Kebiasaan menyemprotkan parfum di area leher kerap dilakukan agar aromanya lebih tahan lama. Tetapi, hal ini memunculkan kekhawatiran karena dinilai berpotesi mempengaruhi kelenjar tiroid, hingga kanker tiroid.
Pakar Multiomics Cancer IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan secara ilmiah memang terdapat indikasi hubungan antara pengunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid.
Namun, kaitannya dengan kanker tiroid disebut belum terbukti secara langsung.
"Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid," ucap dr Agil, dikutip dari laman , Minggu (1/3/2026).
"Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung," lanjutnya.
Kandungan Parfum yang Berpotensi Ganggu Sistem Hormonal
dr Agil yang juga merupakan dosen kedokteran itu mengungkapkan parfum atau cologne umumnya mengandung bahan kimia, seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Zat-zat tersebut diketahui berpotensi mengganggu sistem hormonal atau berperan sebaga endocrine disruptors.
Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat mempengaruhi fungsi hormon tiroid. Sementara sejumlah paraben, juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh.
Menurut dr Agil, bahan kimia tersebut dapat diserap melalui kulit. Tingkat penyerapan dipengaruhi oleh lokasi pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.
"Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis. Sehingga paparan phthalates, parabens, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik," jelasnya.
Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Meski begitu, dr Agil menegaskan dampak tersebut tidak terjadi secara instan dan umumnya berlangsung perlahan. Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua pengguna parfum pasti mengalami gangguan kesehatan tersebut.
"Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak, remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya," tutur dia.
Demi meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang, ia menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan parfum. Ada juga beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Mulai dari menyemprotkan parfum pada pakaian alih-alih langsung ke kulit, menghindari pemakaian rutin di area leher atau ketiak, serta menggunakan parfum secukupnya.
"Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label 'phthalate-free' atau 'paraben-free'," tutupnya.







