Setelah Baraccung, Anak-anak Makassar Baku Tembak-tembak Perangi Kelelahan dengan Peluru Gel: Asyik!
AS Kambie March 02, 2026 08:05 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Takbiratul Ihram Shalat Subuh di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, Jalan Daeng Tata IV Parangtambung, Senin pagi, 2 Maret 2026, diikuti dua setengah shaf jamaah laki-laki. Plus empat di shaf perempuan.

Hari ke-22 Ramadhan 1447 H. Cuaca adem. Tak ada hujan tak ada angin. Yang ada hanya udara segar menyelimuti Komplek Griya Tata Asri, Villa Tata Asri, Gading Tata Asri, dan sepanjang 400-an meter Jalan Daeng Tata IV.  

Setelah Ustad Suardi Palasa memaling wajah ke kanan dan ke kiri seraya mengucap “Assalamu Alaikum Wa rahmatullah” dengan irama khasnya, tiga dari 7 pria di shat ke empat berdiri menuntaskan rakaat.  

Seorang remaja tersenyum ke arah rekan seremajanya yang juga masbuk. Mereka saling memahami, tanpa kata.

Senyap. Suara anak-anak hanya sesekali. Itu pun dengan maksud berbisik-bisik. Ada yang mengatur siasat. Ada yang memberi kode melanjutkan permainan. Ada memberi isyarat agar bermain sebentar sore sepulang sekolah.

Ceramah malam ke-12 diisi Ustad Abubakar Ali. MC-nya Faika Nurhusna, mahasiswi Universitas Islam Alauddin Makassar. 

Penceramah mengingatkan bahwa “kompetisi itqun minannaar Ramadhan 1447 Hijriah” sudah memasuki babak penyisihan.

“Sudah mulai berguguran pesertanya. Kita yang masih tersisa harus terus berjuang hingga final dan menjadi juara,” kata Ustad Abubakar Ali. 

Pelaksanaan Shalat Tarawih dan Shalat Witir berakhir persis pada pukul 21.05 wita.

“Pas-pas ini. Tidak buru-buru, juga tidak panjang-panjang,” bisik Ketua Pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh, Dr M Basri Gaffar.

Satu per satu jamaah dewasa meninggalkan ruang utama. Di saat yang sama, suara anak-anak mulai mendominasi. Telapak kaki kecil menginjak karpet. Pintu teras dibuka keras. Ada suara jatuh, lalu letusan peluru wel. Sesekali terdengar bunyi kokang senapan mainan.

Anak-anak berlarian di sela orang dewasa yang bergerak pulang ke rumah. Tubuh-tubuh kecil itu saling memburu. Baku tembak berlanjut. Laksana perang kota di teras masjid.

Anak-anak larut dalam permainan.Orang tua memilih fokus cepat kembali ke rumah.

Sementara dalam ruang utama masjid, Basri Gaffar sudah dikerumuni beberapa pengurus. Ustad Abubakar Ali sudah pamit, setelah mencicipi brownies “sisa buka puasa”.

“Bagaimana kalau lomba MC diganti lomba Tadarus, Pak,” kata Faika Nurhusna, yang juga Ketua Panitia Lomba Amaliah Ramadhan 1447H Masjid HM Takdir Hasan Saleh. Dia didampingi Sekretaris Panitia Andi Alvisyahri Nilam Kusuma dan Bendahara Mutia Salsabila.

“Betul, Pak. Belum ada yang mendaftar lomba MC,” ujar Alvi. Mutia tersenyum mengangguk. 

Sekretaris Pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh, Andi Arwijaya, menjura. Mansur membersihkan dan merapikan “sisa buka puasa” di atas karpet. Adri datang membawa dua kotak amal.  Mansur dan Adri segera menghitung isi dua kotak amal.

Mutia, Alvi, dan Fika duduk melingkar terpisah di tengah ruang utama masjid. Mereka sesekali memperhatikan kertas-kertas di lantai. Ada desain lomba. Ada proposal kegiatan.

“Mantaf, proposal ini aman. Saya setuju,” kata Basri Gaffar menyetujui anggaran yang ditawarkan panitia lomba.

“Bagaimana, Pak bendahara,” ujar Basri ke Fajar Arwadi. 

“Aman, Pak,” seru Dr Fajar Arwadi MSc. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika UNM ini adalah Bendahara Pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh. Dia juga Ketua Amaliah Ramadhan 1447H di masjid ini.

Mereka beranjak keluar. Teras masjid masih dijejali anak-anak. Berlari. Merayap. Merunduk. Bersembunyi. Perang sedang berkecamuk di teras masjid. Sesekali terdengar letusan peluru gel. 

Sesuatu yang Hadir di Makassar

Yang dirindukan psikolog dan sosiolog Amerika, Jonathan Haidt, kini hadir di Makassar. Kesibukan anak-anak dan remaja main tembak-tembakan peluru gel, di sela ceramah tarawih, sambil menunggu waktu buka puasa, atau setelah shalat subuh, benar-benar sesuatu banget. Sesuatu yang sangat diimpikan Haidt.

Betapa tidak. Situasi seperti inilah yang disebut Haidt sebagai sangat langka dan mahal bagi anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha. Aanak-anak yang benar-benar bermain. Anak-abak yang bebas dari kesibukan scrolling. 

