TRIBUN-MEDAN.com - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya terkonfirmasi tewas dalam serangan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Media pemerintah Iran, dilansir Aljazeera, Minggu (1/3/2026) melaporkan, sejumlah keluarga Khamenei juga meninggal dunia, yakni putri Khamenei, menantu, dan cucunya.
Media pemerintah Iran juga menyatakan, serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan telah menewaskan sedikitnya 108 orang, dan sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas.
Hal tersebut disampaikan Trump dalam platform Truth Social, Minggu (1/3/2026) pagi waktu setempat.
Trump menyebut, kematian Khamenei memberikan keadilan bagi masyarakat Iran dan juga masyarakat dunia yang anggota keluarganya telah dibunuh.
"Dia (Khamenei) tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan kami yang sangat canggih dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang dapat dilakukan dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya," tulis Trump.
Institusi Iran berduka atas wafatnya Khamenei. Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebutnya sebagai ulama besar dan “pemimpin para syuhada Revolusi Islam.”
Mereka menegaskan bahwa kesyahidannya tidak akan menghentikan jalannya, melainkan memperkuat tekad rakyat Iran untuk melanjutkan warisannya.
Pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur resmi.
Dewan Keamanan Nasional menilai kesyahidannya akan menjadi katalis kebangkitan besar melawan tirani global.
Serangan ini terjadi setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan pada 28 Februari, di tengah pembicaraan nuklir.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi itu sebagai langkah untuk menghapus “ancaman eksistensial” dan mengubah lanskap strategis kawasan.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke arah Israel, dengan laporan serangan mencapai Tel Aviv, Haifa, dan wilayah Palestina yang diduduki.
Selain itu, ledakan juga dilaporkan di sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran, menyusul konfirmasi kematian Khamenei.
IRGC menegaskan, serangan tersebut akan menargetkan wilayah pendudukan dan pangkalan Amerika di Timur Tengah, demikian laporan Al Jazeera.
Pengumuman ini muncul setelah stasiun televisi Pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei.
Dalam pernyataan terpisah, IRGC bersumpah akan menghukum pihak-pihak yang mereka sebut “para pembunuh” Pemimpin Iran berusia 86 tahun itu.
“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat,” demikian bunyi pernyataan Garda.
IRGC lebih lanjut menyampaikan duka atas wafatnya Khamenei. “Kita kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” tulis pernyataan yang dimuat Fars.
“IRGC akan berdiri teguh dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” lanjutnya.
Sebelumnya, dikutip dari New York Times, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama di kompleks tersebut dalam kondisi hancur total usai serangan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026).
Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah. (*)