Pengamat Angkat Bicara soal Harga Bapok Stabil Tapi Aktivitas Pasar Tradisional Menurun
Torik Aqua March 01, 2026 12:30 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Fenomena harga bahan pokok cenderung stabil tapi pembeli malah sepi di pasar tradisional terjadi saat Ramadan 2026.

Pada hari ke-10 bulan Ramadan 2026, Sabtu (28/2/26) Pasar Wonokromo Surabaya terpantau lengang.

Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D., menilai stabilnya harga bapok menunjukkan peran pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi berjalan cukup baik.

“Kalau harga stabil, berarti pemerintah berhasil menjaga pasokan. Apalagi di bulan Ramadan, kebutuhan pasti meningkat. Artinya, distribusi dari produsen sampai perlindungan konsumen sudah dijaga,” ujarnya saat diwawancarai Tribun Jatim dan Harian Surya, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Pedagang Mengeluh Pasar Wonokromo Sepi Meski Harga Bahan Pokok Stabil saat Ramadan 2026

Digitalisasi Ubah Pola Belanja Masyarakat

Meski harga relatif aman, Prof. Rossanto menilai penurunan aktivitas di pasar tradisional lebih disebabkan perubahan perilaku konsumen yang kini semakin terbiasa berbelanja secara online.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik percepatan digitalisasi. Masyarakat kini semakin akrab dengan marketplace maupun transaksi melalui media sosial seperti Facebook dan aplikasi pesan instan.

“Sekarang masyarakat sudah terbiasa dengan handphone. Semua serba online. Pola belanja berubah dan ini saya pikir sudah menjadi pola permanen,” tegasnya.

Kemudahan, kepraktisan, serta layanan antar langsung ke rumah membuat sebagian konsumen memilih berbelanja bahan pokok tanpa harus datang ke pasar tradisional.

Daya Beli dan Menyusutnya Kelas Menengah

Selain faktor digitalisasi, Prof. Rossanto juga menyoroti dampak jangka panjang pandemi terhadap struktur ekonomi masyarakat. Ia menyebut pandemi telah menurunkan jumlah kelas menengah di Indonesia.

“Sebelum Covid-19, kelas menengah kita sekitar 59 juta orang. Setelah pandemi turun menjadi sekitar 49 juta. Sampai sekarang belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.

Penurunan kelas menengah ini berimbas pada daya beli masyarakat yang belum kembali seperti sebelum pandemi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang masih di kisaran lima persen dinilai belum cukup untuk mengakselerasi pemulihan pendapatan masyarakat secara signifikan.

“Kalau ingin mengejar kembali kondisi sebelum Covid-19, pertumbuhan ekonomi harus lebih top lagi agar bisa meng-catch up kelas menengah yang hilang,” tambahnya.

Ia juga menyoroti kelompok usia di atas 40 tahun yang sempat terkena PHK saat pandemi. Kelompok ini dinilai lebih sulit kembali ke pasar kerja, sehingga berdampak pada stabilitas pendapatan rumah tangga.

Pasar Tradisional Perlu Pembenahan

Terkait solusi, Prof. Rossanto menekankan pentingnya pembenahan menyeluruh pasar tradisional, baik dari sisi fisik maupun tata kelola.

Menurutnya, citra pasar tradisional yang identik dengan kumuh dan kotor masih menjadi hambatan utama. Pemerintah daerah perlu melakukan revitalisasi, peningkatan kebersihan, serta penataan fasilitas agar lebih nyaman bagi pembeli.

“Image pasar tradisional yang kumuh dan kotor harus diperbaiki. Fasilitasnya juga perlu dibenahi,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya transparansi harga antar pedagang agar tidak terjadi disparitas yang membingungkan konsumen. Informasi harga yang jelas dan seragam dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pembeli.

“Informasi harga harus sempurna. Kalau harga telur sekian, ya sebaiknya relatif sama antar pedagang, supaya konsumen merasa nyaman,” katanya.

Tantangan Pasar Tradisional di Era Digital

Fenomena sepinya Pasar Wonokromo meski harga bapok stabil menjadi gambaran tantangan pasar tradisional di era digital. Stabilitas harga bukan lagi satu-satunya faktor penentu ramainya transaksi.

Perubahan perilaku konsumen, tekanan daya beli, hingga faktor kenyamanan dan kebersihan pasar menjadi variabel penting yang harus segera direspons.

Jika tidak beradaptasi, pasar tradisional berpotensi semakin tergerus oleh platform digital yang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi.

Prof. Rossanto berharap ada kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola pasar, dan pedagang untuk menghidupkan kembali pasar tradisional, khususnya di momentum Ramadan yang biasanya menjadi pendorong konsumsi rumah tangga.

“Perlu ada gerakan bersama untuk mengembalikan minat masyarakat agar kembali ke pasar tradisional,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.