Sosok Ayatullah Ali Khamenei dan Cincin Berukir Ayat Alquran Yang Dikenakan, Ini Arti dan Maknanya
Wiwit Purwanto March 01, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id  – Ada yang menarik dari pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei saat masih hidup, ia sempat mencuri perhatian, terutama di media sosial.

Dalam "tradisi" muslim Syiah, mengenakan cincin diyakini bagian dari praktik yang sangat ditekankan ajaran Nabi Muhammad serta Ahlulbait (keluarga nabi)

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, diketahui sebagai sosok yang mengikuti "tradisi" dengan konsisten. 

Dalam berbagai penampilan publik—baik pertemuan resmi, acara keagamaan, maupun seremoni—Ali Khamenei sering terlihat mengenakan cincin perak yang berbeda-beda. 

Cincing Berukir Ayat Al Quran

Cincin-cincin tersebut bukan sekadar perhiasan, melainkan dipilih berdasarkan makna mendalam dan sifat-sifat yang dikaitkan dengan setiap batu dalam tradisi Islam.

Baca juga: Rekam Jejak Ali Khamenei yang Tewas Akibat Serangan AS-Israel: Lawan Rezim Shah, Revolusi Islam Iran

Misalnya, dalam acara tadarusan Alquran di Teheran, Ibu Kota Iran, hari-hari pertama bulan suci Ramadan, Ali Khamenei mengenakan cincin yang bertulisan sebuah penggalan ayat suci Alquran.

Di cincin itu terukir penggalan ayat berbahasa Arab: إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (Inna ma‘iya rabbī sayahdīni) dari QS. Asy-Syu‘ara (26): 62.

Penggalan ayat tersebut memiliki terjemahan: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” 

Ini adalah ucapan Nabi Musa ketika dikejar Fir’aun dan laut terbentang di depan.

Ayat ini, oleh ulama-ulama Islam, ditafsirkan menggambarkan keteguhan iman dan tawakal Nabi Musa saat menghadapi situasi kritis, di mana ia dengan tegas menolak keputusasaan pengikutnya melalui kata "kalla" (sekali-kali tidak) demi meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan tertangkap oleh kejaran Fir'aun. 

Baca juga: Duduk Perkara Israel Serang Iran: Berawal dari Revolusi Tahun 1979 hingga Pecah Perang Terbuka

Dengan keyakinan penuh bahwa Allah senantiasa menyertainya (inna ma'iya Rabbi), Musa memberikan jaminan bahwa pertolongan serta jalan keluar pasti akan datang sebagai petunjuk dari Allah bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya. 

Nama Ali Khamenei kini menjadi sorotan dunia setelah gugur karena serangan udara Amerika Serikat-Israel.

Ali Khamenei memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei dan lahir pada 19 April 1939.

Ali khamenei dikenal luas sebagai seorang ulama sekaligus tokoh politik berpengaruh di Iran.

Sejak tahun 1989, Ali khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, posisi tertinggi dalam struktur pemerintahan negara tersebut.

Dengan masa kepemimpinannya yang panjang, Ali khamenei menjadi kepala negara dengan masa jabatan terlama di kawasan Timur Tengah. 

Selain itu, ia juga tercatat sebagai pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua pada abad ke-20 dan ke-21, setelah Mohammad Reza Pahlavi.

Bukan Sekadar Pemimpin Iran

Banyak yang belum mengetahui, selain menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei juga dikenal sebagai seorang ulama Syiah yang memiliki pengaruh luas di kalangan pengikut Syiah. 

Dalam tradisi Islam Syiah, seorang ulama yang memiliki kualifikasi tinggi di bidang agama bisa diikuti sebagai marja’ (sumber rujukan dalam fiqh). 

Ada banyak orang—termasuk di luar Iran—yang mengaku mengikuti Ali Khamenei sebagai marja’ mereka dalam hal rujukan hukum Islam.

Bahkan, keputusan, dan fatwa Ali Khamenei sering diikuti atau dibaca oleh jutaan orang Syiah di berbagai negara. Ini membuat pengaruhnya melampaui batas Iran sendiri.

Iran berduka

Iran berduka atas wafatnya Khamenei. Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebutnya sebagai ulama besar dan “pemimpin para syuhada Revolusi Islam.” 

Mereka menegaskan bahwa kesyahidannya tidak akan menghentikan jalannya, melainkan memperkuat tekad rakyat Iran untuk melanjutkan warisannya. 

Pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur resmi. Dewan Keamanan Nasional menilai kesyahidannya akan menjadi katalis kebangkitan besar melawan tirani global.

Serangan ini terjadi setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan pada 28 Februari, di tengah pembicaraan nuklir. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi itu sebagai langkah untuk menghapus “ancaman eksistensial” dan mengubah lanskap strategis kawasan. 

Ledakan dilaporkan terjadi di Tehran, Qom, Tabriz, dan Khorramshahr, disusul penutupan wilayah udara Iran dan regional.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke arah Israel, dengan laporan serangan mencapai Tel Aviv, Haifa, dan wilayah Palestina yang diduduki. 

Media Iran menyebut serangan itu sebagai “balasan menghancurkan” terhadap entitas Zionis. Selain itu, ledakan juga dilaporkan di sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Rantai Komando Iran Tidak Terganggu

Satu hal yang menarik perhatian analis maupun pengamat Barat, struktur komando Iran masih utuh dan merespons dengan terkoordinasi.

Tampaknya kelompok Garda Revolusi dan ulama kini memegang kendali dan perang akan terus berlanjut meskipun Ayatullah Khamenei telah gugur.

Pada usia 86 tahun, kematian Ayatullah Ali Khamenei justru disebut menjadi faktor pemersatu, alih-alih berujung pada kekacauan seperti yang diharapkan Israel dan Amerika Serikat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.