BANGKAPOS.COM – Dunia internasional digemparkan dengan kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).
Banyak yang bertanya, siapa Ayatollah Ali Khamenei sebenarnya?
Mengapa sosoknya begitu sakral bagi Republik Islam Iran dan bagaimana pengaruhnya di kancah global?
Lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, Ali Khamenei adalah anak kedua dari delapan bersaudara.
Ia tumbuh di bawah bayang-bayang rezim sekuler Shah Mohammad Reza Pahlavi yang saat itu mencurigai gerakan keagamaan.
Berikut adalah poin utama perjalanan hidup Ali Khamenei:
Khamenei dikenal sebagai pria pendiam penyuka puisi yang pernah masuk dalam daftar "Orang Paling Berpengaruh di Dunia" versi Forbes. Bagi rakyat Iran, ucapannya adalah titah yang tak terbantahkan.
Serangan yang menewaskan Khamenei terjadi di dekat kantornya di Teheran menyusul kegagalan negosiasi nuklir antara AS dan Iran.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan serangan tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman langsung.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan rudal dan drone ke Markas Armada Kelima AS di Bahrain, pangkalan di Qatar, UEA, serta target militer di Israel.
Saat ini, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung nasional.
Wafatnya Khamenei memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan Iran.
Empat skenario membayangi negara ini:
Seyyed Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, muncul sebagai kandidat kuat.
Mojtaba dikabarkan telah disiapkan selama dua tahun terakhir sebagai penerus.
Meskipun keputusan akhir berada di tangan Majelis Pakar (lembaga berisi 88 ulama senior), dukungan terhadap Mojtaba di kalangan elit intelijen dan militer dilaporkan sangat kuat.
Posisi Rahbar bukan sekadar jabatan politik, melainkan otoritas keagamaan tertinggi yang setara dengan posisi Paus di Vatikan dalam konteks tata negara.
Ia adalah Panglima Tertinggi angkatan bersenjata yang memiliki kata akhir atas segala kebijakan negara.
Kematian Ali Khamenei menandai berakhirnya sebuah era panjang di Iran dan membuka babak baru bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah. (bangkapos.com/ Tribunnews/ Tribun Bogor)