Konflik Iran–AS Memanas, Indonesia Dinilai Punya Ruang Diplomasi Besar
Heri Prihartono March 01, 2026 03:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat saat ini tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar eskalasi diplomatik atau ancaman konflik.

Faktanya, dunia kini sudah memasuki fase konfrontasi militer langsung antarpemain negara.

Serangan yang terjadi kemarin terhadap infrastruktur strategis dan kepemimpinan Iran, kemudian dibalas serangan rudal serta drone terhadap kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah, menandai perubahan signifikan dalam politik internasional.

Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Politik Universitas Jambi, Moh Arief Rakhman, S.IP., M.I.Pol, saat dihubungi Tribunjambi.com melalui pesan WhatsApp, Minggu (1/3/2026).

Dia mengatakan, konflik Timur Tengah kembali naik dari tingkat proxy conflict menuju direct interstate confrontation.

“Ini membuktikan bahwa Israel pun dapat menempatkan negara sebesar AS berada dalam posisi proxy-nya,” ujarnya.

Arief menuturkan, dampak politik global tidak hanya berupa peningkatan ketegangan keamanan, tetapi juga risiko ketidakstabilan sistem internasional.

“Konflik ini terjadi di pusat geopolitik energi dunia dan melibatkan aktor dengan kapasitas eskalasi tinggi,” tuturnya.

Dia menjelaskan, dalam perspektif hubungan internasional, yang menarik bukan semata-mata fakta saling serang tersebut.

“Tetapi bagaimana konflik ini tampak tetap berada dalam batas tertentu, seolah ada mekanisme tidak tertulis untuk menjaga eskalasi agar tidak berubah menjadi perang besar,” jelasnya.

“Di sinilah letak aspek geopolitik yang menarik. Politik global sering berjalan sebagai strategic buffering, yakni distribusi informal peran stabilisasi kepada negara tertentu agar konflik tidak meluas ke aktor yang paling berbahaya,” lanjutnya.

Arief mencontohkan konflik Afghanistan dan Pakistan yang menunjukkan bahwa Pakistan selama bertahun-tahun berfungsi sebagai penyangga konflik regional, sehingga negara berkekuatan nuklir tidak langsung masuk ke perang terbuka.

Sementara dalam isu Gaza dan dinamika dunia Muslim, Indonesia sering berada pada posisi unik.

Bukan sebagai aktor militer, tetapi sebagai penyalur tekanan politik dan moral internasional melalui berbagai gerakan masyarakat sipil, mulai dari donasi hingga demonstrasi.

“Ini penting karena membantu menjaga agar solidaritas global tetap tersalurkan tanpa meningkatkan risiko eskalasi keamanan,” katanya.

Karena itu, Arief menilai dampak politik global dari saling serang hari-hari ini lebih besar daripada sekadar perang regional.

Konflik tersebut menunjukkan bahwa tatanan internasional sedang bergerak menuju fase baru.

“Dunia tidak lagi bebas konflik, tetapi konflik dikelola sedemikian rupa agar tetap panas di tingkat regional, tanpa memicu tabrakan langsung antarkekuatan besar yang dapat mengguncang struktur sistem internasional,” jelasnya.

Dampak di Indonesia

Arief mengatakan, babak baru konflik Iran–Amerika Serikat justru menghadirkan dinamika menarik bagi posisi Indonesia dalam politik internasional.

Jika sebelumnya Indonesia lebih banyak berperan menyerukan deeskalasi, pernyataan Presiden Prabowo kemarin mengenai kesiapan menjadi mediator menunjukkan upaya reposisi peran Indonesia di tengah krisis global.

“Dengan perkembangan diplomasi Indonesia belakangan ini, langkah itu mungkin tampak naif, tetapi tetap menunjukkan sinyal repositioning,” katanya.

Arief menegaskan bahwa langkah mediasi tidak bisa dibaca sekadar sebagai respons moral atau solidaritas politik.

Melainkan sinyal bahwa Indonesia ingin memainkan fungsi yang lebih strategis sebagai middle power, yaitu negara yang tidak dominan secara militer tetapi memperoleh pengaruh melalui diplomasi dan legitimasi politik internasional.

“Momentum konflik sering membuka ruang bagi negara seperti Indonesia untuk tampil sebagai penengah karena relatif diterima oleh banyak pihak dan tidak dipersepsikan sebagai ancaman,” jelasnya.

Jika dimanfaatkan dengan baik, kondisi ini dapat menjadi peluang positif bagi Indonesia.

Arief menjelaskan, secara lebih luas, langkah mediasi juga memperlihatkan realitas kompleks dalam struktur politik global saat ini.

Konflik besar tetap berlangsung, tetapi sistem internasional membutuhkan aktor moderat untuk memastikan eskalasi tidak meluas.

Pada titik itu, Indonesia berada di posisi ‘aman tetapi penting’: cukup relevan secara politik untuk berbicara, namun tidak cukup ofensif secara militer untuk memperburuk situasi.

