TRIBUNTRENDS.COM - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bukan hanya mengguncang panggung politik Teheran, tetapi juga menggetarkan hati jutaan rakyat yang mengenangnya sebagai figur spiritual dengan akar keturunan dari keluarga Nabi Muhammad.
Dalam tradisi Syiah, Khamenei dikenal sebagai sayyid — gelar yang menunjukkan garis keturunan dari Rasulullah melalui putrinya Fatimah dan Ali Zayn al‑Abidin, sehingga kedudukannya di mata pendukungnya memiliki makna religius yang mendalam.
Kini, duka atas kepergiannya mencerminkan tidak hanya kehilangan pemimpin politik, tetapi juga sosok yang dipandang memiliki hubungan istimewa dengan sejarah keluarga Nabi Muhammad.
Sepeti diketahui, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei wafat dalam serangan Israel-Amerika Serikat yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026).
Laporan kematian Khamenei itu disampaikan tv pemerintahan Iran IRINN dan dikutip sejumlah media Barat pada Minggu (29/2/2026).
Disebutkan pemerintahan Republik Islam itu mengumumkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional atas kematian Khamenei.
Pemerintah Iran sendiri bersumpah tidak akan berhenti melawan meski pemimpin mereka telah tewas diserang sekutu AS.
Militer Iran berjanji akan membalas kematian Khamenei dan itu akan menjadi awal pemberontakan Republik Islam terhadap para penindas.
Selain Khamanei, kerabat pemimpin tertinggi Iran itu juga dilaporkan tewas dalam serangan rudal AS-Israel mulai dari menantu, anak, hingga cucu.
Belum diketahui apakah kematian Khamanei menjadi awal dari runtuhnya Republik Islam di Iran.
Sebab diketahui Sayyid Syarif Ali Hosseini Khamenei Al-Husaini adalah Marja Muslim Syiah dan pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Khamenei juga diyakini secara luas merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Imam Husein, cucu Nabi.
Sebagai seorang Sayyid (sebutan untuk keturunan Nabi), silsilahnya terhubung melalui garis Imam ke-4 Syiah, Ali al-Sajjad, hingga mencapai generasi ke-38 Nabi Muhammad SAW.
Garis keturunan ini sering dianggap memperkuat legitimasi dan otoritas spiritual-politiknya di Iran.
Khamenei sering mengenakan sorban hitam, yang secara simbolis menunjukkan statusnya sebagai keturunan Nabi dalam tradisi Islam Syiah.
Menurut Pasal 107 dan 110 Konstitusi Republik Islam Iran, ia adalah pejabat tertinggi negara dan Panglima Angkatan Bersenjata.
Khamenei juga tokoh revolusi Iran yang meruntuhkan rezim Reza Pahlevi yang condong pro barat.
Setelah Revolusi Iran tahun 1978, Khamenei menjadi anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, dan Wakil Menteri Pertahanan.
Kemudian ia menjadi wakil Teheran di Majelis Permusyawaratan Islam untuk satu periode dan Presiden Iran untuk dua periode.
Baca juga: Ribuan Warga Iran Menangis hingga Pingsan Dengar Kematian Ali Khamenei: Menyesakkan Hati!
Usai kematian Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, Majelis Ahli memilihnya sebagai pemimpin kedua Iran.
Ali Khamenei berkuasa sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Iran sejak 4 Juni 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini yang wafat.
Ia resmi dilantik pada 6 Agustus 1989 dan menjadi pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama di era modern, memegang kontrol penuh atas militer dan kebijakan negara hingga saat ini.
Saat ini belum diketahui siapa pengganti kepemimpinan Khamenei dalam Republik Islam Iran.
Namun sebelum pertempuran pecah, Khamenei mengaku sudah menyiapkan penggantinya.
Meski begitu ini juga menjadi ancaman hancurnya Republik Islam Iran mengingat gelombang unjuk rasa dari kelompok liberal di Iran semakin menguat belakangan terakhir.
Unjuk rasa ini didorong dari frustasinya masyarakat Iran dengan kondisi ekonomi negara tersebut sejak minyak mereka diblokir oleh barat.
Namun Iran menuding ada campur tangan AS dan Israel dalam kerusuhan di Iran yang terjadi baru-baru ini.