TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI — Jalan menuju Dusun Karampuang, Desa Botolempangan, Kecamatan Sinjai Barat, tidak selalu mudah dilalui.
Dari pusat Kota Sinjai, jaraknya sekitar 44 kilometer.
Waktu tempuhnya hampir satu setengah jam.
Perjalanan panjang itu membawa siapa pun pada satu kenyataan: di pelosok inilah sepasang lansia bertahan hidup dalam sunyi.
Maharu (80) tak lagi kuat menggenggam cangkul.
Petani yang dulu mengandalkan kebun untuk menyambung hidup itu kini hanya bisa terbaring.
Usia dan sakit membuat tubuhnya lemah.
Istrinya pun dalam kondisi serupa.
Keduanya sulit berjalan, apalagi bekerja.
Mereka tinggal berdua di rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan.
Dinding kayu mulai lapuk. Fasilitas terbatas. Tak ada penghasilan tetap.
Untuk makan sehari-hari, pasangan lansia ini kerap bergantung pada belas kasih sekitar.
Bantuan Tiba di Pagi Itu
Jumat (27/2/2026), suasana berbeda terasa di rumah Maharu.
Kapolsek Sinjai Barat, Iptu Suparman, datang membawa bantuan sosial atas arahan Kapolres Sinjai, AKBP Jamal Fathur Rakhman.
Bantuan diserahkan langsung kepada Maharu.
“Ini bentuk empati dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan uluran tangan,” ujar Iptu Suparman.
Menurutnya, Polri tak hanya hadir menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memastikan warga yang berada dalam kondisi sulit tetap mendapat perhatian.
“Kehadiran kami di sini untuk meringankan beban sosial masyarakat,” katanya.
Bagi Maharu dan istrinya, bantuan itu bukan sekadar paket kebutuhan pokok.
Itu adalah tanda bahwa masih ada yang peduli, bahkan dari jarak puluhan kilometer.
Gaya Kepemimpinan Humanis
Sebagai pimpinan Polres Sinjai, AKBP Jamal Fathur Rakhman dikenal mengedepankan pendekatan humanis.
Perwira menengah berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) ini mendorong jajarannya aktif turun langsung ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
Sejak memimpin di Sinjai, ia menekankan, polisi harus hadir bukan hanya saat ada persoalan hukum, tetapi juga ketika warga membutuhkan sentuhan sosial.
Program bantuan untuk lansia, warga sakit, hingga keluarga prasejahtera menjadi bagian dari agenda sosial yang rutin digerakkan melalui polsek jajaran.
Menurut AKBP Jamal, keamanan dan kesejahteraan sosial adalah dua hal yang saling berkaitan.
“Meski tidak seberapa, semoga bantuan ini bermanfaat dan memberi semangat bagi Pak Maharu dan keluarga,” ujarnya terpisah.
Ia berharap langkah kecil tersebut bisa memantik solidaritas lebih luas.
“Kami ingin menumbuhkan rasa kebersamaan. Semoga semakin banyak pihak yang tergerak membantu warga yang membutuhkan,” katanya.
Di Ujung Desa, Harapan Itu Masih Ada
Dusun Karampuang mungkin jauh dari keramaian kota.
Namun di rumah sederhana itu, Jumat pagi terasa berbeda.
Di tengah keterbatasan, Maharu dan istrinya kembali merasakan bahwa mereka tidak sepenuhnya sendiri.
Dan di jarak 44 kilometer dari pusat pemerintahan, empati itu akhirnya sampai. (*)