TRIBUNNEWS.COM - Sebagian besar rakyat Amerika Serikat (AS) kontra dengan serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Meski Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini sebagai kemenangan besar melawan "kejahatan", mayoritas rakyatnya menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap eskalasi militer tersebut.
Hasil jejak pendapat terbaru yang dirilis oleh Reuters/Ipsos, hari ini, Minggu (1/3/2026), waktu setempat, menunjukkan bahwa publik Amerika sangat khawatir melihat kecenderungan Trump menggunakan kekuatan militer.
Baca juga: Rudal Iran Paksa Para Pejabat Israel Sembunyi, Netanyahu: Hari yang Menyakitkan
Berdasarkan survei yang melibatkan 1.282 orang dewasa di seluruh penjuru AS, hanya sebagian kecil warga yang mendukung operasi gabungan AS-Israel tersebut.
Kategori Respons serangan AS terhadap Iran:
Lebih jauh lagi, sekitar 56% warga AS berpandangan bahwa Presiden Trump terlalu "ringan tangan" atau terlalu bersedia menggunakan kekuatan militer demi memajukan kepentingan AS di luar negeri.
Sentimen ini tidak hanya datang dari kubu lawan politik, tapi juga mulai merambah ke internal partai Republik yang mengusung Trump:
Reaksi keras juga datang dari Capitol Hill atau gedung parlemen AS di Washington.
Para politisi Republik memberikan dukungan penuh atas keputusan Trump. Sementara Demokrat melontarkan kritik pedas mengenai legalitas dan strategi jangka panjang.
Ketua DPR AS Mike Johnson menyatakan bahwa Iran kini menanggung konsekuensi berat atas tindakan jahat mereka.
Pemimpin Mayoritas Senat John Thune juga memuji langkah Trump.
"Saya mengapresiasi Presiden Trump yang mengambil tindakan untuk menggagalkan ancaman nuklir dan terorisme Iran yang selama ini menolak jalur diplomasi," ujar Thune.
Sebaliknya, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyesalkan kegagalan Trump untuk meminta otorisasi dari Kongres sebelum meluncurkan serangan masif.
"Keputusan presiden meninggalkan diplomasi telah membuat pasukan AS rentan terhadap aksi balas dendam," katanya.
Senator senior Chuck Schumer bahkan menyebut tindakan Trump sebagai siklus kemarahan yang tidak memiliki strategi jelas.
Sementara itu, kelompok progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) melabeli serangan ini sebagai tindakan inkonstitusional.
"Perang Trump–Netanyahu ini melanggar hukum internasional dan membahayakan nyawa pasukan kita. Kongres harus segera meloloskan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution)," tegas Bernie Sanders.
(Reuters/ Aljazeera/ Times of Israel)