Serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) membuat langit di atas Iran kosong dari penerbangan sipil. Dampaknya meluas ke kawasan Teluk, dengan wilayah udara Irak, Kuwait, Suriah, Israel, hingga Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain ikut sepi dari lalu lintas pesawat komersial.
Berdasarkan pantauan aplikasi pelacak penerbangan pada Minggu (1/3) pukul 16.00 WIB, tidak terlihat pesawat komersial melintasi kawasan tersebut. Sebaliknya, wilayah udara di luar zona konflik tampak tetap padat seperti biasa.
Sejak hari pertama serangan, maskapai-maskapai internasional memilih membatalkan atau mengalihkan rute demi alasan keselamatan.
Ruang udara Iran kosong pada Minggu (1/3/2026) sore. (Tangkapan layar FlightRadar24)
|
Eskalasi bermula setelah negosiasi nuklir dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. AS dan Israel kemudian melancarkan serangan ke sejumlah wilayah strategis di Iran. Organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran menyebut sedikitnya 20 dari 31 provinsi menjadi sasaran serangan.
Sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Menteri Pertahanan Amir Hatami dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammed Pakpour. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump juga meyakini Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei turut tewas dalam serangan tersebut.
"Ali Khamenei sudah tewas. Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," kata Trump, dikutip
Dia juga menyebut operasi militer itu sebagai langkah untuk menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat.
[Gambas:Instagram]
Iran membalas serangan tersebut dengan menggempur pangkalan di kawasan Teluk. Situasi ini membuat penerbangan komersial menjauhi wilayah udara negara-negara sekitar. Sejumlah maskapai mengumumkan pembatalan penerbangan menuju Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Pantauan menunjukkan pesawat dari Asia yang hendak menuju Eropa atau Timur Tengah terpaksa memutar, sebagian melalui Turki di utara atau Arab Saudi di selatan. Peta penerbangan di kawasan Teluk tampak kosong dari lalu lintas sipil.
Di tengah kosongnya penerbangan komersial, terpantau satu pesawat tak dikenal mondar-mandir di wilayah UEA. Sementara di Qatar, terlihat satu jet tempur Eurofighter Typhoon FGR4 milik Angkatan Udara Qatar yang bersiaga.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan ruang udara di kawasan tersebut akan kembali dibuka sepenuhnya.