Dalam bukunya, The Anxious Generation, Haidt menggambarkan betapa masa kanak-kanak modern telah diretas oleh teknologi. Dunia bermain yang dulu berbasis tubuh, risiko, dan relasi sosial diganti oleh dunia layar yang aman secara fisik, tetapi rapuh secara mental. Anak-anak tidak lagi jatuh, tetapi cemas. Tidak lagi memar, tetapi takut. Tidak lagi bertengkar, tetapi kesepian.

Yang dipertontonkan anak-anak Makassar pada dunia dalam Ramadhan 1447 H ini solusinya. Yang  terjadi di gang-gang Makassar dalam Ramadhan 2026 ini, seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya, adalah anomali yang menyejukkan. Anak-anak kembali ribut. Kembali gaduh. Kembali “mengganggu”. Tetapi justru di situlah kehidupan bekerja. Di situlah penyelamatan berjalan. Di situlah gim sesungguhnya bersemi.

Bermain sebagai Kemewahan Sosial

Haidt menyebut bermain bebas hari ini sebagai sebuah kemewahan sosial. Luxury experience. 

Sesuatu yang dulu murah dan alami, kini menjadi langka dan mahal. Ironisnya, justru anak-anak di lorong dan di kampung, bukan di ruang-ruang elite, yang masih bisa mengaksesnya.

Permainan tembak-tembakan peluru wel itu sederhana. Tidak canggih. Tidak high resolution. Tetapi ia memenuhi semua syarat yang oleh Haidt dianggap krusial bagi kesehatan mental anak. Ada kebebasan. Ada risiko kecil. Ada interaksi langsung. Ada aturan yang dinegosiasikan. Dan ada konsekuensi nyata.

Anak-anak belajar mengatur jarak, belajar marah lalu berdamai, belajar kalah tanpa uninstall, dan belajar menang tanpa screenshot. Mereka tidak sedang membangun personal branding, tetapi membangun daya tahan jiwa.

Ramadhan menyediakan konteks ideal bagi ini semua. Waktu melambat. Tekanan akademik menurun. Ritme sosial berubah. Anak-anak tidak sedang dikejar produktivitas. Mereka dibiarkan “menganggur”. Dan justru di situlah mereka berkembang.

Lelah yang Salah Alamat

Dalam The Burnout Society, Byung-Chul Han menjelaskan bahwa masyarakat modern bukan lagi masyarakat disiplin. Mereka masyarakat kelelahan. Kita tidak lagi dipaksa, tetapi terus memaksa diri. Kita lelah karena harus selalu aktif, responsif, dan eksis.

Anak-anak tidak luput dari logika dan tekanan itu. Mereka lelah oleh rangsangan, bukan oleh gerak. Anak-anak lelah karena terlalu banyak menerima, bukan karena bergerak dan mencoba. Mereka kelelahan, padahal tubuhnya nyaris tak pernah benar-benar dipakai.

Permainan tembak-tembakan di Makassar menarik karena mengoreksi arah kelelahan. Anak-anak pulang capek, berkeringat, ngos-ngosan. Tidur mereka pun nyenyak. Bukan kelelahan yang menggerogoti, melainkan kelelahan yang menyehatkan dan memulihkan.

Byung-Chul Han mengkritik dunia yang terlalu positif, terlalu aman, terlalu steril. Dunia anak-anak hari ini seringkali persis seperti itu: aman tapi hampa. Permainan fisik yang gaduh ini, betapapun berisiknya, justru mengembalikan negativitas yang dibutuhkan manusia untuk menjadi manusia: gagal, kena, jatuh, dan bangkit.

Han menyebut pengalaman dasar atau pengalaman hidup yang nyata dan pengalaman esensial sebagai pengalaman negativitas: Negativiti. Pengalaman hidup negativitas anak-anak adalah sakit, tertawa, gagal, kena, jatuh, lalu bangkit.

Ramadhan yang Memadatkan Dunia

Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai Liquid Modernity. Zaman cair, tanpa pegangan, tanpa kepastian. Segalanya sementara. Segalanya bisa diganti. Bahkan pertemanan dan identitas.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang cair sejak dini. Ruang bermain cair. Waktu cair. Relasi cair. Tidak ada yang benar-benar menetap. Yang stabil justru hanya layar.

Ramadhan bekerja sebaliknya. Ia memadatkan dunia. Waktu punya batas: imsak, maghrib, tarawih. Ruang punya makna: masjid, gang, rumah. Aktivitas punya ritme. Dan di sela kepadatan inilah, permainan anak-anak menemukan tempatnya.

Tembak-tembakan peluru gel menjadi semacam anchor sosial: pijakan dan penanda sosial anak-anak. 

Baku tembak-tembak peluru gel anak Parangtambung dan anak Makassar itu menambatkan anak-anak pada ruang dan waktu yang nyata. Gang kembali menjadi dunia. Sore kembali menjadi sore. Subuh kembali menjadi momen kebersamaan, bukan sekadar alarm.

Itulah pelajaran paling penting dari Ramadhan di Makassar kali ini. Bahwa krisis mental anak tidak selalu disembuhkan dengan terapi individual. Krisis mental anak-anak harus disembuhkan dengan memulihkan dunia sosial tempat mereka tumbuh.

Dan mungkin, tanpa sadar, anak-anak itu sedang mengajari kita semua. Pelajaran di tengah anxious generation, burnout society, dan liquid modernity tentang banyak hal yang kita lupa. Terutama tentang bagaimana rasanya hidup sepenuhnya di dunia nyata. Justeru pada anak-anak itulah kita harusnya belajar.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.