokasi, setelah dipastikan layak dijadikan bahan pemeriksaan, langsung dibawa ke puskesmas dan kemudian dikirim ke Banda Aceh pada Jumat kemarin,” ujarnya.
Baca juga: Terungkap Info Awal Kasus Dugaan Keracunan MBG di Bireuen, Warga Telepon Kepala Puskesmas
Ia menambahkan, hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru bisa diketahui dalam waktu sekitar empat hari.
Di lain hal, Kapolres Bireuen, AKBP Tuschad Cipta Herdani melalui Kasat Reskrim, AKP Jeffryandi, STrK, SIK, MSi menyampaikan, bahwa pihak kepolisian telah memasang garis polisi (police line) di dapur MBG yang berlokasi di Keude Simpang Mamplam tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut sekaligus menjaga keamanan lokasi.
“Police line dipasang agar proses penyelidikan berjalan sesuai prosedur. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yayasan hingga Jumat malam,” jelas Kasat Reskrim.
Dengan adanya police line, aktivitas di dapur MBG untuk sementara dihentikan hingga hasil pemeriksaan keluar.
Aparat kepolisian bersama BPOM akan menelusuri lebih jauh apakah ada kelalaian dalam pengolahan makanan atau faktor lain yang menyebabkan keracunan massal.
Baca juga: Puluhan Pasien Diduga Keracunan MBG di Bireuen Masih Dalam Perawatan
Sementara itu, pihak puskesmas dan rumah sakit terus memantau kondisi pasien yang masih dirawat.
Sebagaimana diketahui, ratusan warga termasuk murid sekolah dasar dan balita mengalami gejala muntah, pusing, serta diare setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Meski belum ada kepastian jenis makanan yang menjadi penyebab utama, dugaan kuat mengarah pada produk yang dikonsumsi secara massal.
Seluruh pasien yang datang ke fasilitas kesehatan telah mendapatkan penanganan darurat, mulai dari pemberian obat hingga pemasangan infus.
Berkat kerja sama tenaga medis, paramedis, dan dukungan masyarakat, penanganan berjalan lancar meski jumlah pasien cukup banyak.
Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.
Baca juga: Pimpinan DPRK Sorot Keracunan MBG di Simpang Mamplam, Muslem: Perlu Evaluasi Dapur
Selain memastikan penyebab keracunan, langkah-langkah pencegahan akan dirumuskan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kehadiran pimpinan daerah dan aparat di lapangan juga diharapkan memberi rasa aman bagi masyarakat yang terdampak.
Hingga Sabtu (28 Februari 2026), sebagian besar pasien sudah membaik, hanya tersisa beberapa orang yang masih menjalani perawatan intensif.(*)