TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Ketegangan geopolitik antara Israel yang didukung Amerika Serikat dengan Iran kian memanas dan memicu kekhawatiran global.
Eskalasi konflik yang melibatkan serangan balasan, ancaman penutupan jalur strategis, hingga pengerahan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, menilai konflik antarnegara besar tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia.
“Jika yang kita lihat hari ini adalah permasalahan geopolitik, perseteruan antarnegara-negara besar, tentu hal ini akan ada dampaknya ke perdagangan internasional Indonesia, terutama perdagangan yang melalui jalur laut yang nantinya akan terhambat dengan situasi perang,” ujar Harif, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, jalur distribusi global berpotensi mengalami gangguan apabila konflik meluas, terlebih jika menyentuh kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan biaya logistik dan keterlambatan pengiriman barang.
Ia menjelaskan, komoditas impor yang didatangkan dari luar negeri sangat mungkin mengalami kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok.
“Tentu barang-barang atau komoditi impor yang didatangkan dari luar akan terjadi lonjakan harga. Dengan adanya perang ini, kemungkinan akan ada peralihan distribusi jalur barang karena menghindari risiko dampak perang,” katanya.
Selain itu, penundaan distribusi secara global akan berpengaruh pada ketersediaan barang. Jika suplai menurun sementara permintaan tetap, harga dipastikan naik dan berdampak hingga ke tingkat lokal.
“Namun jika dilihat, hal tersebut tidak akan terlalu berdampak pada komoditi-komoditi lokal. Yang terpengaruh tentu komoditi yang peredarannya secara global, seperti minyak yang bisa saja terjadi kenaikan,” jelasnya.
Harif mengingatkan, apabila konflik berlangsung dalam waktu lama, dampaknya bisa semakin luas dan merembet ke berbagai sektor domestik. Padahal, kondisi ekonomi nasional saat ini masih dalam fase pemulihan dan mengejar target pertumbuhan.
“Kalau ini terlalu berlarut, jangka panjangnya pasti akan berdampak ke lokal. Harapan kita tentu ini bisa segera mereda, karena ekonomi kita saat ini bisa dikatakan masih sulit dan sedang mengejar target pertumbuhan,” ungkapnya.
Tak hanya sektor riil, pasar keuangan juga dinilai rentan terdampak. Ia memprediksi bursa saham berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen negatif global.
“Dampak dari perang geopolitik ini bisa saja bursa saham anjlok, terjadi pelemahan di trading. Dengan menurunnya transaksi perdagangan tentu terjadi penurunan di sektor perekonomian. Salah satu indikator perekonomian kan bursa, jadi indeks di bursa efek bisa berpengaruh dan terjadi penurunan,” katanya.
Jika indeks saham turun, investor berisiko mengalami kerugian karena nilai portofolio yang dipegang menyusut. Kondisi tersebut mencerminkan perlambatan ekonomi.
“Jika terjadi penurunan, maka investor akan merasa rugi karena nilai saham yang dipegang itu turun. Harapannya kan naik, tentu itu mencerminkan ekonomi bagus jika indeks meningkat,” ujarnya.
Selain pasar modal, nilai tukar rupiah juga dinilai sensitif terhadap gejolak geopolitik. Ketidakpastian global kerap mendorong investor menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset yang lebih aman.
“Kemungkinan akan terjadi pelemahan mata uang karena stabilitas nilai tukar di Indonesia sangat sensitif dengan situasi geopolitik. Rupiah bisa mengalami depresiasi,” jelas Harif.
Pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada barang impor yang dibayar menggunakan dolar Amerika Serikat, termasuk produk teknologi yang selama ini banyak digunakan di dalam negeri.
“Barang-barang impor yang dibayar dengan dolar tentu akan terdampak, seperti produk teknologi yang penggunaannya cukup besar di Indonesia,” tambahnya.
Di sisi lain, kondisi ketidakpastian global biasanya mendorong investor mengalihkan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti logam mulia.
“Dengan nilai investasi atau saham yang turun, investor bisa saja beralih ke komoditi yang lebih berpotensi lebih baik, seperti logam mulia. Saat ini kita lihat logam mulia menjadi investasi yang aman dan menjanjikan, terbukti tingkat keuntungannya terus naik dalam satu tahun terakhir,” katanya.
Ia memperkirakan harga emas dan logam mulia lainnya berpotensi terus meningkat seiring meningkatnya permintaan sebagai safe haven asset.
“Bisa saja harga logam mulia seperti emas akan terus naik, sehingga orientasi masyarakat beralih ke investasi tersebut,” pungkasnya.
Meski demikian, Harif berharap konflik tidak berkepanjangan agar dampak terhadap perekonomian global maupun nasional dapat diminimalisasi.