Ayatollah Ali Khamenei Tewas, Iran Umumkan Dewan Sementara di Masa Transisi Kepemimpinan
Sesri March 01, 2026 12:29 PM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serarangan Amerika Serikat dan Israel.

Sebelumnya kabar tewasnya Ayatollah Ali Khamenei sempat dibantah Iran.

Media Iran Fars News Agency mengungkapkan waktu dan lokasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Dikatakan bahwa Khamenei terbunuh pada Sabtu (28/2/2026) pagi, tetapi tidak ada detail lebih lanjut. 

Fars hanya menyatakan, Khamenei meninggal di kantornya saat menjalankan tugas yang diemban kepadanya.

Menyusul kematian Khamenei, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional.

Siapa yang akan menggantikan Khamenei?

Dilansir dari Aljazera, Pemerintah Iran mengumumkan mekanisme transisi kepemimpinan menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Baca juga: Ayatollah Khamenei Dikonfirmasi Tewas, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung

Baca juga: Donald Trump Nyatakan Khamenei Tewas dalam Serangan Udara, Iran Bantah Minta Rakyat Waspada

Menurut laporan tersebut, dewan terdiri dari presiden Iran, kepala kehakiman, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga.

Ketiganya akan mengambil alih seluruh tugas kepemimpinan negara untuk sementara waktu hingga proses konstitusional selanjutnya ditetapkan.

Sementara itu, suasana duka menyelimuti sejumlah wilayah di Iran. Stasiun televisi pemerintah Press TV menayangkan rekaman warga yang berduka di makam Imam Reza di kota Mashhad.

Dalam tayangan tersebut, sejumlah pelayat terlihat menangis dan sebagian lainnya tampak ambruk karena kesedihan.

Namun, laporan lain menyebutkan adanya perayaan dan kembang api di ibu kota Teheran tak lama setelah pengumuman wafatnya Khamenei.

Selama beberapa minggu terakhir, Khamenei dan aparat keamanan Iran mendapat tudingan dari sebagian warga terkait perintah penindakan keras terhadap demonstrasi yang berlangsung di berbagai wilayah negara itu.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut mengenai jadwal dan mekanisme penunjukan pemimpin tertinggi berikutnya.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Dikutip dari Al Jazeera, Ali Khamenei resmi memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Iran pada tahun 1989, menggantikan sosok karismatik Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Jika Khomeini adalah motor ideologis Revolusi Islam 1979, maka Khamenei adalah arsitek yang membangun fondasi militer modern Iran.

Pengalamannya memimpin Iran sebagai presiden di tengah perang berdarah melawan Irak pada era 1980-an membentuk sudut pandang politiknya. 

Rasa isolasi akibat dukungan Barat terhadap Saddam Hussein kala itu memperdalam ketidakpercayaannya terhadap AS dan sekutunya.

Di bawah arahannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bertransformasi dari sekadar pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, politik, dan ekonomi paling berpengaruh di Iran.  

Ia juga mencetuskan konsep "ekonomi perlawanan" demi mendorong kemandirian nasional di tengah kepungan sanksi internasional.

Lahir pada 1939 di kota suci Mashhad, Khamenei berasal dari keluarga ulama terkemuka.  Ayahnya adalah seorang pemimpin Muslim etnis Azerbaijan. 

Sejak usia empat tahun, ia telah mendalami Al Quran dan melanjutkan pendidikan teologi di pusat-pusat studi bergengsi seperti Najaf dan Qom.

Di Qom, ia menjalin hubungan erat dengan Ayatollah Khomeini.  Sebagai aktivis politik yang menentang monarki Shah Pahlavi, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke wilayah terpencil.  

Namun, ia kembali ke Teheran untuk memimpin protes tahun 1978 yang akhirnya menumbangkan dinasti Pahlavi.

Khamenei juga seorang pragmatis. Dia percaya bahwa pertempuran melawan Barat harus dilakukan dengan strategi yang berbeda, melawan tetapi juga bernegosiasi, jika itu perlu. Pada 2015, Iran berjuang di bawah sanksi internasional yang melumpuhkan akibat program nuklirnya.

 Untuk menjaga stabilitas domestik dan meningkatkan legitimasi, Khamenei menyadari perlunya mengurangi tekanan ekonomi.

Oleh karena itu, ia menyetujui negosiasi Presiden Hassan Rouhani dengan Barat yang menghasilkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015.  

Kesepakatan penting ini, yang ditandatangani oleh Iran dan kekuatan dunia, dirancang untuk mengekang program nuklir Teheran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.

( Tribunpekanbaru.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.