DTIK Fest Terapkan Waste Management, Siapkan 15 Teba Modern Untuk Organik, Anorganik Ke Bank Sampah
Putu Dewi Adi Damayanthi March 01, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Setelah sukses diterapkan di Denpasar Festival pada Desember 2025 lalu, waste management kembali dilakukan di ajang Denpasar TIK Festival (DTIK Fest) 2026, serangkaian HUT Kota Denpasar.

Hal itu menjadi upaya untuk mencegah penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Bali.

Untuk mendukung hal itu, panitia menyiapkan 15 teba modern untuk menampung sampah organik.

Sementara sampah anorganik akan langsung disalurkan ke bank sampah.

Langkah peduli lingkungan ini terwujud berkat kolaborasi antara Komunitas Eling Ring Pertiwi, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, serta relawan yang berasal dari kalangan pelajar di Denpasar.

Baca juga: Revitaliasi TPA Linggasana 19 Persen, Jadi Pusat Pengelolaan Sampah di Karangasem Bali

Ketua Koordinator Komunitas Eling Ring Pertiwi, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada, menargetkan tidak ada residu sampah yang berakhir di TPA Suwung (zero waste to TPA), berkaca pada kesuksesan konsep serupa di Denfest 2025 lalu.

Menurutnya, kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran dari sumbernya.

Oleh karena itu, DTIK Fest 2026 mengadopsi pola penanganan yang sistematis seperti pada Denfest ke-18.

Dengan proyeksi jumlah pengunjung yang mencapai 15.000 orang, panitia telah menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang terstruktur.

Hal ini meliputi waste department yang berfungsi sebagai pusat informasi edukasi sampah yang berlokasi di Youth Park.
 
Kemudian station pemilahan sebanyak 6 station yang disebar di area festival dengan 7 kategori pemilahan sampah.

Lalu disiapkan 15 unit teba modern di sekitar Taman Kota Lumintang khusus untuk mengolah tumpukan sampah organik.

"Dengan estimasi 15 ribu pengunjung, 15 teba modern ini seharusnya mencukupi untuk menangani sampah organik selama event. Kalau berkaca dari Denfest dengan 75 ribu kunjungan, teba modern yang terisi hanya 13 unit," jelas Agung Ngurah.

Selama festival berlangsung, sebanyak 196 relawan dikerahkan untuk mendampingi pengunjung dan memastikan pemilahan berjalan lancar.

Pada hari pertama, sampah organik yang telah dipilah akan langsung dimasukkan ke teba modern.

Sementara itu, sampah anorganik diangkut oleh armada DLHK Kota Denpasar menuju bank sampah terdekat.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan bahwa setiap kegiatan berskala besar di Kota Denpasar wajib menerapkan pola pengelolaan sampah yang ketat dan terukur.

"Skala besar kegiatan-kegiatan yang kita selenggarakan di Kota Denpasar ini, nol persen sampah yang keluar dari festival atau kegiatan tersebut," tegas Arya Wibawa.

Lebih lanjut, Arya Wibawa mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei, sebanyak 30 persen warga Kota Denpasar kini telah memiliki kesadaran mandiri dalam memilah sampah.

Hal ini dinilai menjadi modal awal yang sangat baik untuk terus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.