Puasa dan Metode Belajar 'Learning by Doing'
Sirtupillaili March 02, 2026 06:19 AM

Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si 
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram


Salah satu metode belajar yang hingga saat ini dianggap efektif adalah metode learning by doing (belajar sambil dipraktikkan) yang dirumuskan oleh John Dewey (1859), filsuf asal Amerika, penganut aliran pragmatisme yang belakangan tertarik dengan kajian psikologi pendidikan. Dewey merekomendasikan cara belajar sambil praktek, dimana peserta didik diminta untuk melaksanakan sesuatu kemudian memberi refleksi dan mengambil pelajaran dari apa yang dikerjakannya. 

Peserta didik mampu memahami materi pelajaran yang diberikan karena metode ini mampu meningkatkan retensi, keterampilan, motivasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kerjasama, komunikasi, dan kemandirian. Dengan demikian, metode belajar learning by doing dapat menjadi suatu pendekatan belajar yang efektif untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik.
 
Puasa yang kita lakukan adalah bentuk metode belajar yang memiliki esensi makna dan paraktik yang sama dengan metode belajar learning by doing. Lewat belajar sambil mempraktekkan puasa, kaum Muslim dapat merefleksikan diri dan belajar tentang pentingnya empati dan kepedulian sosial. Tuhan tidak cukup dengan menganjurkan lewat al Qur’an untuk meminta hambaNya mengasihi fakir miskin, tetapi juga dengan mendesain perintah puasa agar hambaNya merasakan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh fakir miskin. 

Ini adalah cara Tuhan mengajarkan hambaNya untuk mengasah empati dan kepedulian sosial dengan harapan tergerak hati dan aksinya untuk membantu hamba Allah lainnya yang masih miskin. Ritual puasa benar-benar proses belajar lewat pengalaman melaksanakan ibadah sehingga langsung memberi kesan dan pelajaran kepada setiap umat yang melaksanakan puasa.
 
Praktik ibadah puasa jauh lebih awal dibanding diimplementasikannya teori belajar learning by doing. Jika John Dewey menggagas teori dan metode belajar tersebut sekira awal tahun 1900 an, ternyata ajaran Islam sejak jauh hari telah memiliki konsep pembelajaran learning by doing lewat ibadah puasa. Sebagaimana diketahui, ibadah puasa Ramadan pertama kali dilaksanakan Nabi di tahun kedua Hijriah atau pada tahun 625 Masehi. Berarti 1275 tahun sebelum John Dewey menemukan metode belajar learning by doing, ternyata umat Islam telah mengimplementasikan esensi teori tersebut lewat ibadah puasa. 
 
Pelajaran empati dan kepedulian sosial lewat ibadah puasa juga memiliki keterkaitan dengan peringatan Tuhan pada ayat-ayatNya. Tuhan memberi peringatan keras bagi hamba-hambaNya yang tidak peduli dengan nasib anak yatim, seperti secara eksplisit tertuang dalam tiga ayat pertama dari Surat Al-Mau’un: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin”. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa ajaran Islam konsisten dan sangat peduli dengan nasib anak yatim dan fakir miskin. 

Islam tidak hanya mengajarkan sikap empati dan peduli lewat praktik ibadah puasa tapi juga menegaskan kembali dalam ayat-ayatNya yang lain. Nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial dari parktik ibadah puasa harus bermuara pada aksi sedekah atau santunan pada saudara  kita yang masih miskin. 

Baca juga: Puasa dan Komunikasi Sebagai Nutrisi Jiwa Raga

 Dari segi konsep ajaran, Islam memiliki anjuran yang paripurna tentang empati, kepedulian sosial, infak, zakat, dan sedekah. Namun tidak ada jaminan perintah tersebut dilaksanakan secara maksimal oleh umat Islam. Sebagai bukti, jika semua umat Islam yang telah lulus dalam proses belajar learning by doing lewat ibadah puasa memiliki kepedulian pada anak yatim dan fakir miskin maka angka kemiskinan di setiap wilayah yang didiami oleh mayoritas Muslim tidak akan tinggi. 

Daerah-daerah mayoritas Muslim seperti di NTB tidak seharusnya banyak warga miskin bila setiap kita sesama Muslim mempraktekkan sedekah sebagaimana anjuran dan pelajaran lewat puasa yang kita lakukan. Data BPS menunjukkan bahwa 11,38 persen penduduk NTB di tahun 2025 masih tergolong miskin. Angka ini melampaui rata-rata data kemiskinan di tingkat nasional yang hanya sekira 8,25 % pada bulan dan tahun yang sama (Maret 2025). 

Data ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi kita karena ajaran agama masih di letakkan sebatas perintah “langit” sehingga tidak mampu menyelesaikan banyak persoalan di bumi. Saatnya mencari cara terbaik dan efektif untuk menjadikan sedekah sebagai aksi massal yang dimulai dari anak-anak usia dini agar karakter kepedulian sosial terbentuk sejak awal.

Kepedulian sosial dan kesediaan berbagi seperti ajaran puasa sejatinya dijadikan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang diajarkan pada anak di usia dini atau pada pendidikan dasar agar kepedulian sosial menjadi bagian dari gaya hidup anak bangsa. Jangan sampai pengalaman “buruk” perilaku pelit beberapa santri di salah satu pondok pesantren yang ada di daeah kita terulang. 

Salah seorang kawan saya bercerita tentang pengalamannya di dua tempat yang berbeda. Setelah pulang dari Australia, dia bercerita kalau anak-anak TK di negara tersebut diajarkan untuk membawa makanan kesukaaanya dalam jumlah yang lebih untuk dibagi ke teman kelasnya. Setelah kawan tersebut balik ke Indonesia, dia mengunjungi pondok pesantren. Di pondok tersebut, diceritakan oleh pimpinan pondok kalau kamar mandi dan toilet di pondoknya kotor dan banyak sampah sisa makanan. 

Penyebabnya karena anak-nak pondok selalu makan jajan di kamar mandi karena takut makanannya diminta oleh kawannya. Cerita ini menunjukkan dua kondisi yang kontras. Di negara sekuler, anaknya dermawan dan peduli sosial, sementara di pondok tempat diajarkan surat Al-Mau’un, santri-santri-nya pelit dan tidak mau berbagi. 

Mengajarkan anak berpuasa harus sepaket dengan mengajarkan mereka peduli dan empati pada sesama. Semoga kita yang sudah belajar dengan metode learning by doing selama berpuasa bisa menjadi bagian dari solusi (problem solver) terhadap rantai kemiskinan yang masih tinggi di daerah kita. Kita sama-sama berkomitmen untuk membangun tradisi atau gerakan sedekah pasca Ramadan. Semoga…

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.