Perang Iran–AS Berkecamuk, Sosiolog Aceh Kupas Arti Sebenarnya Kata “Menang” bagi Amerika
Saifullah March 01, 2026 09:35 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, jet-jet tempur Amerika Serkat (AS) meluncur tajam menuju langit Iran, menembus senyap dengan tujuan lebih dari sekadar menghancurkan fasilitas nuklir. 

Serangan ini dimaksudkan untuk memaksa pergantian rezim, dan klaim untuk membuka jalan bagi kebebasan rakyat Iran. 

Namun, dalam hitungan jam, balasan Iran menghujani pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, serta wilayah sekutu regional termasuk Israel, yang menjadi mitra strategis utama AS di Timur Tengah, Yordania, dan Arab Saudi. 

Setiap misil yang melesat bukan hanya simbol kekuatan militer, tetapi juga cermin ketegangan geopolitik yang membara--sebuah pertaruhan besar tentang siapa yang akan mengendalikan masa depan Iran dan bagaimana dunia akan menyaksikan pergulatan ini. 

Israel, dengan posisinya sebagai sasaran potensial dan sekutu militer AS, berada di garis depan konsekuensi langsung dari konflik ini.

Sosiolog Aceh, Prof Humam Hamid menekankan bahwa pertanyaan paling mendasar dari serengan AS ini adalah apa sebenarnya arti “menang” bagi Amerika Serikat? 

Baca juga: Warga Iran Tumpah Ruah ke Jalan Tangisi Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Apakah kemenangan berarti kematian Ali Khamenei, kehancuran fasilitas nuklir, pergantian rezim, atau terciptanya perubahan politik yang nyata bagi rakyat Iran? 

“Sejarah intervensi AS di Timur Tengah menunjukkan bahwa hasil perang jarang sesuai target, penggulingan Muammar Khadafi di Libya meninggalkan kekacauan dan milisi bersenjata; penempatan presiden boneka di Afghanistan tidak menciptakan stabilitas; rezim Irak pasca-invasi AS tetap bergelut dengan konflik internal,” ujar Prof Humam kepada Serambinews.com, Minggu (1/3/2026).

Israel, menurut Prof Humam, sebagai negara tetangga Iran dengan ancaman keamanan langsung, selalu menjadi faktor kunci dalam perhitungan strategi militer AS, dan setiap eskalasi akan memengaruhi keamanan domestik dan politik regionalnya.

“Tindakan militer sepihak, tanpa strategi politik jangka panjang, sering berakhir dengan wajah memelas bagi kekuatan luar,” jelas Prof Humam. 

“Sejarah Afghanistan, Irak, dan Libya memperingatkan kita bahwa kemenangan militer bukan jaminan pengaruh politik atau perdamaian. Potensi kekacauan di Iran setelah serangan ini bisa sangat besar, dan Israel berada tepat di tengah risiko ini,” urai dia.

Prof Humam menegaskan bahwa konflik ini adalah ujian bagi semua pihak.

Baca juga: VIDEO - Iran Klaim Hantam Kapal Perang AS, Markas Armada Kelima di Bahrain Jadi Sasaran

Bagi AS yang harus memahami tujuan sebenarnya, bagi rakyat Iran yang menghadapi ketidakpastian, bagi Israel yang menghadapi risiko serangan balasan langsung, dan bagi dunia yang menyaksikan dampak geopolitik luas. 

“Pertanyaannya sederhana, apakah tujuan serangan ini benar-benar untuk menciptakan stabilitas, atau justru memicu konflik yang berkepanjangan?” ungkapnya.

Potensi Dampak untuk Indonesia

Prof Humam juga memaparkan, jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, setiap kenaikan harga energi bisa langsung menjadi isu politis. 

Dinamika ini bukan sekadar teori, tetapi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan sosial.

Serangan militer AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, serta balasan Iran yang menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan markas Armada Kelima di Bahrain, menunjukkan eskalasi dengan potensi dampak global. 

Indonesia, yang sebagian besar kebutuhan minyaknya masih impor, akan langsung merasakan tekanan ini. 

Harga minyak Brent telah melampaui US$66 per barel pada awal 2026, sementara proyeksi pasar menunjukkan rata-rata US$55 per barel dalam skenario normal. 

Baca juga: Menteri Perang AS Pete Hegseth Bersumpah Hancurkan Angkatan Laut Iran

“Namun, jika ekspor Iran terganggu atau terjadi eskalasi lebih lanjut, Brent dapat melonjak hingga US$71 per barel di kuartal kedua dan mendekati US$91 per barel di akhir tahun,” tutur dia. 

“Risiko tertinggi muncul jika Selat Hormuz terganggu, jalur yang menyalurkan hampir 20 persen minyak global,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan harga energi berdampak pada biaya produksi, logistik, dan inflasi domestik, yang menekan daya beli masyarakat dan ruang fiskal pemerintah. 

Dalam konteks politik domestik, ini menjadi ujian bagi rezim Prabowo. 

“Setiap kenaikan harga energi bisa langsung menjadi isu politis. Pemerhati kebijakan pemerintah dapat menyoroti jika respons pemerintah belum memadai, sehingga ancaman bagi stabilitas rezim bukan sekadar teori, tetapi nyata,” lanjutnya.

Baca juga: Ulama Aceh Kecam Penyerangan AS-Israel ke Iran, Minta Pemimpin Muslim Bantu Teheran

“Selain dampak ekonomi, ketegangan global juga menyoroti risiko geopolitik dan potensi gangguan arus perdagangan. Lonjakan harga energi dan volatilitas pasar dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, tekanan fiskal, dan stabilitas sosial,” pungkasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.