“Inilah sebabnya Indonesia sering muncul dalam isu Palestina, krisis kemanusiaan, maupun konflik dunia Islam sebagai kanal diplomasi yang menyerap tekanan global tanpa meningkatkan risiko perang antarnegara,” ujarnya.

Ketika kekuatan besar berhadap-hadapan secara militer, ruang diplomasi justru diisi oleh negara-negara seperti Indonesia.

Di sinilah dampak politik sebenarnya bagi Indonesia muncul. Inisiatif menjadi mediator bukan hanya soal membantu perdamaian Iran dan Amerika, tetapi tentang bagaimana Indonesia sedang menguji batas perannya dalam sistem internasional.

Semakin aktif Indonesia terlibat dalam diplomasi konflik global, semakin besar ekspektasi dunia terhadap kapasitas kepemimpinan internasionalnya.

Namun, Arief mengingatkan bahwa Indonesia harus menjaga keseimbangan yang sangat sensitif: hubungan strategis dengan Amerika Serikat dalam ekonomi dan pertahanan tidak boleh terganggu, sementara legitimasi domestik sebagai negara yang konsisten membela isu dunia Islam juga harus tetap terjaga.

Ini adalah dilema klasik middle power: ingin naik kelas, tetapi harus berhati-hati agar tidak terseret rivalitas kekuatan besar.

“Konflik Iran–Amerika yang melibatkan Israel memperlihatkan dinamika yang lebih besar daripada sekadar krisis Timur Tengah,” terangnya.

“Indonesia sedang bergerak dari posisi penonton geopolitik menjadi pemain diplomatik, meskipun masih dalam ruang yang terbatas,” sambungnya.

Arief mengatakan, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia terdampak konflik tersebut, tetapi apakah Indonesia siap ketika dunia mulai melihatnya sebagai bagian dari solusi konflik internasional.

“Di sinilah paradoks politik luar negeri Indonesia: semakin dunia tidak stabil, semakin besar peluang Indonesia untuk relevan, tetapi sekaligus semakin tinggi risiko yang harus dikelola,” ujarnya.

Dampak di Jambi

Arief menjelaskan, meski konflik Iran–Amerika Serikat terlihat jauh dari Jambi secara geografis, dampaknya tetap terasa di sektor ekonomi.

“Dalam perspektif ekonomi politik internasional, dampaknya justru bisa turun perlahan hingga ke level daerah melalui mekanisme pasar global,” katanya.

Dia menuturkan, dalam sistem ekonomi dunia yang saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu memengaruhi harga energi dan biaya logistik internasional.

Dampak tersebut kemudian merambat ke daerah berbasis komoditas seperti Jambi. Ketika ketegangan militer meningkat dan risiko terhadap jalur energi global naik, harga minyak dunia ikut terdorong naik.

Hal itu akhirnya meningkatkan biaya transportasi, distribusi, dan produksi, termasuk aktivitas ekspor dan impor di daerah.

“Bagi Jambi yang sangat ekstraktif, dampak paling realistis bukan gangguan perdagangan langsung, tetapi perubahan struktur keuntungan komoditas ekspor,” katanya.

Ekonomi Jambi sangat bergantung pada komoditas global seperti CPO, karet, batubara, dan produk turunan perkebunan yang harganya ditentukan dinamika pasar internasional.

Dalam situasi konflik global, biasanya terjadi dua kemungkinan sekaligus: pelemahan nilai rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif, namun kenaikan biaya energi dan freight justru menekan margin pelaku usaha daerah.

“Konflik geopolitik global sering menciptakan paradoks: nilai ekspor bisa naik secara nominal, tetapi keuntungan riil belum tentu meningkat,” jelasnya.

“Sementara pemerintah kini tengah gencar melakukan hilirisasi, struktur pasar tetap sangat dipengaruhi faktor eksternal,” ujarnya.

Dia menambahkan, konflik global juga memengaruhi keputusan investasi dan arus perdagangan jangka pendek.

Ketika ketidakpastian meningkat, perusahaan internasional cenderung menahan kontrak baru atau menyesuaikan volume impor.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat muncul beberapa bulan kemudian dalam bentuk perlambatan permintaan komoditas atau perubahan jalur perdagangan.

Dalam konteks ini, Jambi berada dalam posisi yang sangat tergantung pada stabilitas global.

“Ini contoh nyata bahwa ekonomi daerah hari ini tidak lagi sepenuhnya lokal, melainkan bagian dari rantai ekonomi politik internasional,” katanya.

Arief menegaskan bahwa konflik Iran–Amerika memperlihatkan satu pelajaran penting: geopolitik dunia kini tidak berhenti di level negara, tetapi menjalar hingga ke ekonomi daerah.

“Apa yang terjadi di Teluk Persia dapat memengaruhi biaya angkut di pelabuhan-pelabuhan Sumatra, harga komoditas petani, hingga keputusan ekspor perusahaan di Jambi,” jelasnya.

“Meski Jambi tidak terlibat langsung, daerah tetap menjadi penerima dampak turbulensi sistem global,” pungkasnya.

(Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Iran Akan Balas Kematian Ayatollah Khamenei dan Buat AS-Israel Menyesal

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.