TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, tak hanya dikenal dengan potensi budaya dan sejarahnya, tetapi juga menyimpan jejak peradaban Islam yang kental melalui masjid-masjid bersejarah.
Bangunan-bangunan ibadah ini berdiri sebagai saksi penyebaran Islam di tanah Jawa, dengan arsitektur khas yang memadukan nilai religi, budaya lokal, dan kisah para ulama terdahulu.
Keberadaan masjid bersejarah di Sragen bukan sekadar tempat salat, melainkan juga pusat dakwah, pendidikan, hingga aktivitas sosial masyarakat sejak ratusan tahun lalu.
Setiap masjid memiliki cerita unik, mulai dari tokoh pendirinya, peran strategisnya dalam sejarah, hingga nilai spiritual yang masih dijaga hingga kini.
Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Sepuh Ki Ageng Butuh, yang erat kaitannya dengan sosok ulama besar penyebar Islam di wilayah tersebut.
Tersembunyi di Desa Jetiskarangpung, Kecamatan Kalijambe, Masjid Jami Kaliyoso Jogopaten menjadi pusat kegiatan keagamaan sejak era kolonial Belanda.
Didirikan oleh Bagus Turmudhi, yang bergelar Kiai Abdul Jalal 1, masjid ini memiliki 12 saka guru dengan salah satunya dibuat miring sebagai ciri khas konstruksi klasik.
Masjid ini juga menyimpan jejak para ulama pejuang Islam.
Seorang tokoh bernama Syech Imam Tabbri pernah berlindung di wilayah Perdikan Kaliyoso saat dikejar pasukan Belanda, diterima oleh pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Keaslian mimbar kayu, pintu utama, dan beberapa saka guru masih terjaga hingga kini, menjadikannya landmark religius sekaligus simbol perlindungan bagi penyebaran Islam di Sragen.
Lokasinya berjarak 14 kilometer dari pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 33 menit kendaraan pribadi.
Di Kampung Kauman, Sragen Wetan, berdiri Masjid Gedhe Kauman, dibangun pada 1826 oleh KH Hasan Zainal Mustofa, ulama asal Bojonegoro.
Meski bangunannya sudah direnovasi total pada 2014 sehingga tidak masuk daftar benda cagar budaya, masjid ini tetap menjadi pusat spiritual.
Masjid Gedhe Kauman dikenal kental dengan tradisi Nahdliyin, rutin mengadakan zikir, tahlil, pengajian setiap malam Jumat dan Minggu pagi.
Selama Ramadan, jamaah dapat menunaikan Sholat Tarawih dan Witir 23 rekaat.
Masjid ini juga berperan sebagai saksi masuknya Islam ke Sragen dan pernah menjadi tempat tinggal santri yang belajar agama, menandai sejarah panjang penyebaran Islam di Bumi Sukowati.
Lokasinya berjarak 36 kilometer dari pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 49 menit kendaraan pribadi.
Di Dukuh Bulu, Desa Karanganyar, Sambungmacan, terdapat Masjid Al Mujahidin Bulu, yang dibangun pada 1829 saat pecah Perang Jawa antara Pangeran Diponegoro dan Belanda (1825-1830).
Masjid ini didirikan oleh Imam Syafii, pengikut setia Pangeran Diponegoro, yang bersembunyi dari pasukan Belanda.
Bangunan ini pernah dipugar beberapa kali, namun beberapa elemen asli, termasuk beduk dan mimbar khatib, masih digunakan hingga kini.
Di belakang masjid terdapat makam Imam Syafii, serta kubah dengan simbol bulan dan bintang yang menjadi ikon masjid.
Masjid Al Mujahidin Bulu tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga catatan sejarah perjuangan Islam di Sragen.
Lokasinya berjarak 51 kilometer dari pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 53 menit kendaraan pribadi.
Di wilayah Plupuh, berdiri Masjid Sepuh Ki Ageng Butuh, atau lebih dikenal dengan Masjid Butuh, yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-16.
Masjid ini berada di pinggir Bengawan Solo, hanya 50 meter dari bibir sungai, menjadi saksi penyebaran Islam oleh Ki Ageng Butuh di wilayah Dukuh Butuh.
Bangunan masjid memiliki struktur kayu jati dengan empat soko guru setinggi 6 meter dan 12 pilar tambahan yang saling mengunci.
Mimbar tua berukir, diberikan oleh Keraton Surakarta pada masa Paku Buwono VII, menambah nilai sejarah masjid ini.
Meski mengalami beberapa kali renovasi, masjid tetap mempertahankan nilai tradisi dan budaya yang kental, menjadi destinasi wisata religi yang memikat.
Lokasinya berjarak 18 kilometer dari pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 40 menit kendaraan pribadi.
(TribunNewsmaker.com/TribunSolo.com)